
Kakek Kenzie duduk di kursi di ban setelah dibantu oleh Kenzi. Aku tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh kakek Kenzie hari ini kepadaku. Namun aku tahu pasti semua ini berhubungan dengan perjodohan.
"Mentari Kakek yakin kamu kemari karena terpaksa atau dipaksa oleh Kenzie. Maafkan kakek karena membuatmu harus kemari."
"Tidak apa-apa kek. Sekalian silaturahmi."
Aku berusaha sesopan mungkin di hadapan orang tua.
"Mentari Kakak sudah semakin tua. Kakek beberapa hari lalu mengalami stroke. Dan kamu pasti sudah tahu dari Kenzie. Kalau keinginan Kakak sudah bulat untuk menikahkan kalian berdua. Kakek mohon kamu mau menerima perjodohan ini."
Di dalam hatiku terasa disiram ombak yang begitu kencang. Saat ini aku terpojok sekali karena aku tidak tahu lagi harus berkata apa dan penolakan seperti apa lagi.
Aku lihat kakek Kenzie sudah sangat tua. Padahal usianya hampir sama dengan Abah. Namun fisiknya jelas lebih kuat abahku dibandingkan dengan kakek Kenzie.
Mungkin inilah perbedaan antara orang desa dengan orang kota. Orang desa yang selalu menggerakkan otot-ototnya selalu mempekerjakan tubuhnya akan kuat dan sehat lebih lama.
"Mentari maukah kamu menikah dengan Kenzie?"
Rasanya aku ingin menangis. Pertanyaan itu seakan sangat berharap akan jawabanku.
Ya Allah aku tidak tahu harus menjawab iya atau tidak. Aku tahu jodoh bukanlah kuasa ku atau kuasa siapapun. Jodoh dan takdirku sudah semuanya ditentukan olehmu sebelum aku dilahirkan.
Setiap orang sudah ditetapkan jodohnya di lauhul Mahfudz. Aku sadar semua orang saat bayi masih di dalam kandungan ibunya sudah ditetapkan segala sesuatunya yaitu rezeki umur dan juga jodoh.
Tapi apakah Kenzi adalah jodohku? Apakah ini takdirku sebagai seorang wanita menikah dengan pria seperti Kenzie?
Itulah yang sekarang ada di dalam benakku. Itulah yang ingin aku dapatkan jawabannya. Jika memang dia adalah pria yang ditetapkan Tuhan untukku. Aku rela menjalani hidupku bersamanya. Mengarungi hidup rumah tangga bersama dengan pria yang benar-benar tidak aku cintai.
Aku sebenarnya juga sebenarnya masih merasa kecewa dengan kisah cintaku yang kandas dengan jalan. Bukan berarti aku termasuk barisan orang yang memutuskan untuk tak menikah saat ini. Aku hanya ingin menenangkan diriku dulu sejenak sebelum memutuskan apapun.
"Mentari apa kamu belum bisa memberikan jawaban kepada kakek sekarang?"
Ternyata kakek Kenzie terus mendesak ku.
"Bukan begitu kek. Mentari hanya belum siap untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Mengetahui usia mentari yang masih sangat belia. Pasti kakek mengerti hal itu."Aku menjawab pertanyaan Kakek Kenzi.
"Apa benar alasanmu karena belum siap? Atau kau punya kekasih?"
Kalau saja sejak dulu dia bertanya seperti itu. Mungkin aku akan menjawabnya 'iya'. Dan sudah pasti perjodohan ini akan dibatalkan olehnya. Namun sayang saat ini aku tidak memiliki kekasih dan Kenzie mengetahui hal itu. Bahkan dia yang lebih tahu siapa pria yang aku cintai itu dan bagaimana perilakunya di belakangku.
__ADS_1
"Mentari tidak punya pacar kek."
Pensi langsung menyerobot memberi jawaban yang seharusnya jawaban itu dikatakan olehku.
"Mentari dengarlah ini dan coba kamu pikirkan. Setiap perempuan pasti ingin memiliki jodoh yang terbaik. Mungkin juga dia ingin laki-laki yang menjadi jodohnya adalah laki-laki yang ia cintai dan juga mencintainya. Mentari tapi cinta itu bisa didapatkan seiring waktu berjalan jika kalian bersama-sama nanti."
