
"Kita mau kemana?"
Rifki menarik tangan Syakila, meletakkan tangan Syakila di pinggangnya sehingga membentuk lingkaran.
"Saya ingin memberikan kejutan untuk kamu"
Syakila menatap dalam wajah Rifki, Ia mencari tau jawaban itu sendiri dari raut wajah Rifki.
Rifki tersenyum gemas saat mata mereka saling beradu, ada perasaan cinta yang begitu dalam dari tatapan gadis cantik yang ada dihadapannya.
Di hamparan pantai yang biru, di atas pasir putih yang lembut, Rifki memberi kecupan di kening Syakila, gadis itu benar-benar gugup, seketika wajahnya memerah, Ia merasa malu dan melepaskan pelukan Rifki.
Rifki menatap Syakila, Ia tau Syakila sedang malu, gadis itu tak berani menatapnya lagi.
Kemudian Rifki memeluk tubuh Syakila dari belakang dan menyandarkan dagu di atas pundak Syakila dengan lembut.
"Kamu sedang malu ya?"
Syakila memejamkan mata, Ia masih menahan nafas agar Ia bisa mengurangi rasa gugupnya di hadapan Rifki.
Kemudian Rifki memberikan sesuatu di tangan Syakila,
sebuah kotak kecil dari saku celananya
"Apa ini?"
"Sebuah hadiah untuk seorang yang special"
Syakila membuka kotak berwarna putih itu, ternyata isinya sebuah kalung yang sangat cantik.
Syakila menutup kotak itu.
"Ini terlalu berlebihan, saya nggak bisa menerimanya"
"Jika kamu merasa saya berarti di dalam hidup mu, tolong terima, jika tidak..."
Syakila menghentikan ucapan Rifki dengan menutup mulutnya dengan jari telunjuknya.
Kemudian Ia mengisyaratkan agar Rifki memakaikan kalung itu di lehernya.
Secara berlahan Rifki mengangkat rambut hitam lembut Syakila, memakaikan kalung di leher putih dan mulus itu, sehingga membuatnya semakin terlihat cantik.
"I LOVE YOU"
Bisik Rifki di telinga Syakila, sehingga gadis itu semakin berdebar.
Rifki menghadap ke arah Syakila, begitu terpesona menatap gadis itu, kemudian Ia membelai wajah lembut Syakila sehingga membuat gadis itu memejamkan matanya.
Ia menarik dagu gadis itu semakin dekat padanya, mencium kening dengan lembut, mencium kedua mata gadis itu dengan lembut.
Debaran di hati mereka semakin berpacu saat ke dua bibir mereka semakin mendekat.
"Kak...Bangun...."
Seseorang menarik hidung Syakila sehingga Ia merasa sesak.
Perlahan Syakila membuka matanya dan mendapati Rio sedang menarik hidungnya.
"Auch...sakit, Rio"
"Kakak kenapa, kok mulut Kakak di majuin"
Syakila terdiam sejenak, Ia masih mengumpulkan nyawa untuk memahami situasi yang baru saja Ia alami.
Ternyata Dia sedang bermimpi, Ia terlalu bersemangat ingin bertemu Rifki, sampai-sampai Ia bermimpi yang aneh-aneh.
Syakila bergegas bangun dari tempat tidurnya, Ia mengambil handuk dan bersiap mandi.
Kemudian Rio meninggalkan kamar Syakila, Ia kebingungan sendiri melihat tingkah Kakaknya itu.
__ADS_1
Syakila duduk di kursinya, menunggu Nadia, Kemudian Rifki menghampirinya membuat Syakila semakin berdebar, Ia teringat mimpinya,
"Hampir saja"
Syakila menatap bibir Rifki yang merah, kemudian Ia seperti merasakan tenggorokannya kering sehingga Ia menelan salivanya.
"Kamu kenapa?"
Rifki merasa heran melihat Syakila bertingkah aneh.
"Nggak pa pa, cuma haus aja"
"Ntar pulang Sekolah jadi kan?"
Deg...
Syakila membayangkan mimpinya, sejujurnya Ia berharap semua itu menjadi nyata.
"I...iya"
"Kamu sakit?"
Rifki memeriksa dengan menyentuh kening Syakila.
Tiba-tiba Nadia sudah berdiri di hadapan Rifki.
"Hei...kalian ngapaen?"
Seketika Rifki dan Syakila menghentikan aktivitas mereka.
"Nadia...Kamu sudah sembuh?"
Syakila mengalihkan pembicaraan agar Nadia tak berusaha mencari tau.
