Ternyata aku cinta

Ternyata aku cinta
Part 10 - Pria keras kepala


__ADS_3

aku dan Kenzi pindah ngobrol di taman dekat rumah. Kenzie memintaku untuk berbicara empat Mata saja bersamanya.


aku mengikuti semua perkataan Kenzie. aku mencoba untuk menyelesaikan permasalahan ini dengannya. Semua kulakukan hanya untuk berusaha membuat Kenzi mengerti kalau aku tidak ingin pernikahan ini terjadi.


"tidak bisakah kamu kembali pertimbangkan semuanya?"


Kenzie bertanya kepadaku.


"apa yang harus aku pertimbangkan? Aku'kan sudah bicara kepadamu bahwa pernikahan ini tidak akan pernah terjadi."


aku terus memberi penolakan kepada pria itu.


"sekarang dengarkan aku. Apa salahnya kalau kamu menikah denganku lima bulan atau sampai satu saat tahun saja. Setelah itu kamu bisa menggugat cerai aku."


kata-kata yang dilontarkan oleh pria itu begitu membuat aku tercengang.


"jadi pemikiranmu tentang pernikahan hanya sampai di situ saja? tidakkah kamu tahu bahwa pernikahan adalah suatu hal yang sakral?"


Aku benar-benar kesal dengan pria itu. dengan seenaknya saja dia bilang menikah selama 5 bulan atau sampai 1 tahun lamanya lalu setelah itu kami akan berpisah.


sungguh pemikiran yang terlalu instan dan juga terlalu bodoh menurutku. mana ada orang yang mau menikah hanya dalam waktu beberapa bulan lalu menyandang status baru sebagai janda atau duda.


Dia pikir setelah perceraian terjadi hidup akan berjalan sempurna? tidak ada kendala? sumpah aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran dari Kenzi.


"kalau aku harus bagaimana lagi membujukmu Mentari?"


terlihat Kenzi begitu frustasi. Aku sebenarnya merasa iba kepada dirinya. sebenarnya nasib kami sama-sama dijodohkan dan dipaksa untuk menikah oleh kedua orang tua kami atau keluarga kami. semua sebenarnya di luar kehendak kami berdua.


hanya saja aku tidak suka dengan pemikiran Kenzi yang begitu absurd.

__ADS_1


"Ya seharusnya kamu tidak perlu membujukku Kenzie. karena bujuk rayu, seperti apapun


aku tetap pada pendirianku, tidak akan menikah denganmu."


sekali lagi kata-kata penegasan keluar dari mulutku.


"aaaaah!"


Kenzie berteriak frustasi. rasa iba kembali menyerangku. sebenarnya pria ini kenapa sih apa Dia tidak memiliki pacar? apakah pria setampan dia tidak laku? aku yakin banyak gadis yang mengantri untuk menjadi pasangannya.


"Apa kamu tidak punya pacar?" tanyaku yang penasaran.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Kenzie menatap ku lekat. Aku menjadi takut dengan tatapan pria itu. tersirat sedikit kemarahan dari sorot matanya.


aku bicara sampai sedikit melengos darinya.


"aku tidak memiliki pacar."


"kalaupun aku punya. dan keluargaku ingin aku menikahimu. aku akan meninggalkannya. hidupku, aku dedikasikan untuk keluargaku. bagiku. mereka yang terpenting dan harus aku bahagiakan. menikah tanpa cinta bukan hal yang sulit. seiring waktu cinta akan tumbuh dengan sendirinya. apalagi jika ada anak di tengah-tengah pernikahan pastilah akan lebih mudah."


Aku Tertegun dengan apa yang dia bicarakan. bisa-bisanya dia berkata begitu. dia belum merasakan jatuh cinta. sudah pasti tidak tahu rasanya seperti apa meninggalkan orang yang kita sayang.


jawaban yang terlontar dari mulutnya. entah bisa aku percaya atau tidak. wajah tampan, hidup mapan, pastinya dompet tebal. mana mungkin tidak ada wanita di sisinya.


ketika dia bicara seperti itu sebenarnya aku ingin tertawa. hanya saja aku menahannya. Aku tidak mau dia tersinggung dengan ku.


"karena aku punya pacar. jadi aku tidak akan menerimamu. pembicaraan kita selesai sampai di sini. Aku mau pamit Dan aku harap kamu tidak kembali lagi ke rumahku."

__ADS_1


"Tari, Tar."


Kenzie terus memanggil namaku untuk menghentikan langkahku.


aku beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan taman. Aku tak perduli dengannya.


maafkan aku Kenzie. Aku tahu kamu mengkhawatirkan kondisi kakekmu. aku juga tahu sebenarnya kamu mungkin adalah anak yang baik. akan tetapi hati ini tidak bisa menerima semuanya.


cincin yang telah keluargamu berikan. akan aku kembalikan saat pertemuan keluarga nanti.


Selama perjalanan menuju rumah. Aku menyusuri sepanjang jalan dengan perasaan tak menentu.


Satu sisi ada perasaan yang merasa kalau aku adalah orang yang egois. Aku sadar kalau aku lebih ingin bahagia dengan caraku sendiri.


Aku tidak mau hidup yang aku jalani diatur oleh orang lain. Aku ingin hidupku sesuai dengan apa yang aku rencanakan.


Ya Tuhan jika memang Aku begitu sangat egois maafkanlah Aku. Aku hanya ingin bahagia dengan caraku sendiri. Saat ini aku cukup bahagia bersama orang yang aku cintai dan mencintai aku. Aku ingin menghargai hubunganku dengannya. Aku tidak mau hanya karena sebuah perjodohan ini aku harus memutuskan hubunganku dengannya.


Jika aku melakukan hal itu bukan hanya hatiku yang terluka, tapi juga hatinya akan terluka karena kecewa terhadapku.


Tidak ingin aku menaruh kecewa di dalam hatinya. Apakah aku salah jika aku memilihnya dan membantah keinginan keluargaku?


Aku berharap Kenzie mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Aku pun berharap kakeknya bisa lekas sembuh dan melihat kebahagiaan cucunya.


Aku juga berharap keluargaku mau menerima Doni sebagai pacarku dan sebagai bagian dari keluargaku kelak.


Aku juga berharap abah mau menerima dan tidak kecewa dengan keputusanku ini.


Bagiku perjodohan ini hanya menghalangi kebahagiaan yang telah dirancang oleh mereka yang punya rencana masa depan sendiri. Mungkin sebagian orang menerima perjodohan ini karena takut melawan orang tua dan menjadi anak yang durhaka.

__ADS_1


__ADS_2