Terlanjur Mencintai Mantan

Terlanjur Mencintai Mantan
Ketakutan Syakila


__ADS_3

Suasana pagi ini sangat cerah, matahari mulai muncul memancarkan cahaya keemasan.


Syakila merasa sangat bersemangat menyambut pagi, Ia ingin segera tiba di Sekolah.


Seperti biasa sebelum berangkat Ia bercermin sambil merapikan seragam sekolah, kemudian Ia berpamitan pada Papa, berhubung Mama belum pulang dan Rio masih menginap di rumah Tante Dona.


Dari ujung jalan Syakila dapat melihat Nadia sudah hampir sampai di gerbang Sekolah, Syakila mempercepat langkahnya agar bisa menyusul Nadia,


Hari ini Nadia terlihat ceria, Gadis itu dengan cepat menggandeng lengan Syakila, mereka berjalan menuju kelas.


Saat mereka hampir sampai ke kelas, Syakila meresa ingin ke toilet, Ia menyuruh Nadia agar pergi ke kelas diluan saja.


Syakila memasuki toilet, aura menyeramkan membuat bulu kuduknya merinding, rapi Ia sudah tak bisa lagi menahan diri untuk buang air kecil, setelah selesai Ia buru-buru mencuci tangan di westafel.


Dan saat Ia berjalan menuju pintu toilet, ternyata pintu itu tertutup rapat, Syakila berulang kali memutar gagang kunci, tapi pintu itu telah terkunci.


Seketika perasaan cemas menyelimuti dirinya, ke gelisahan menghantui dirinya, Ia memandang ke penjuru ruangan yang kosong, terlihat sepi dan menyeramkan.


Ia mencoba menggedor-gedor pintu dan berharap seseorang mendengarnya dan mau menolongnya.


Sejak dulu Syakila memang penakut, Ia tak bisa berada di tempat-tempat yang menyeramkan.


Syakila berteriak minta tolong, namun tak ada yang mendengarnya, Ia sudah sangat ketakutan, dengan sisa tenaga yang ada, Ia mencoba mendobrak pintu yang ada di hadapannya, sampai-sampai tangannya menjadi memar.


"Tolong....."


Syakila menggedor-gedor pintu, berharap seseorang menolongnya, keringat sudah bercucuran dari keningnya, Ia mulai putus asa dan berdoa, agar Nadia menyelamatkannya.


Nadia dengan santai duduk di kursinya, Ia menunggu Syakila yang tak kunjung kembali, Nadia masih berpikir mungkin Syakila memang belum selesai, sampai bel masuk berbunyi Syakika belum juga kembali, Nadia mencari Syakila ke toilet, tapi Ia tak menemukan Syakila, Nadia mulai panik saat menyadari Syakila tak berada di manapun.


Rifki yang menyadari Syakila belum juga hadir, bertanya pada Nadia, apakah Syakila memang tidak Sekolah, Kemudian Nadia bercerita sebenarnya tadi Syakila bersamanya, tapi Ia ke toilet dan sampai sekarang Syakila belum juga kembali.


Rifki yang mendengar penjelasan Nadia semakin panik, Ia tau Syakila Gadis yang penakut, bisa-bisa Ia pingsan atau terjadi hal yang buruk padanya.


Rifki berusaha mencari Syakila ke toilet, di sekolah itu terdapat dua toilet, toilet pertama terletak di depan dan toilet ke dua terletak di belakang Sekolah.

__ADS_1


Sebenarnya toilet belakang itu, jarang di pakai karena sering terjadi hal-hal yang aneh di sana.


Rifki bergegas menuju toilet belakang, Ia melihat pintu toilet itu terkunci, Ia mencoba menggedor-gedor pintu, tapi tak ada jawaban dari dalam toilet, Ia semakin panik dan berusaha mendobrak pintu itu, namun pintu itu belum juga terbuka, sampai keadaan mulai rame di penuhi siswa-siswi yang mendapat berita ada seorang siswi yang terkunci di toilet belakang.


Rifki dan teman-teman yang masih berusaha mendobrak pintu, bahkan Pak Yudha juga ikut membantu dan akhirnya pintu itu terbuka juga, membuat Syakila terpental saat mereka mendorong pintu, sebab Syakila sudah tidak sadarkan diri tergeletak di bawah pintu.


