
Cinta tak pernah salah di mata sang Pecinta,
Yang salah saat Cinta tapi tak bersama,
Ketika dua orang yang saling mencinta,
Harus terpisah dan mengartikan makna Cinta itu sendiri,
Setiap Cinta adalah bentuk kasih sayang yang di berikan kepada setiap insan dari sang penciptanya.
***
Keadaan Rifki semakin memburuk, Citra tak bisa menunda lagi keberangkatan mereka, Ia tak ingin hal yang buruk menimpa Rifki, wanita itu kembali membujuk Rifki agar mau berangkat secepatnya, Citra tau benar apa yang membuat Rifki berat meninggalkan Indonesia, alasan terbesarnya adalah Syakila.
Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya Rifki pasrah dengan keadaannya, Ia harus segera kembali, Citra hanya bisa memberi waktu selama tiga hari untuk berpamitan kepada semuanya, terutama pada Syakila dan juga teman-teman.
Dalam waktu tiga hari Citra harus menyelesaikan semua urusan, agar kepergian mereka lancar.
Malam itu juga Rifki ingin menemui Syakila, Ia ingin bersama gadis itu, ingin menatapnya selama mungkin dan mengingat wajah gadis itu, bahkan saat Ia melupakan semuanya Ia ingin melukis wajah gadis itu dalam hati dan ingatannya, seolah Ia tak akan pernah bisa lagi melihat gadis itu untuk selamanya, sekali lagi Ia merasakan perpisahan yang menyedihkan dalam hidupnya, Ia juga tak ingin Syakila melihat akhir hidupnya yang menyedihkan, Ia hanya ingin Syakila mengenang hari-hari bahagia bersamanya.
Citra tak bisa menghalangi Rifki, meski dari lubuk hatinya yang paling dalam Ia sangat khawatir dengan keadaan Rifki.
"Ma, biarkan Rifki menemuinya untuk yang terakhir kalinya"
"Tapi sayang, kamu sedang sakit, Mama takut terjadi sesuatu sama kamu, biarkan Mama temani kamu"
__ADS_1
"Ia Ma, Rifki akan menuruti Mama."
Citra mengemudikan mobil dan mengantarkan Rifki ke rumah Syakila, saat mereka sampai di sana, mereka sudah di sambut oleh Syakila dan Mamanya, sebelum berangkat Citra sempat menghubungi mereka.
Citra dan Riska membiarkan Rifki dan Syakila ngobrol di teras rumah sedangkan mereka bicara di ruang tamu.
Citra menjelaskan semuanya kepada Riska, Riska memberi semangat agar Citra selalu optimis dan jangan pernah putus asa.
"Apa perlu memberitahu Syakila?"
"Sebenarnya saya nggak tenang jika harus merahasiakan ini kepada Syakila, tapi Rifki nggak mau Syakila tau, Ia ingin berusaha agar bisa sembuh"
"Suatu saat Syakila pasti juga akan tau, dan saat Ia mengetahui kebenaran itu, saya takut Ia akan marah"
"Menurut Mbak kita harus bagaimana?"
"Saya hanya bisa berterimakasih pada Mbak, jujur situasi ini membuat saya sangat sedih"
"Kamu harus kuat Cit, demi Rifki, saya yakin Ia akan segera sembuh dan kembali berkumpul bersama kita"
"Semoga Mbak, itu yang saya harapkan"
Syakila memandangi wajah Rifki, Pemuda itu tertunduk lemas, tak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya.
Rifki tak sanggup mengatakan jika dalam waktu tiga hari ini Ia akan segera pergi.
__ADS_1
"Rif, ada apa?"
Rifki menatap dalam wajah Syakila, tatapan itu penuh dengan kesedihan, wajahnya begitu sayu membuat Syakila semakin khawatir.
"Plisss jangan diam aja, saya menjadi takut"
"Saya akan pergi dalam waktu tiga hari lagi"
Untuk sejenak Syakila tetegun, Ia seakan membeku, saat ini hatinya terguncang, mengapa Rifki harus pergi secepat ini, bukannya Ia akan pergi dalam waktu satu bulan?
Seketika raut wajah Syakila berubah, Ia terlihat bersedih, Rifki mengenggam jemari Syakila.
"Saya berjanji, saya akan kembali kepadamu, tolong tunggu saya"
Syakila terisak Ia tak bisa membendung air mata kesedihannya,
"Kamu bilang akan pergi satu bulan lagi, kenapa tiba-tiba secepat ini?"
"Maafkan Saya, tak bisa menepati janji, tapi kali ini saya harus pergi"
Syakila mendekat pada Rifki, Ia menyentuh wajah pemuda itu dengan kedua tangannya, Ia merapikan rambut pemuda itu yang hampir menutupi sebagian matanya, Ia ingin menatap mata pemuda itu lebih dalam.
"Saya akan menunggu kamu, kamu jangan khawatirkan saya"
"Terimakasih, mulai besok saya tidak akan ke sekolah, tapi saya akan menemui kamu"
__ADS_1
Entah mengapa perasaan Syakila sangat takut, hatinya gundah namun Ia tak ingin membuat Rifki menjadi khawatir.