Ternyata aku cinta

Ternyata aku cinta
Part 15 - Apa yang harus aku lakukan?


__ADS_3

"Kenzi"


Aku terkejut ternyata Kenzi kembali datang ke kampusku.


Aku menatap pada Kenzie dan Doni bergantian. Kulihat Doni juga pandangannya lurus ke arah Kenzi.


"Mentari setelah pulang kuliah nanti ada yang kakek ingin bicarakan denganmu."


Kenzi berbicara sambil melangkah ke arahku.


"Siapa kamu?"


Doni pun turut menghampiri kami berdua.


Aku lihat tatapan mata Doni yang penuh dengan amarah. Aku tidak mengerti katanya aku adalah taruhan tapi kenapa sepertinya dia tidak suka melihatku dengan Kenzie.


"Aku? Aku adalah ...,"


"Dia adalah sepupuku. Aku harap kau pergi dari sini karena aku akan masuk kelas."


Aku langsung memotong perkataan Kenzie dan meminta Doni untuk pergi meninggalkanku.


"Baiklah aku akan pergi."


Doni mengaitkan tasnya di bahu dan melangkah pergi dariku.


Aku tenang Doni mau pergi dan mendengarkan kata-kataku. Kalau tidak dia akan tahu aku dijodohkan dengan pria lain.


"Kenapa kamu bilang aku adalah sepupumu?"


Tanya Kenzie kepadaku dengan mengerutkan dahinya.


"Halo aku harus bilang apa aku harus bilang kamu adalah temanku? Pasti tidak akan percaya."


Aku yang lelah dari tadi berdiri terus akhirnya memilih duduk di bangku depan ruang kelasku.


"Kenapa tidak bilang kalau aku ini calon suamimu?"


Aku menoleh kepada Kenzie tidak percaya dia mengatakan hal itu dengan lantang di areaku.


"Bisa nggak sih bicaranya pelan-pelan aja nggak usah teriak-teriak kayak gitu."


"Teriak-teriak siapa yang teriak-teriak orang biasa aja kok."

__ADS_1


Ih, kenapa sih harus ada manusia kayak dia. Orang itu nggak mau ngalahan banget deh. Bikin bete orang aja.


"Dengar ya Kenzie aku belum pernah menerima kamu sebagai calon suami. Jangan berharap kalau aku bakalan ngakuin kamu sebagai calon suami aku ke orang lain."


Aku bicara dengan Kenzie dengan mimik wajah yang menyalak.


Pria ini selalu mampu untuk membuatku merasa kesal, bete, dan selalu bikin darahku mendidih.


Baru aja kemarin aku sedikit mengagumi kepribadiannya. Hari ini dia udah bikin aku kembali merutukinnya.


Dia itu kayak nggak ada capek-capeknya bikin orang kesel, bikin orang marah, bikin orang darah tinggi. Pokoknya dia deh cowok di dunia ini yang hampir sebelas dua belas sama kakakku yaitu Kak Ali.


Mereka tuh persis banget bahkan saat mereka ngobrol pun mereka tuh kayak orang nyambung. Walaupun kadang-kadang obrolannya tuh ngalor ngidul.


"Hei Mentari Kenapa kamu jadi bengong sih. Aku kan tadi bilang Kakek mau bicara dengan kita saat kamu pulang kuliah nanti."


"Harus banget ya ketemu sama kakaknya kamu?"


"Dia bukan hanya sekedar kakek aku. Dia juga nanti akan menjadi kakeknya kamu."


Ih ni cowok bener-bener deh ngomongnya nggak jelas lagi. Udah kubilang berkali-kali. Udah ditolak berkali-kali. Dia tuh telinganya dibuat dari apa sih? Gak denger apa yang dari tadi aku ucapin. Otaknya juga dibuat dari apa kali ini orang. Gak nyambung-nyambung, kayak gak nyampe-nyampe kalau diomongin.


Aku yang lelah berbicara dengan Kenzie karena obrolan kita nggak nyambung sama sekali. Aku beranjak dari dudukku dan aku melangkah maju untuk masuk ke dalam ruang kelasku.


Aku tidak menghiraukan perkataannya yang barusan. Aku terus melangkah masuk ke dalam ruang kelasku. Di dalam sana Tami sudah menungguku Dan pasti sudah banyak hal yang akan ditanyakan.