"Sudah, kalian pacaran ya?"
Rifki pamit pindah ke belakang ke tempat duduknya, Ia meninggalkan Syakila menghadapi ke kepoan Nadia.
"Nggak kok, kami nggak pacaran"
"Tapi kalian terlihat seperti sedang pacaran loh"
"Ia kami bukan pacaran, tapi kami sudah tunangan"
Syakila membatin.
Syakila teingat ucapan Papa agar merahasiakan hubungan mereka di Sekolah, sebab jika ada yang tau mereka sudah bertunangan, bisa-bisa mereka di keluarkan dari Sekolah.
Pak Yudha memasuki kelas, memberikan materi pelajaran agar mereka mencatat semua rumus-rumus fisika, sebab Ia akan memberikan tugas kepada semua murid.
Pak Yudha mendekati bangku Syakila dan menyapa gadis itu.
Syakila membalas Pak Yudha dengan senyuman, kemudian Pak Yudha memberikan catatan kepada Syakila agar gadis itu mencatat di papan tulis.
Syakila melaksanakan tugasnya dengan cepat, dan buru-buru mencatat rumus-rumus di bukunya.
Akhirnya pelajaran Pak Yudha selesai, mereka merasa lega, ternyata Pak Yudha cukup tegas dalam mengajar, terlihat tak ada murid yang ribut saat jam pelajaran Pak Yudha.
Rifki mengantar Syakila pulang ke rumah, Ia mendapati Rio sudah berdandan rapi.
"Kita jadi pergi kan, Kak?"
Rifki mengelus kepala Rio.
"Jadi dong"
Syakila bergegas mengganti pakaian, setelah itu Ia menghampiri Rifki dan Rio yang sedang asyik ngobrol.
Rifki mengajak Syakila dan Rio makan siang di cafe, setelah itu menonton film di bioskop.
__ADS_1
Syakila merasa bosan, ternyata tak sesuai dengan harapannya, Rifki malah sibuk bermain dengan Rio, Ia bahkan terkesan mengacuhkan Syakila.
Mereka sudah sampai di depan pintu, Rifki menggendong Rio yang sudah tertidur saat di perjalanan, meletakkan Rio di atas kasur secara perlahan.
Syakila berada di sana dengan wajah kesal, saat Rifki mendekatinya Syakila menghindarinya.
"Kamar kamu di mana?"
Syakila tak menjawab pertanyaan Rifki, Ia masih kesal dengannya.
"Om dan Tante belum pulang?"
"Belum, mereka pulang malam"
"Kalau begitu saya langsung pamit pulang saja"
Mendengar ucapan Rifki Syakila bertambah kesal.
"Kamu kenapa?"
"Nggak pa pa"
"Kamu marah sama saya?"
"Nggak kok, saya happy"
"Kita bicara di ruang tamu saja"
Rifki mengajak Syakila duduk di ruang tamu, saat mereka duduk berduaan, seketika mereka membisu, Rifki membuka pembicaraan.
"Saya ingin memberikan ini"
Rifki mengambil sesuatu di saku celananya.
Sebuah kotak berwarna putih, Syakila masih tidak percaya,
"Ini persis seperti di mimpi saya, kotak putih"
Pikirnya.
"Mungkin isinya berbeda"
Syakila membatin.
Rifki membuka kotak itu dan memperlihatkan isinya, yang ternyata sebuah gelang berlian yang berkilau.
Syakila terbengong,
"Saya sedang tidak mimpikan?"
Rifki memakaikan gelang itu ke tangan Syakila, kemudian dengan perlahan mencium lembut tangan Syakila.
"Maafkan Saya sudah mengabaikan kamu dari tadi.
Syakila menatap dalam Rifki, kemudian memeluk Rifki sambil mengucapkan terima kasih.
"I LOVE YOU"
Syakila mencium pipi Rifki
"I LOVE YOU TOO"
Rifki mencium lembut kening Syakila.
"Bagaimana ini, saya jadi nggak ingin pergi, rasanya saya ingin menginap di sini biar bisa bersama kamu terus"
Syakila tersenyum mendengar ucapan Rifki, saat kemudia Rifki menciumnya sehingga Ia sulit bernafas sebab Ia tak berani membalas ciuman itu, Ia hanya terdiam kaku.
Hanya saja saat itu jantungnya seakan ingin meledak, Ia memeluk erat tubuh Rifki menikmati momen romantis itu.
__ADS_1
Rifki mencium gadis itu dengan lembut, membelai rambut gadis itu.
Ini pertama kalinya Ia merasakan gelora yang mengebu-gebu.