
Seperti biasanya aku membantu Mama untuk menyiapkan sarapan pagi kebetulan hari ini aku harusĀ pergi ke kampus lebih awal. Kak Ali juga ada urusan lain dan Papa juga harus pergi ke kantor untuk bekerja karena papa memang seorang karyawan jadi harus rajin bekerja agar bisa menafkahi kami semua.
Mamaku adalah seorang ibu rumah tangga. Mama sebenarnya memiliki usaha hanya saja usaha kecil-kecilan yaitu menjual donat goreng.
Mamaku terkenal dengan donat gorengnya yang sangat enak empuk di luar dan lembut di dalam. Sudah begitu mamaku juga menggunakan bahan-bahan premium bukan bahan abal-abal membuat orang-orang seringkali mengantri untuk membelinya.
setelah kami semua sarapan pagi. Aku membantu mama untuk menyiapkan peralatan dagang sebelum bersiap untuk berangkat kuliah.
Papa dan Kak Ali setiap hari selalu pergi naik motor bersama karena mereka memang searah. Kak Ali akan membawa motor dan memboncengi papa.
Kulihat Kak Ali sudah memanaskan motornya. Sambil memanaskan motor kakakku itu selalu mengelap motornya agak terlihat bersih.
Kak Ali itu orangnya sangat menjaga apa yang dia miliki dia merawat motornya dengan baik. Dia selalu membawanya servis sebulan sekali.
Aku sebenarnya bangga pada kak Ali. Aku juga sangat sayang dengan Kak Ali. Namun, terkadang aku tidak tahan dengan sifat jahilnya.
Karena saat temanku mampir ke rumah sikap kali sungguh SKSD atau sok kenal sok dekat. Rasanya aku kesel sekali karena dia seringkali menggoda teman-temanku yang mampir ke rumah dan bermain bersamaku di rumah.
Sejak saat itu aku tidak pernah lagi membawa teman untuk singgah ke rumahku.
Aku sudah siap untuk pergi berangkat kuliah. Kampusku tidak jauh dari rumah, sehingga aku hanya perlu naik angkot Satu kali saja.
Mama dan Papa tidak membiarkan aku untuk membawa kendaraan sendiri. Padahal di rumah ada satu motor lagi yang nganggur, tapi mereka bilang anak perempuan tidak perlu bisa bawa motor.
Kedua orang tuaku itu sangat over protektif. Begitu pula dengan kakak dan sepupuku. Aku pernah diajari mereka untuk mengendarai motor. Bagiku motor itu sangat berat dengan tubuhku yang sedikit mungil.
Sebenarnya aku juga bisa naik motor hanya saja nyaliku itu sangat kecil. Aku tidak berani mengendarai motor di jalanan, pikiranku sudah selalu melayang pada resiko berkendara. Seperti jatuh ketabrak, lecet, ya semua hal buruk terlintas di pikiranku. Ketika aku naik ke atas motor dan tiba-tiba aku terkena Tremor. Tanganku akan bergetar, kakiku lemas dan pikiranku sudah tidak fokus.
"Tari pergi kuliah dulu Mah." Aku berpamitan kepada mamaku.
Aku meraih tangannya dan mengucupi punggung tangan mama.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan, fokus tas jangan taruh di samping kita selalu dipangku dan dipeluk."
Mamaku itu sangat perhatian. Dia sangat takut sebenarnya kalau aku harus pergi sendirian dengan angkutan umum, tapi mau bagaimana lagi orang tua perempuan takut jika anaknya kenapa-napa saat menaiki kendaraan umum, sedangkan orang tua laki-laki tidak mengizinkan aku untuk membawa kendaraan sendiri.
Ya, aku mau ngambil hikmah dari semua ini. Aku pikir ini semua bentuk perhatian mereka kepadaku. Mungkin karena aku termasuk anak perempuan satu-satunya yang mereka miliki. Dan juga salah satu cucu perempuan yang hampir seluruh saudara sepupunya adalah laki-laki.
...****************...
Aku sampai di depan gang rumah dan hendak menunggu angkutan umum datang.
