Ternyata aku cinta

Ternyata aku cinta
Part 19 - Keputusan yang kuambil


__ADS_3

Malam hari aku kembali menunaikan salat. Kali ini aku salat istikharah untuk kembali memantapkan pilihanku.


Aku sudah mengambil keputusan untuk kehidupanku dimasa depan.


Aku kembali berdoa memohon petunjuk dari sang Khaliq. Aku sadar semua yang hidup di dunia ini adalah miliknya. Maka sebaik-baiknya kita bergantung dan meminta hanyalah kepadanya.


Aku berharap besar kepada keputusanku ini. Aku berharap ini adalah keputusan yang tepat dan bisa membuatku bahagia seperti kedua orang tuaku.


"Ya Allah..jadikan ini adalah keputusan yang tepat. Keputusan yang mendapatkan restumu. Aku ingin mengarungi kehidupan rumah tangga yang selalu berada di jalanmu."


Aku berdoa sambil menengadahkan kedua tanganku. Air mata juga turut ikut serta selama aku berdoa.


********


Malam yang ku hiasi dengan doa dan air mata itu sudah berganti menjadi pagi. Suara adzan mulai berkumandang dan saling bersahutan antar musholla atau masjid. Waktu bergulir dengan sangat cepat untuk berlalu.


Aku buka mataku. Aku buka gorden jendela yang tepat disebelah ranjang tidurku. Kunikmati suasana pagi di rumah ini sebelum pergi meninggalkannya.


Aku pasti akan merindukan suasana pagi di rumahku. Suasana pagi yang masih sangat sejuk. Bau tanah yang khas dan bau dedaunan tercium di pagi hari jika usai hujan mengguyurnya.


Aku sangat menyukai suasana kampung halamanku. Bagiku damai selalu ku dapatkan jika berada di tempat ini dan menikmati suasananya.


"Mentari apa kamu sudah bangun?"


Mama setiap subuh pasti akan menjadi alarmku. Alarm yang tidak akan pernah berhenti hingga aku terbangun.


Aku turun dari ranjang dan menapakkan kaki untuk membuka pintu.


Mama sudah menungguku di Luar kamar.


"Kita shalat subuh berjamaah dulu."


Mama bicara dan tersenyum kepadaku. Pasti senyuman ini akan jarang aku lihat.


Tradisi shalat subuh berjamaah di rumah juga pasti akan aku rindukan.


Semua yang ada di rumah ini pasti aku rindukan. Aku tidak yakin akan betah tinggal di rumah yang berbeda dan bersama orang asing.


Sungguh memang keputusanku sudah mantap. Hanya saja aku tidak tahu apakah mampu tinggal jauh dari keluargaku.


Kami semua menunaikan shalat berjamaah. Entah sampai kapan aku masih bisa berjamaah bersama keluargaku.

__ADS_1


*******


Panasnya siang terasa menyorot lewat jendela kamarku. Aku memang selalu berada di dalam kamar jika libur kuliah. Aku merasa kamar adalah tempat ternyaman ku. Ditambah memang di dalam kamar sudah ada televisi yang menemani.


"Aku hubungi olive dulu ah. Dia'kan hari ini ada mata kuliah. Dan seingatku dia ada tugas. Aku takut dia lupa."


Aku langsung bergegas mencari ponsel dan ternyata sudah ada banyak chat yang masuk. Terutama chat dari pria itu.


Doni masih terus menghubungiku. Dia seakan masih ingin aku percaya dengan apa yang dia katakan. Sungguh apa dia tidak merasa bersalah sedikitpun kepadaku? Apa dia tidak pernah memikirkan perasaanku yang telah dia sakiti?


Aku baca satu persatu chat yang masuk sebelum aku menghubungi olive. Ternyata ada beberapa pesan masuk dari nomor yang tidak aku kenal.


Aku buka dan ternyata.


"Mentari, ini adalah kakek dari Kenzie. Waktu sudah berjalan dengan sangat cepat. Apa jawaban itu sudah ada? Kami menanti jawaban pasti dari mu. Kami siap melamar kembali dan menentukan tanggal pernikahan kalian berdua."


Itu kira-kira isi pesan dari nomor yang tidak aku kenal dan ternyata itu adalah kakeknya Kenzi.


