
Hari ini aku kembali pergi ke kampus. untuk pertama kalinya aku merasa enggan untuk pergi ke sana. kakiku terasa berat untuk melangkah masuk ke dalam gedung yang akan membuatku menjadi seorang sarjana.
"Mentari Kenapa hanya diam saja?" tanya Tami kepadaku.
"Tidak apa-apa Tam. Ayo kita masuk."
Aku pun mulai melangkah masuk melewati pintu gerbang bersama dengan sahabatku.
Saat aku hendak menaiki tangga, seseorang menghadangku.
"Tari aku mau bicara denganmu."
Doni menghampiriku dan menyentuh tanganku.
"Maaf Doni aku ada mata kuliah hari ini. Dan aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi."
Doni dan Tami saling menatapku. Aku memang belum bercerita apapun kepada Tami.
Setelah kepulanganku ke rumah kemarin. Aku langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku di pembaringan.
Rasanya kemarin tubuhku begitu lelah. Hati ini begitu hampa dan kepalaku rasanya pening setelah kejadian kemarin.
"Tari aku mohon jangan seperti ini. Aku mohon dengarkan dulu penjelasanku Mentari."
Doni terus memaksa untuk bisa bicara denganku. Mungkin jika aku meladeninya akan ada berbagai macam alasan untuk dia membohongiku lagi.
Hanya sekali itu saja aku terbohongi olehnya. Aku memang mencintainya, tapi aku bukan wanita yang bodoh untuk mau dibohongi oleh pria yang tidak pernah mencintaiku.
"Doni tolong kalau memang Mentari tidak mau bicara denganmu. Biarkan dia pergi. Aku tidak tahu apa masalah kalian. Namun aku rasa Kamu harus membiarkan Mentari untuk berpikir jika memang kalian sedang ada dalam masalah. Berikan dia waktu untuk menenangkan diri jika memang masalah kalian itu besar."
Sahabatku ini memang sangat pengertian. Tanpa aku membuka suara dan bercerita kepadanya. Kami sudah mengerti dari raut wajahku dan sikapku. Aku senang memiliki seorang sahabat yang selalu mengerti dan pengertian kepadaku.
"Ayo Tari kita masuk ke dalam kelas."
__ADS_1
Kami menarik tanganku dan kami berdua melewati Doni yang masih berdiri di dekat tangga.
Ingin rasanya aku menangis. Atas apa yang telah terjadi kepadaku.
Aku yang selalu yakin kisah cinta ini akan berakhir dengan bahagia. Namun ternyata semua kandas di tengah jalan.
Ketika aku memutuskan untuk berpacaran dengan Dali ingin mengenal lebih dekat calon pasanganku dan berharap berakhir di pelaminan. Ternyata semua itu hanyalah angan dan mimpiku saja. Mengapa hanya aku yang bermimpi? Kenapa hanya aku yang mencintai?
Semua pertanyaan itu terus berterbangan di kepalaku. Aku tidak mengerti kenapa ada manusia yang setega itu mempermainkan cinta.
Cinta bukanlah taman bermain. yang di mana semua orang bisa sesukanya bermain tanpa memikirkan hati siapa yang akan tersakiti.
Cinta adalah cangkang awal untuk membangun sebuah pondasi rumah tangga. Aku memilih menolak perjodohan itu karena bagiku cinta adalah hal yang terpenting di dalam suatu pernikahan.
Pernikahan tanpa Cinta pasti akan hampa. Akan terasa hambar dan tak bisa hidup selaras untuk pasangannya.
"Mentari ... Mentari Tunggu aku, Mentari."
Ternyata Doni mengejarku. Hingga akhirnya kami kembali saling bertatapan.
Tami memintaku untuk menyelesaikan masalahku dengan Doni. Mungkin ini saatnya aku menyelesaikan hubunganku. Aku tidak mau berada di dalam lingkarannya lagi.
"Mentari please dengerin aku dulu dong. Aku mau minta maaf sama kamu. Mungkin yang kamu dengar kemarin adalah kebenaran, tapi cintaku kepadamu juga benar Tari. Aku sungguh-sungguh mencintaimu."