Perkataan dari kakeknya Kenzie ada benarnya juga. Aku juga bisa mengetahui hal itu karena beberapa keluargaku menikah karena dijodohkan.
"Jadi kakek tunggu jawabanmu Mentari."
"Bentar ya akan memberikan jawabannya Nanti kek apakah boleh?"
"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk berpikir Mentari?"
Berapa lama? Bahkan aku tidak tahu berapa lama luka di hatiku akan sembuh. Aku pun jadi tidak tahu berapa lama aku bisa secepatnya menjawab pertanyaan dari kakek Kenzie.
"Apa dua hari lagi kami bisa mendapatkan jawabannya?"
Kakek Kenzi terlihat sekali ingin aku dan Kenzie bersama.
"Mentari tidak tahu kek. Tapi akan Mentari usahakan secepat mungkin memberikan jawabannya."
"Kalau begitu Kami tunggu 2
Dua hari bukanlah waktu yang lama. Adalah waktu yang sangat-sangat cepat. Akankah aku bisa memberikan jawaban?
*******
Aku kembali pulang diantar oleh Kenzie. Di sana Mama dan Papa ternyata sudah menungguku. Mereka tentu sudah tahu bahwa aku hari ini pergi ke rumah kakeknya Kenzie
"Kenzie Apa kamu mau mampir dulu?"
Mama dengan sangat manisnya kepada Kenzie.
"Tidak perlu tante. Beberapa pekerjaan yang tertunda tadi. Jadi aku harus menyelesaikannya segera sebelum disibukan oleh persiapan pernikahan."
Pernikahan-pernikahan lagi. Aku sebel sekali mendengar Kenzi mengucapkan kata pernikahan dan perjodohan.
Dia sepertinya sedang menyindirku. Aku tahu dia adalah orang sibuk. Seharusnya dia tidak perlu menungguku seperti tadi. Memang sebenarnya kalau dia tidak menungguku. aku pasti tidak akan menemui kakeknya.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan kedua orang tuaku dan Kenzie yang masih berbincang-bincang di teras rumah.
"Terima kasih ya Kenzi sudah mengantarkan Mentari pulang ke rumah."
Mama selalu bersikap baik dan manis kepada Kenzie. Mama dan Papa pasti sangat menginginkan janji untuk menjadi menantu.
Aduh lelahnya ya Allah. Itulah yang aku katakan sebelum aku merebahkan tubuhku di pembaringan.
Tok tok tok
Suara pintu terketuk terdengar olehku. Pasti yang mengetuk pintu adalah mama atau papaku. Mereka pasti akan mengajukan pertanyaan tentang apa saja yang aku perbincangkan dengan kakek yang di rumahnya.
"Masuk pintunya nggak dikunci kok."
Setelah handle pintu tergerak dan pintu terbuka terlihat sosok mama dari balik pintu masuk ke dalam kamarku.
"Mentari Kamu sudah makan belum?"
Ternyata mama kemarin untuk menanyakan tentang kondisi perut ku.
"Udah makan Mbak tadi Kenzie ngajakin aku makan di luar."
"Yang itu sangat baik ya Mentari. Pasti jika nanti dia menjadi suamimu dia akan memperlakukanmu sangat baik."
Nah kan bener banget Mama pasti membahas kembali tentang Kenzie.
Inilah yang sebenarnya tidak aku suka. Saat di rumah akan ada pembahasan tentang Kenzie dan saat di kampus pria itu muncul secara tiba-tiba.
Sepertinya hidupku sekarang ini dipenuhi oleh Kenzie dan wajah Kenzie.
"Kalau dia nggak baik dia ada di rumah sakit mah."
Jawabku asal untuk mencairkan suasana.
"Hus kamu ini kalau ngomong sembarangan aja. Maksud Mama kepribadian Kenzie. Bukan kesehatan Kenzie."
Haduh memang susah kalau bercanda sama ibu-ibu. Pasti ucapan kita dianggap serius.
Mama ini memang sosok yang selalu serius. Suasana di bawah serius. Ucapan orang dianggap serius.
__ADS_1
"Mah boleh nggak hari ini kita nggak balas tentang Kenzi dulu? Aku capek habis pulang kuliah terus langsung pergi ke rumah kakek Kenzie."
Wajah lesu aku perlihatkan kepada Mama. agar muncul rasa ibadah wanita yang telah melahirkanku itu.