Aku balas pesan yang dikirim oleh kakeknya Kenzie. Dengan beberapa kali aku menghapus tulisanku. Aku timbang-timbang kata-kata yang pas untuk membalas chatnya.


Ku kirim chat balasan itu untuk Kenzi. Aku harap kata-kataku tepat untuk menjawab pertanyaannya.


Hari ini memang sudah waktunya aku memberikan jawaban.


Kemantapan hati ini aku dapatkan dari setelah sholat istikharah selama dua hari ini. Aku berdoa memohon petunjuk.


Aku yakin Allah SWT tidak tidur. Jadi aku percaya Allah SWT akan menjagaku jika niat ku sudah diluruskan.


Setelah membalas pesan. Aku langsung memencet tombol yang berlogokan telepon berwarna hijau.


Aku menghubungi olive. Nada sambung milik olive sudah terdengar dan aku sedang menunggunya mengangkat panggilanku.


"Halo."


Suara serak-serak basah terdengar dari seberang telepon. Aku lega ternyata olive sudah bangun.


"Liv. Hari ini ke kampus kan?"


"Ya, Tar. Nanti jam sepuluh. Kenapa?"


"Enggak apa-apa sih. Cuma mau ingetin masalah tugas hari ini. Sudah di kerjakan?"

__ADS_1


"Sudah Tar. Alhamdulillah sudah selesai. Doakan ya presentasiku berjalan lancar."


"Siap. Pasti di doain kok. Terus selesai mata kuliah. Mau kemana?"


"Cabut kali Tar. Kan kamu sama Tami enggak ke kampus hari ini. Jadi ngapain aku di kampus lama-lama."


Benar juga kata olive. Pasti sepi karena kedua sahabatnya tidak ada.


"Okeh kalau begitu. Aku dan Tami akan menunggumu di warung Mbah ya."


Aku dan kedua sahabatku biasa nongkrong di warung Mbah. Warung kopi yang menyediakan berbagai makanan cemilan yang tidak kalah dengan menu restoran atau cafe.


Suasananya di sana juga sangat enak. Tenang meski ada live musiknya.


Warung Mbah adalah salah satu tempat nongkrong favoritnya mahasiswa dan mahasiswi kampusku. Tidak hanya kami yang datang. Banyak pengunjung lalu lalang singgah di sana hanya untuk mencicipi kopi nikmat buatan Mbah lili.


*****


"Mah, hari ini aku mau ke kampus ya. Pulangnya enggak sore kok. Palingan sebelum adzan ashar aku sudah pulang."


"Okeh baik. Boleh, tapi kamu sudah balas pesan kakeknya Kenzie?"


Benar dugaanku. Pasti mereka saling bertukar informasi tentangku. Namun, kenapa mama belum tahu apa yang menjadi keputusanku? Apa kakek Kenzie belum membuka pesan yang aku kirimkan?


Aku melihat layar ponsel dan membuka chatnya lagi. ternyata memang belum dibaca. Masih centang satu.


Ya biarkanlah. Aku juga tidak berharap mereka membaca pesan yang aku kirim.


Aku membantu mama masak untuk hidangan makan siang. Kak Ali hari ini tidak pergi keluar rumah untuk bekerja. Kakakku selain menjadi seorang pengusaha kopi. Dia juga seorang guru. Kak Ali membuka kedai kopi bersama dengan teman-temannya.


"Sayur lodeh ya sudah jadi mam."


Mama menghampiriku dan mengecek kembali sayur lodeh yang dia buat.


Aku bisa masak hanya saja rasa masakan mama lebih diterima oleh keluargaku.


"Tari. Bawa panci sayurnya. Terus kamu ambilkan ikan tongkol balado itu. Sajikan juga di atas meja.


Aku setelah menaruh panci langsung bergegas mengambil piring berisikan ikan tongkol balado. Siapapun yang memakannya sudah pasti akan terus tambah.


Masakan ini adalah menu favorit keluargaku. Aku tidak bisa masak semahir mama. Bagaimana caranya aku bisa memasak untu suamiku nanti?

__ADS_1


Aku tidak mau menggunakan jasa pelayan untuk mengurus rumah dan memasak


__ADS_2