
Hari ini adalah hari dimana aku dan dia akan bertemu face to face untuk pertama kalinya. Pertemuan kemarin di jalan tidak masuk hitungan karena itu pertemuan yang tak direncanakan.
Aku turun dari motor Kak Ali. Kebetulan kakakku itu tidak ada kegiatan keluar.
"Bicara baik-baik. Tinggalkan kesan baik. Jangan galak-galak. Jadi perempuan harus lembut dan bersikap sopan."
Rentetan pesan keluar dari mulut kecil kakakku. Sudah seperti ibu-ibu yang lagi nasehatin anaknya.
Aku tidak menjawab. Aku langsung pergi. Dan terdengar suara motor kak Ali yang pergi dari bahu jalan dimana tadi kami berhenti.
Aku masuk ke dalam cafe. Aku tanya meja yang sudah di pesan atas nama Kenzie. Dan pelayan cafe mengantarku. Sesampainya aku di sana ternyata pria itu bahkan belum menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Sungguh mengesalkan pria itu. Dia membuatku menunggu.
"Maaf, aku habis dari toilet."
Terdengar suara dari sampingku dan kulihat pria itu tengah mengancing lengan bajunya. Dia ternyata sudah datang dan aku yang terlambat.
"Mau pesan minuman atau makanan dulu?" tanyanya kepadaku.
"Tidak perlu. Kita langsung ke inti pembicaraan saja. Waktuku tidak banyak. Aku harus pergi ke kampus. Kamu pasti tahu kalau aku masih kuliah."
Aku berusaha mempercepat waktu dan mempersingkat pertemuan kami.
"Aku sudah memeriksa jadwal kuliahmu. Dan hari ini kamu libur."
Dengan santainya pria itu bicara. Aku pun melongo karena ternyata pria itu tahu aku hari ini tidak ada jadwal mata kuliah. Sungguh aku malu dibuatnya.
"Kamu mau apa? Cepat katakan. Meski aku tidak kuliah hari ini. Banyak tugas yang harus aku kerjakan di kampus bersama beberapa temanku."
Aku berusaha membuat alasan agar tidak ketahuan bohong-bohong amat.
__ADS_1
Sudah sepuluh menit kami duduk bersama di cafe. Aku tidak mendengar sepatah katapun dari bibirnya keluar.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk memulai pembicaraan lebih dulu.
"Jika kamu tidak mau bicara. Maka aku yang akan bicara lebih dahulu. Aku ingin kamu menghentikan acara pertunangan dan juga rencana pernikahan kita. Kita tidak saling mencintai dan menurutku kita juga tidak cocok. Kamu dari keluarga sultan. Sedangkan aku dari keluarga sederhana."
Aku terus nyerocos panjang kali lebar dan mungkin mulutku sudah berbusa sekarang.
Aku lihat pria itu tetap diam. Aku sangat kesal sekali dengan pria yang sedang berada bersamaku saat ini. Aku sejak tadi ngerocos tiada hentinya akan tetapi pria itu hanya diam saja. Padahal dia yang merencanakan pertemuan ini.
"Hei bicara kepadaku. Apakah kamu mau membatalkan pernikahan kita atau tidak?" tanyaku kepada pria tersebut.
Melihatnya hanya diam saja sungguh membuatku menjadi bertambah geram kepadanya. Mungkin julukannya bukan hanya manusia robot, tapi juga manusia patung. Aku tiada henti-hentinya mencela dirinya di dalam hatiku sendiri. Karena memang pria itu patut dicela. Dia itu seperti orang yang tidak memiliki sopan santun kepadaku. Giliran waktu bicara dia malah membisu.
Aku tahu pria seperti itu sebenarnya tidak ingin menikah dan pastinya dia tidak menyukai diriku, tapi aku bingung kenapa dia tidak menolak Perjodohan ini malah diam saja seperti orang yang tidak bisa bicara.
"Kalau memang kamu tidak mau bicara denganku. Oke ya sudah, tapi ingat aku tidak mau dijodohkan denganmu. Aku tidak menyukai kamu dan aku memiliki pria Pilihanku sendiri." Aku bangkit dari dudukku.