Syakila merasa kesakitan saat tubuhnya terbentur daun pintu, Rifki yang mendapati Syakila sudah terkulai lemas di lantai mengangkat tubuh Gadis itu menuju ruang UKS.


Nadia berlari mengikuti Rifki raut wajahnya cemas, Ia memanggil-manggil Syakila agar Gadis itu segera sadar.


Rifki membaringkan Syakila, petugas kesehatan segera memeriksa keadaan Syakila, Gadis itu perlahan mulai sadar, wajahnya terlihat pucat, masih ada sisa rasa takut di dalam dirinya.


Rifki mengenggam erat tangan Syakila, Ia merasakan dinginnya tangan Syakila, Ia membayangkan betapa takutnya Gadis itu saat Ia terkunci di toilet.


Guru yang bertugas memberikan segelas teh hangat dan mengobati memar yang ada di tangan Syakila.


Syakila meringis kesakitan saat Guru itu menyentuh memar Syakila yang mulai membiru, Rifki memejamkan matanya, Ia tak bisa melihat Syakila meringis kesakitan, seolah rasa sakit dapat di rasakannya.


"Kamu istirahat saja"


Guru itu berucap


"Rifki terdiam , Ia hanya memandangi wajah Syakila yang masih terlihat ketakutan.


Syakila menatap ke arah Rifki, Ia memandangi wajah Rifki yang terlihat sangat mencemaskannya.


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Iya, saya baik-baik saja"


Ia mulai bisa tersenyum pada Rifki.


"Kamu Istirahat saja, saya akan di sini menunggu kamu"


"Maaf sudah merepotkan, saya tidak pa pa kok"

__ADS_1


Kemudian Rifki menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Syakila kecuali wajahnya dan Syakila mulai memejamkan matanya.


Tiba-tuba Syakila terbayang bagaimana ketakutannya Ia saat berada di dalam toilet menyeramkan itu, tak terasa air mata jatuh dari sudut matanya.


Hal itu membuat Rifki semakin cemas, Ia tak tahan melihat Syakila kesakitan.


Rifki menghapus air mata Syakila dengan jarinya kemudian mengelus lembut ujung kepala Syakila.


Gadis itu merasa sangat nyaman dan Ia mulai terlelap.


Saat jam istirahat Pak Yudha mendatangi ruang UKS, Ia ingin melihat langsung keadaan Syakila, Ia membawa jus untuk Syakila agar Gadis itu cepat pulih.


Mengawasi Syakila agar Gadis itu menghabiskan jus jeruk itu.


Syakila akhirnya sudah mulai tenang, Ia berterimakasih pada Rifki dan Pak Yudha yang sudah merawat dan begitu perhatian padanya.


Pak Yudha menyarankan agar Syakila beristirahat saja di rumah, Ia menugaskan Rifki untuk mengantar Syakila ke rumahnya dengan menggunakan sepeda motornya.


Kebetulan hari ini Pak Yudha masih ada jadwal mengajar di kelas lain.


Yudha memberikan kunci sepeda motornya kepada Rifki, tak lupa Ia mengingatkan agar Rifki berhati-hati.


Rifki mengendarai sepeda motor dengan kecepatan lambat, Ia dapat melihat wajah Syakila dari kaca sepion, Gadis itu diam dan wajahnya masih terluhat sayu.


Rifki menyarankan agar Syakila memeluknya, Ia tai ingin Gadis itu terjatuh, apalagi denga posisi duduk Syakila yang menyamping.


Syakila menuruti perintah Rifki dengan wajah yang datar Syakila menyandarkan wajahnya di pundak Rifki.


Sontak hal itu membuat Rifki semakin berdebar, Ia tak bisa menguasai perasaan bahagianya saat Syakila menyentuh tubuhnya.


Sedangkan Syakila saat itu hanya merasa lelah dan butuh sandaran dari seseorang yang Ia sayanginya.


"Jangan takut, saya ada di sini untuk selalu menjaga kamu"


Rifki membatin.

__ADS_1


Tak terasa akhirnya mereka sampai di depan rumah Syakila, keadaan rumah Syakila saat itu sepi, Ia mengambil kunci dari tas sekolah dan membuka pintu rumah, Syakila memasuki rumah sedangkan Rifki masih menunggu di depan gerbang memastikan Syakila sudah masuk ke dalam rumah.


Rifki menghidupkan sepeda motornya dan meninggalkan tempat itu.


__ADS_2