Ucapan Doni hari ini terdengar adalah sebuah bualan untukku. Hati yang sudah dia kecewakan tidak mungkin bisa rampung lagi hanya dengan kata-katanya.
"Maafkan aku Doni aku rasa kamu salah menilaiku. Aku bukan wanita bodoh yang akan kembali hanya dengan kata-kata manismu."
Aku bicara dengan tangan yang gemetar. Beranikan diri untuk menyatakan Rasa marah-ku kepadanya.
"Mentari aku tahu kamu kecewa. Aku tahu kamu marah kepadaku. Belikan aku satu kali kesempatan lagi Mentari. Aku tidak mau kehilangan dirimu."
Doni bersimpuh di kakiku. Aku datang lebih awal ke kampus. Enggak tidak banyak mata memandang kami.
__ADS_1
"Doni aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini. Aku tidak mau ada lagi rasa sakit yang kurasakan. Cukup untuk satu kali aku dibohongi dan disakiti. Aku rasa kamu mengerti Doni. Lagi mengejarku dan jangan lagi Tunggu ya aku."
Aku bicara dengan bibir yang bergetar. Aku bicara dengan hati yang semakin terbelah-belah. Rasanya hatiku begitu terkoyak setelah mengucapkan kata perpisahan.
Ini adalah jalan yang terbaik untuk kita. Jalan yang di mana tidak ada ya kita yang saling menyakiti.
Aku meninggalkan bumi sendirian yang masih pada posisinya.
Sekarang aku mengalami sesuatu hal yang tidak pernah ku pikirkan sebelumnya. Pacaran adalah salah satu pilihan hidup yang membuat kita bisa terluka kapan saja. Bisa tersakiti atau menyakiti.
Mungkin mengambil keputusan ini tidak begitu sulit. Yang sulit adalah merupakan fakta bahwa kita pernah bersama dalam waktu yang cukup lama. Ternyata kisah kita hanya ditakdirkan untuk menjadi kenangan yang sebagian harus kurelakan dan yang sebagian harus aku jadikan pelajaran.
Apa saat dia menjadikanku taruhannya. Apa dia tidak memikirkan perasaanku? Apa sebenarnya yang mereka rencanakan? Kenapa Doni dan teman-temannya membuat taruhan seperti itu? Aku yang menjadi barang taruhannya.
Aku butuh penjelasan itu sebenarnya, tapi aku tidak berani untuk menanyakannya kepada Doni.
Itu pasti akan semakin merobek luka hatiku.
Hanya dengan mendengar Aku adalah taruhannya mereka. Itu sudah cukup membuat hatiku terluka dalam. Apalagi jika aku mendengar alasannya. Mungkin luka itu akan bernanah dan tak akan pernah mengering.
Mentari kamu harus kuat. Pasti akan ada cinta lain yang hadir dalam kehidupanku. Aku yakin Tuhan tidak akan membuat takdir seperti ini jika bukan untuk memberikanku pelajaran.
Aku yakin Tuhan sudah mempersiapkan segalanya untukku. Takdir bahagia yang mungkin tidak akan pernah ada luka di dalamnya.
Aku berharap akan ada seseorang yang bisa menghapus dan menyembuhkan luka ini.
Mungkin saat ini aku hanya harus fokus kepada tujuanku. Kuliah dan menjadi seorang sarjana. Setelah itu aku ingin menjadi seorang guru kesenian. Mungkin Tuhan saat ini ingin aku fokus kepada masa depanku.
Ya Allah aku memohon maaf kepadamu mungkin aku terlalu jauh jatuh cinta kepada pria itu. Tanpa aku bertanya kepadamu apakah dia adalah yang terbaik untukku. Tanpa aku bertanya kepadamu apakah dia pria yang baik.
"Mentari!"
Terdengar suara seorang pria memanggilku. Apa Doni kembali mengejarku?
__ADS_1
Aku membalikkan badanku dan kulihat bukan Doni memanggilku. Pria yang memanggilku adalah ...