Terlanjur Mencintai Mantan

Terlanjur Mencintai Mantan
Kecemburuan melanda hati


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, hanya Syakila yang masih tertinggal dalam bayangan tentang Rifki.


Ia berbaring di atas kasurnya yang entah mengapa terasa begitu nyaman, ingatannya tak pernah lepas dari kejadian waktu di dalam rumah hantu.


Sesekali Ia tersenyum malu dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Syakila memasuki kelas, Ia mendapati Nadia sudah berada di kursinya, Nadia dengan santai melambaikan tangannya.


Syakila masih sedikit kesal pada Nadia, tapi hari ini Ia tak ingin merusak moodnya dengan menyimpan kemarahan pada orang lain, apa lagi Nadia adalah temannya.


"Sorry..."


Syakila hanya tersenyum tipis, sambil meletakkan tasnya di atas meja.


"Kamu marah ya sama Saya?"


"Siapa bilang Saya marah"


"Kok jawabnya ketus gitu"


"Nggak Marah kok sayang"


Syakila menunjukkan ekspresi imutnya pada Nadia.


"Rifki kok belum datang ya"


Nadia melirik ke arah kursi paling belakang, tempat dimana Rifki duduk.


Syakila ikut melirik ke arah yang sama.


"Saya mau curhat sama kamu"


"Curhat tentang apa?"


"Semalam Saya menghubungi Rifki, tapi kok nggak ada yang angkat teleponnya, padahal udah berkali-kali loh Saya menghubunginya"


Syakila membatin,


"Gimana mau di angkat Dia semalam sedang bersama saya di rumah hantu"


"Jadi kamu yang ambil kertas itu di laci meja saya?"


"he...he..iya, Kamu mau juga nomornya?"


"Nggah deh, buat kamu aja"


"Beneran?"

__ADS_1


"Iya...Nadia..."


Syakila sedikit ragu melanjutkan ucapannya, sebanarnya Ia ingin bertanya apakah Nadia naksir dengan Rifki.


Pertanyaan itu malah di ajukan oleh Nadia kepada Syakila


"Syakila, Kamu naksir ya sama Rifki?"


Syakila bingung harus menjawab apa, sejujurnya Ia suka sama Rifki, tapi Ia gengsi mengakuinya.


"Biasa aja"


Nadia tersenyum mendengar jawaban Syakila.


Pengumuman...


Semua Siswa dan Siswi berkempul di lapangan.


Seorang Guru memberikan informasi.


Syakila dan Nadia menuju lapangan, ternyata lapangan sudah mulai di penuhi Siswa-Siswi lain.


Mereka di intruksikan agar berbaris menurut kelasnya masing-masing, seorang Guru berdiri di dihadapan mereka dengan memegang mic.


Awalnya Ia memperkenalkan diri sebagai Kepala Sekolah, dan Ia menyambut Siswa-Siswi tahun ajaran baru.


Kemudian barisan dibubarkan, Syakila dan Nadia kembali kedalam kelas.


Andi menghampiri Syakila,


"Hai Syakila, kamu mau ikut lomba apa?"


"Belum tau, kalau Kamu mau ikut lomba apa?"


"Belum tau juga"


Tiba-tiba Nadia nimbrung


"Eh...Cupu, Rifki mana?"


Andi melirik Nadia dengan tatapan yang sinis.


"Kamu nanyak, Kamu bertanya-tanya?"


"Hu...dasar Cupu, di tanyain bukannya jawab malah nanyak balik"


"Eh...udah jangan bertengkar"

__ADS_1


Syakila menarik tangan Nadia ke meja mereka.


Syakila membatin


"Bener juga, dari tadi Rifki kok nggak ada, apa hari ini Dia absen"


Beberapa saat kemudian


Seseorang memasuki kelas mereka, Seorang Guru laki-laki yang terlihat masih muda, ternyata Guru itu datang bersama Rifki.


Rifki berdiri tepat di samping Guru itu, tampak di wajah Rifki ada beberapa memar di sudut bibirnya.


Guru itu memperkenalkan dirinya


Perkenalkan nama Saya Yudha Wardana, Saya Wali kelas 10 A.


Semua siswa-siswi menyimak ucapan Pak Yudha.


Kemudian Pak Yudha mempersilahkan Rifki agar kembali duduk di kursinya, semua siswa-siswi penasaran apa yang terjadi pada Rifki.


Pak Yudha membuka suara


"Saya tidak suka jika ada Siswa atau Siswi Saya yang sok jago, Saya juga tidak ingin kejadian hari ini terulang kembali, tidak ada lagi Siswa ataupun Siswi Saya yang ketahuan tauran ataupun membully di Sekolah ini"


Pak Yudha membuka absen dan menyebutkan nama kami satu persatu, Pak Yudha juga memilih ketua kelas kami.


Andi terpilih menjadi ketua kelas, Nadia sebagai bendahara dan Syakila sebagai sekertaris.


Pak Yudha juga meintruksikan agar besok kami menyiapkan perlengkapan untuk acara besok, berupa topi yang terbuat dari kertas karton beberapa permen dan makanan ringan.


Pak Yudha memberikan catatan pada Syakila dan menyuruh Syakila menuliskan catatan itu di papan tulis agar yang lain juga bisa mencatat, kemudian Pak Yudha meninggalkan kelas.


Setelah selesai Syakila kembali ke kursinya.


Nadia sudah berada di meja Rifki, sepertinya mereka sedang ngobrol-ngobrol serius.


Terlihat Nadia memegangi luka di wajah Rifki, Andi yang melihat tingkah Nadia merasa risih dan menyindirnya.


"Lebay..."


Nadia tak memperdulikan sindiran Andi.


Rifki menatap Syakila yang dari tadi memperhatikan mereka, Syakila sedikit kesal melihat Nadia yang kecentilan kepada Rifki, tampak Rifki menjadi tak nyaman dengan tindakan Nadia, apa lagi saat itu Syakila sedang memperhatikan mereka.


Syakila memalingkan wajah, perasaannya saat itu tidak baik-baik saja, Ia sedikit cemburu melihat kedekatan Rifki dan Nadia.


"Apa yang terjadi dengan Saya, kenapa Saya merasa sesakit ini"

__ADS_1


__ADS_2