Ternyata aku cinta

Ternyata aku cinta
Part 11 - Jangan paksa aku


__ADS_3

Kampus adalah salah satu tempat dimana aku bisa menenangkan diriku. Disana banyak teman yang bisa aku ajak bicara tanpa tahu permasalahan yang sedang aku hadapi. Salah satu sahabatku pun tidak aku beritahukan tentang perjodohan ini.


"Tar,"


Tami memanggil diriku yang masih berjalan menuju pintu gerbang kampus. Aku yang berjalan menunduk tidak melihat kalau ternyata sahabatku sudah menunggu di sana.


"Jalan kok nunduk." Celoteh sahabatku itu.


Tami Prastowo adalah sahabatku sejak kami duduk di bangku sekolah menengah atas. Aku dan dia kuliah di satu kampus yang sama. hanya saja Tami mengambil jurusan ilmu komunikasi.


"Sorry, gue lagi lemes banget belum sarapan." Aku menjawab asal sekenanya saja.


Aku tidak bisa menceritakan apa yang terjadi saat ini. Sebab aku takut Tami menceritakannya kepada pacarku.


Sebagai seorang wanita yang sudah memiliki pasangan kekasih. Aku cukup komitmen dengan apa yang sudah aku ikrarkan saat pertama kali berkencan.


Aku dan pacarku yang berbeda jurusan itu. sudah berpacaran selama lima bulan. Sejak kami pacaran hubungan kami semakin lengket saja. Namun, aku memang belum memperkenalkan kepada kedua orang tuaku.


Aku belum siap karena kamu masih tahap baru menjalani hubungan. aku berniat di perjalanan ke tujuh bulan kebersamaan. Aku akan memperkenalkannya kepada keluarga ku.


Ternyata hal tak terduga malah terjadi di usia hubungan kami yang baru seumur jagung. aku tidak bisa membayangkan kalau sampai hubungan kami kandas di tengah jalan hanya karena dia mengetahui Aku dijodohkan. hal itu pasti akan membuat Dia sangat kecewa dan sedih.


sebagai seorang wanita Aku memiliki hati nurani. kami saling mencintai, kami saling menyayangi. Aku berharap hubunganku dengannya bisa berlanjut ke jenjang pernikahan.


"bengong lagi, bengong lagi. lo tuh sebenarnya Kenapa sih Tar?"


Tami kembali protes dengan sikapku yang sejak tadi melamun dan hanya mengaduk-aduk makanan saja.


"makanan kok cuma diaduk-aduk doang. katanya laper, udah dikasih makan malah nggak dimakan."


aku hanya tersenyum kaku mendengar protes dari sahabatku itu. kami sangat perhatian sebagai seorang sahabat. di saat ada satu mata pelajaran yang sedang berjalan saat ini. dia masih menyempatkan untuk menemaniku sarapan.


"iya maaf, maaf. ini Gua habisin makanannya sekarang."


aku pun mulai menikmati sarapanku yang tadi kupesan dari ibu kantin. menu sarapan hari ini adalah lontong sayur Padang. rasa kuahnya yang terasa manis pedas dan gurihnya menjadi satu membuat rasanya menjadi lezat dan pasti lidah semua orang. lontong Padang ini sangat laku di kalangan mahasiswa dan juga para dosen.


"lontong sayur ini ya. kuahnya aja udah bikin gua nagih tau gak."


Tami bicara sampai terus mengunyah menikmati lontong sayur Padang yang juga ia pesan, sedangkan aku sudah selesai makan.


"udah yuk cepet makannya. gue yang makan belakangan, lu yang paling lama selesai makan."


"sorry, sorry. gue kan menikmati lontong sayur ini."

__ADS_1


Tami menyegerakan menghabiskan makanan miliknya. aku beranjak dari bangku dan berjalan menuju kasir.


"sekalian bayarin punya gue dulu."


aku dan Tami memang terkadang saling mentraktir. kali ini aku pikir aku wajib mentraktirnya. Karena dia sudah baik mau menemani aku sarapan pagi di kantin.


"bayar Mba."


ibu kantin langsung menghitung dua porsi makanan yang tadi disajikannya untukku dan juga Tami.