"Siapa sih cowok itu tar? Sejak kemarin dia terus-menerus mendesak mu."


Benarkan Pasti Kami sudah mempersiapkan banyak pertanyaan yang akan diajukan untuk ku.


Saat ini aku hanya bisa diam. Aku pun harus mempersiapkan jawaban untuk kemungkinan-kemungkinan pertanyaan yang akan dialontarkan untukku.


Ah kenapa sih pria ini selalu saja mempersulit hidupku setelah kedatangannya.


"Tari Apa kamu tidak mendengar apa pertanyaanku?"


"Selamat pagi semuanya."


Hufh aku bisa bernafas lega. Dosen mata kuliahku hari ini sudah datang. Aku tidak perlu lagi menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tami.


"Selamat pagi Pak."


Kami semua serempak menjawab sapaan dosen kami yang baru masuk tadi.

__ADS_1


Dosen hari ini tidak terlalu galak. Bisa dibilang dia cukup menjadi dosen favoritku. Dosen ini cukup tampan. Tapi sayang dia sudah memiliki seorang istri dan satu orang anak.


Sejak awal dosen ini masuk dan mengajarkan kami. Dia sudah membawa pesona yang berbeda. Dari cara mengajarnya santai tetapi tetap tegas.


Aku menyukai dosen ini bukan untuk jadi kekasih atau teman hidup. Tapi aku suka dengan dosen ini karena dia berbeda dari dosen-dosen yang lain yang sok galak dan sedikit sombong.


Di dalam kelas dan sambil mendengarkan dosenku berbicara di depan. Aku terus mengingat perkataan kenzia ingin aku menemui kakeknya.


Apa yang akan dibicarakan kakek Kenzie kepadaku? Apa Kenzi sudah memberitahu kakeknya bahwa aku menolak perjodohan? Lalu apa alasannya akan aku berikan nanti. Secara hubungan ku dengan Doni sudah kandas. Itu pasti tidak bisa lagi digunakan untuk alasan penolakan.


Aku semakin pusing dibuatnya. Karena dia aku mengetahui keburukan Doni. Namun, di satu sisi. Hal ini membuatnya untung. Dia akan lebih leluasa lagi menekanku. Karena aku tidak lagi memiliki pasangan yang sejak kemarin menjadi alasan terbesarku.


Kebetulan sekali sesama tak kuliah ini aku tidak ada mata kuliah lain.


"Setelah ini kita langsung pergi dari kampus." Aku berbisik kepada Tami.


"Kita mau ke mana?"


"Ke mana saja yang penting jangan ada di kampus ataupun ke rumah."


Kami berdua saling berbisik agar tidak ketahuan oleh dosen yang sedang mengajar di depan.


"Terus yang olive gimana? Dia kan hari ini ada mata kuliah tambahan."


Aku baru ingat kalau hari ini olive ada mata kuliah tambahan. Sekarang aku jadi bingung, tapi aku lebih bingung lagi jika nanti harus berhadapan dengan kakeknya Kenzi.


"Udah biarin aja dia ikut mata kuliah tambahan, toh kita kan nggak ikut mata kuliah itu juga. Terus kita mau nemenin dia gitu?"


"Iya juga sih, Tar. Ya udahlah kita cabut aja dari kampus."


Aku dan kami pun sepakat untuk meninggalkan olive hari ini. Toh memang hanya olive yang mengikuti mata kuliah tambahan itu. Alif terpaksa mengikuti mata kuliah tambahan karena nilai ujian yang jelek sehingga dosen menghukumnya.


Aku mengeluarkan ponselku dan memberitahukan kabar ini kepada olive.


Hari ini aku dan olive tidak satu kelas. Ada beberapa mata kuliah yang belum diambil olive karena dia sempat cuti selama satu semester.


"Barusan olive sudah selesai. Dia nggak apa-apa kita cabut duluan dari kampus."


Aku memberitahukan kepada Tami mengenai kesediaan olive yang akan kami tinggal.


"Terus kita mau ke mana?"


"Ke mana aja yang penting gak ketemu sama si cowok nyebelin itu."

__ADS_1


__ADS_2