"Duduklah, kalau kamu sudah selesai bicara dan kamu sudah selesai marah-marahnya sekarang dengarkan aku."
Pria itu menuntunku untuk duduk kembali di kursi yang tadi aku duduki. Aku tidak tahu dia akan bicara apa sekarang sejak tadi dia hanya diam saja.
"Dengarkan aku. Aku bukan tidak ingin membatalkan Perjodohan ini atau Bukannya ingin menikahi dirimu."
"Lantas kenapa kamu menerima Perjodohan kita?" Aku menyelak pembicaraan pria itu.
"Aku tadi sudah bilang dengarkan dulu perkataanku. Kangan menyelak lagi."
Pria itu memperingatiku dengan wajah yang begitu serius. Aku bukan bermaksud ingin menyelak pembicaraannya. Hanya saja aku kebiasaan jika rasa penasaran ku memuncak. Aku akan memberikan begitu banyak pertanyaan.
__ADS_1
kulihat pria itu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Aku bukan tidak ingin menikahimu atau ingin menolak Perjodohan kita. Hanya saja kondisi kakekku yang sudah tidak sehat lagi. Kakekku sudah sangat menderita dengan penyakitnya. Dan dokter menyatakan usianya sudah tidak lama lagi. Jadi aku tidak mau membantah keinginannya meskipun Sebenarnya aku tidak ingin pernikahan ini terjadi"
Dia menjelaskan semuanya kepadaku. Ada rasa iba yang muncul di hatiku, akan tetapi aku tetap tidak bisa membenarkan sikapnya yang hanya diam saja menerima perjodohan ini. Aku ingin bahagia. Aku ingin mendapatkan kebahagiaanku sendiri.
"Maaf, tapi aku masih memiliki seorang pacar. Aku tidak mungkin meninggalkan pacarku begitu saja."
Aku terus menolaknya. Aku benar-benar tidak mau pernikahan ini terjadi dan mengecewakan Kekasihku. Kalau memang kedua orang tuaku ingin aku menikah. Maka aku akan mencoba bicara dengan kekasihku itu untuk melamarku dan menikahiku.
"Begini saja jika kamu mau menikah denganku. Kita buat kesepakatan saja atau sebuah perjanjian misalnya?"
Pria itu seakan-akan ingin memberikanku sebuah pilihan atau mungkin dia sedang menyogokku.
Aku akan tetap kepada pendirianku. Aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak pernah aku kenal dan tidak pernah aku cintai. Aku tidak mau meskipun pernikahan itu terdapat sebuah perjanjian.
"Maaf aku tidak mau!"
Aku terus menolak, tetapi aku merasa iba terhadap pria yang ada di depanku itu. Saat aku mencoba untuk mengabaikannya tiba-tiba dia bersimpuh di kedua kakiku.
"Please tolong. aku mohon kepada kamu."
Melihat dia bersimpuh dan memohon. Membuatku menjadi ingin membantunya. Hanya aku tidak bisa. Pendirianku kuat. Aku terkenal keras kepala. Tidak mudah mengubah keputusan sama seperti papaku.
"Kenzie. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang tidak mencintaiku dan yang tidak aku cintai."
Aku berusaha melepaskan diri dari pria itu. Aku tidak enak dilihat beberapa orang yang juga menjadi pengunjung cafe. Mereka pasti mengecap diriku sebagai perempuan tidak punya hati. Beberapa sudah mengedarkan pandangannya ke arahku. Itu semakin membuatku tidak nyaman.
"Kenzie. Kamu lihat, mereka semua memperhatikan kita. Bangun aku tidak mau dicap sebagai wanita tak punya hati nurani."
__ADS_1
Aku tidak tahan dengan kelakuan Kenzie. Aku yang merasa kesal akhirnya memutuskan untuk meninggalkannya dan keluar dari cafe. Aku tidak lagi perduli dengan pandangan mereka kepadaku. Toh mereka tidak kenal aku dan mereka tidak tahu apa yang sedang aku hadapi saat ini.