"totalnya jadi tujuh puluh ribu, sudah sama minumnya."


aku langsung mengeluarkan uang selembar seratus ribuan, lalu memberikannya kepada kasir yang merupakan anak dari ibu kantin.


"ini kembaliannya."


setelah mendapatkan kembalian aku langsung kembali menuju Tami.


"yuk balik kelas."


aku dan Tami pergi beranjak meninggalkan kantin yang sudah memberikan rasa kenyang kepada kami berdua.


Brug


saat aku sedang menaruh kembalian dari kasir, ternyata aku menabrak seseorang.


terdengar suara yang tidak asing di telingaku. aku langsung menegakkan wajahku dan melihat siapa yang aku tabrak.


"Kamu!"


aku langsung menunjuk pria itu ketika mengetahui bahwa yang aku tabrak dan menabrakku adalah pria yang mampu membuat mood ku rusak.


"Akhirnya ketemu juga."


terdengar dari nada bicaranya. sepertinya Kenzi sedari tadi mencari-cariku.


"ikut aku sebentar."


todongnya ketika dia telah menemukanku.


"tidak mau!"


Tami langsung memandang kepadaku. mungkin saat ini di dalam benaknya Dia sedang bertanya-tanya, tentang siapa pria yang sedang berbicara denganku.

__ADS_1


aku tidak bisa ikut dengan Kenzie. bukan hanya karena aku tidak ingin berbicara dengannya. akan tetapi jam pelajaran mata kuliah pertamaku hari ini akan segera dimulai.


"ikut denganku sebentar saja."


Kenzie mulai memaksaku. dia juga meraih tanganku dan hampir ingin menarikku.


kuhempaskan langsung tangannya. Aku tidak suka dipaksa seperti ini. apalagi aku dan dia belum memiliki ikatan apapun.


"Apaan sih jangan ngaco deh! Nggak usah maksa-maksa orang untuk ikut."


Aku menolak keras ajakan dari Kenzie.


"Ikut dulu sebentar saja."


Pria ini terus memasak untuk ikut dengannya. Tamiya menyaksikan aku dan Kenzie berdebat hanya bisa menganga karena terkejut.


Sahabatku ini pasti bingung kenapa ada pria berstelan jas lengkap dan sangat rapi ini memaksaku ikut dengan dia.


"Eh kamu ngapain sih tarik-tarik teman saya!"


Ternyata Tami ikut menyerang Kenzi.


"Tidak usah ikut campur masalah kamu."


Kenzie malah menyentak Tami. Aku tidak suka dengan sikap Kenzie kepada Tami.


"Jangan membentak temanku! Ini urusan kita berdua jangan galak-galak sama orang lain."


Aku sewot dibuatnya. Rasa kesal aku semakin memuncak karena melihat Kenzie yang marah-marah kepada Tami.


Pasti saat ini Tami sedang bertanya-tanya di benaknya. siapa sebenarnya pria yang sedang berdebat denganku ini.


Aku berkali-kali menghindar dari Kenzie, tapi tenaga yang besar tak bisa ku lawan.


Dia mulai menggenggam tanganku kuat dan menarikku keluar dari kampus.


Aku tidak tahu kemana tujuannya. Dan kenapa dia bisa sampai tahu di mana Aku kuliah. Kenzie sudah seperti lalat yang terus mengejarku ke manapun aku berada.


"Ih! lepas sakit tahu."


Aku berusaha melepaskan genggaman tangan Kenzie, tapi tidak bisa. Tenaga pria itu sungguh kuat sekali. Aku berjalan tertatih-tatih untuk mengikuti langkahnya hingga masuk ke dalam mobil milik Kenzie.


Mobil yang dipakai Kenzie berwarna putih yang biasa dimiliki oleh artis-artis. Mobil Kenzi adalah Alphard. Aku dipaksa dulu di bangku mobil dan dia memasang seat belt di tubuhku.

__ADS_1


Pria ini benar-benar sangat memaksa. Dia seperti tidak mengerti bahasa Indonesia dan tidak bisa diajak bicara baik-baik.


Sekarang aku tahu kenapa dia tidak memiliki pacar. Mungkin tidak ada wanita yang tahan dengan sikapnya yang seperti ini.


__ADS_2