Ternyata aku cinta

Ternyata aku cinta
Part 16 - Terpojok


__ADS_3

Jam kuliah usai. Aku langsung menarik tangan kami untuk keluar dari ruang kelas.


"Aduh tar biasa aja kali nggak usah kayak gini juga. Udah kayak maling aja deh yang takut ketahuan orang."


Aku tidak menghiraukan celotehan Tami. Aku tetap terus menarik tangannya sampai kita menuruni tangga.


"Tari, aduh Mentari sakit tanganku."


Kami kemudian melepaskan pegangan tanganku. Tanpa sadar aku mungkin telah menyakitinya.


"Maafkan aku Tami. Aku tidak sadar telah menyakitimu."


"Mentari sebenarnya ini ada apa sih? Siapa cowok yang tadi datang? Please deh jelasin semuanya biar penasaran ini ilang."


Aku menjadi bingung untuk menjelaskannya kepada Tami. Kalau aku jelaskan sudah pasti dia akan terkejut se terkejut kejutnya.


"Mentari Kenapa jadi bengong sih? Bengong lagi, bengong terus."


Ternyata pamit terus mendesak untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan siapa sebenarnya Kenzie.


"Dia itu Kenzi."


"Kenzi? Siapa itu? Saudara? Teman? Apa selingkuhan?"


Mendengar kalimat terakhir Tami membuatku menatapnya dengan tatapan tajam.


"Nggak usah melotot begitu juga kali. Lagi bikin orang penasaran. Ditanya siapa malah cuma ngasih tahu namanya."


"Dia itu cowok lagi jodohin sama aku."


"What dijodohin? Serius? Gak bercanda kan?"


Bukannya terkejut karena sahabatnya dijodohkan dia malah terus-terusan bertanya dan itu membuat aku kesal.


"Udah ah nggak usah dibahas lagi tentang dia. Cara yang penting gimana caranya menghindar dari cowok super ngeselin itu."


"Oke kalau gitu sekarang kita pergi pakai mobil aku aja. Kebetulan aku bawa mobil."


Ide yang brilian. Tapi memang selalu tepat pada waktunya di saat aku membutuhkannya.


Aku dan kami berjalan menuju parkiran kampus.


"Kamu mau ke mana?"


Sekejap saat aku dan kami mau masuk ke dalam mobil seseorang menyergap kami berdua.


"Kenzi?"


Wajahku seketika mengkerut ketika melihat sosok itu tiba-tiba muncul lagi di hadapanku.


Perasaan tadi dia bilang mau menjemputku tapi kenapa dia malah menungguku?


"Kenapa kaget?"

__ADS_1


Ya udah pasti kaget lah lihat orang tiba-tiba ada di parkiran mobil. Cowok tuh benar-benar hobi ngagetin orang terus demen banget bikin orang tuh bad mood.


"Mentari aku tahu jalan pikiranmu. Pasti kamu mau kabur kan?"


Dia selalu saja bisa menebak apa yang ada di dalam pikiranku.


"Siapa yang mau kabur orang cuma mau istirahat sebentar kita mau ke cafe ya kan Tami."


Aku memutar pandanganku pada Tami seraya memberikan isyarat.


"Sudah jangan banyak berkelit. Karena kakek sudah menunggu kita."


"Tapi kan kuliahku belum selesai."


Wajahku ketika mengaku ketika dia mengajakku menemui kakeknya.


"Mentari saya sudah cek jadwal kuliah kamu. Dan tidak ada lagi mata kuliah yang harus kamu ikuti hari ini."


Lagi-lagi Kenzi mengetahui jadwal kuliah ku. Sebenarnya si Kenzie ini siapa sih?


Terpaksa aku harus mengikuti Kenzie. Kami berdua masuk ke dalam mobil milik Kenzie.


Selamat perjalanan aku dan Kenzie tak saling bicara. Aku sibuk memikirkan bagaimana cara menolak dengan halus permintaan perjodohan kakek Kenzie.


Setelah tiga puluh menit berlalu dan kami sampai ke sebuah komplek perumahan mewah yang elit banget menurut aku.


Mobil Kenzie memasuki sebuah rumah yang berpagar tinggi besar. Kulihat halaman luas dengan banyak pepohonan dan bunga-bunga yang bermekaran.


Kenzie memarkir mobilnya tepat di depan teras rumah.


Rumah itu terdapat beberapa tiang diantaranya.


Rumahnya persis seperti rumah artis-artis ternama. Ketika aku masuk ke dalam rumah itu terlihat sekali kemewahan yang sesungguhnya.


Beberapa lampu kristal menggantung di atas plafon. Membuat langit-langit itu terkesan sangat hidup dan bagaikan berada di dalam sebuah istana.


"Jalannya pakai mata. Nanti nabrak baru tahu rasa."


Suara Kenzie membayarkan lamunanku yang terpesona dengan kemewahan rumah kakeknya.


"Ini rumah kakek?" tanyaku dengan polosnya.


"Benar ini rumah kakek."


"Kakekmu tinggal sendirian di sini?"


Aku yang kepo kembali mengajukan pertanyaan kepada Kenzie.


"Tidak. Kakek tinggal dengan bibiku."


"Hanya berdua?"aku kembali mengajukan pertanyaan.


"Tidak. Bersama dengan sepuluh pembantu dan lima belas penjaga."

__ADS_1


Mendengar jawaban Kenzie membuatku tertegun sekaligus menganga. Sepuluh pembantu dan lima belas penjaga? Ini tuh rumah apa yayasan asisten rumah tangga?


Sungguh aku begitu takjub dengan kehidupan Kenzi dan keluarganya.


Seharusnya sebagai orang kaya mereka memilih menantu yang juga standarnya sama dengan standar status mereka.


"Selamat datang Mentari."


Seorang wanita menyambutku. Rasa Dia adalah Bibi dari Kenzi.


"Mentari ini adalah bibiku."


Benar saja dugaanku Kenzie memperkenalkan wanita itu sebagai bibinya.


"Halo tante salam kenal."ragu-ragu aku memanggil wanita itu dengan sebutan tante.


"Panggil aja aku Bibi elin. Sebenarnya usia kita tidak terlalu jauh Mentari. Mungkin hanya terpaut lima tahun."


Memang benar wanita itu tidak terlihat seperti tante-tante lainnya. Dia nampak muda, tak ada kerutan sedikitpun di bagian wajahnya. Wajahnya yang glowing juga memperlihatkan seberapa mahal perawatan wajahnya.


"Kakek di mana, Bi?"


"Sebentar lagi Kakek akan turun. Kalian berdua duduk saja di ruang tamu. Bibi mau ke dapur dulu mau minta asisten rumah tangga membuatkan minuman untuk kalian."


Bibi elin pergi meninggalkan kami berdua. Kenzi mengajakku untuk memasuki ruang tamu.


Saat aku menginjakkan kakiku masuk ke dalam ruang tamu. Di sana terpampang sebuah bingkai foto keluarga.


"Itu foto keluarga kalian?"


"Ya benar."


"Sepertinya kamu setelah memasuki rumah ini lebih banyak bertanya tentang aku dan keluargaku. Apa kini kamu sudah tertarik untuk menjadi istriku?"


Dasar pria aneh itu. Kalau ngomong sembarangan saja.


"Diam salah, ngomong tambah salah."


Aku pun mengumpat Kenzi. Pria ini benar-benar membuat kepalaku pening. Kalau bukan karena kakeknya yang mau bertemu denganku. Mungkin tadi di parkiran aku sudah lari.


Sebenarnya walaupun aku lari pun percuma. Aku pasti akan kembali ke rumahku. Aku kembali ke rumah pasti ke dua orang tua aku akan terus mencacarku.


Di kampus aku selalu terpojok oleh Kenzi. Di rumah aku terus dicecar oleh kedua orang tuaku dan diledek oleh Kak Ali.


Sungguh di manapun aku berpijak di sana selalu saja ada pembahasan tentang perjodohan ini.


Aku lihat sebuah kursi roda memasuki ruang tamu. Dan aku terkejut ternyata yang duduk di kursi roda adalah kakeknya Kenzie. Perasaan beberapa waktu lalu saat berkunjung ke rumah abah. Pakai Kenzi masih terlihat segar bugar.


"Apa kamu terkejut Mentari karena melihat kakek duduk di kursi roda?"


Pertanyaan itu justru membuatku bungkam. Aku tidak tahu harus menjawab apa.


"Kakek mau aku bantu untuk duduk di kursi?"

__ADS_1


Kenzi menunjukkan definisi cucu yang sangat berbakti.


Terlihat sekali bahwa dia begitu menyayangi kakeknya. Pantas saja apapun yang ditentukan untuknya selalu dia penuhi.


__ADS_2