Saat aku sedang menanti, sebuah mobil sedan. Ku pikir mobil itu awalnya lewat saja, ternyata berhenti.
Seseorang membuka pintu dan terlihatlah siapa yang mengendarai mobil sedan itu.
"Kenzie." Aku termangu melihatnya.
Untuk apa pria itu datang dan menghampiriku? Ini masih pagi, seharusnya dia pergi bekerja. Walau seorang pemimpin, dia seharusnya tetap harus profesional.
Dia menyapaku sambil membuka kaca mata hitam yang di pakainya.
Sangat tengil sekali bagiku gayanya. Aku tidak habis pikir dengan pria yang kemarin ku perhatikan pendiam dan penurut. Ternyata aslinya sangat tengil.
"Kenapa sepagi ini sudah ada di sini?"
Tanyaku dengan pandangan yang tak suka. Aku memang tidak suka dia berada di dekatku. Pria ini sejak awal pertemuan. Sudah membuatku kesal dan tidak respect terhadapnya.
"Aku kemari untuk menemuinya dan berbicara empat mata dengan mu."
Dia bicara sambil tangannya ingin meraih tanganku. Dengan cepat aku mengubah posisi berdiri dan dia tidak berhasil meraih tanganku.
"Kamu mau bicara apa? Aku harus pergi ke kampus. Ada mata kuliah pagi hari ini."
__ADS_1
Aku berusaha menghindar darinya. Aku tidak mau dianggap wanita gampangan yang mudah diajak oleh pria yang baru aku kenal. Meski kata orang dia calon suamiku. Bagiku dia tetap orang asing yang dipaksa masuk ke dalam ke hidupanku.
"Kenapa? Kamu tidak mau ikut denganku?"
Dia malah bertanya. Sudah pasti aku tidak mau ikut dengannya. Ku perhatikan angkutan umum yang aku tunggu sudah dua kali melintasi gang rumahku.
"Aku mau kuliah. Lagi pula aku tidak biasa pergi dengan pria yang baru aku kenal."
Aku berbalik dan berusaha menghentikan mobil angkutan yang melintas.
Aku naik ke dalam mobil tanpa menghiraukan pria itu. Aku tidak mau bicara dengannya.
Aku tidak mau mendengar tentang pernikahan. Aku belum siap. Aku belum mampu untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
Mengurus diriku sendiri saja aku terkadang masih tidak becus. Apalagi mengurus orang lain yang sudah pasti berbeda isi kepala dan kebiasaan denganku.
Aku tidak bisa membayangkan jika kamu menikah dan hidup bersama di satu atap. Pasti akan terus ada perang dunia ke tiga, ke empat dan seterusnya. Belum lagi pria itu terlihat seperti robot.
Aku terus merutuki ya selama di dalam angkot dan selama perjalanan menuju kampus. Aku benar-benar tidak mengharapkan pria kaya dan memiliki perusahaan untuk menjadi suamiku kelak. Aku berharap aku memiliki suami dimana aku dan dia saling mencintai dan saling menghargai.
Kekasihku Doni memang bukan dari kalangan orang kaya. Dia berasal dari keluarga ekonomi menengah. Aku rasa keluargaku juga bisa menerimanya. Keluargaku bukan orang yang memandang status sosial dan bukan orang-orang yang gampang merendahkan orang lain.
Abah dan nenekku adalah panutan ku selama ini. Kepribadian mereka yang hangat dan selalu baik kepada siapapun membuatku berpikir kalau mereka akan mudah untu menerima Doni dan keluarganya.
Saat aku sedang asik dengan pikiranku sendiri. Terdengar suara pesan masuk. Aku langsung membuka tas dan mencari ponsel.
Aku buka pesan masuk yang masuk. Satu nomor telepon tidak dikenal. Aku pikir itu adalah pesan masuk dari operator. Saat aku buka ternyata dari pria yang menyebalkan itu.
"Besok aku tunggu. Ada yang harus kita bicarakan, Kenzie."
Begitu kira-kira isi pesan masuk dari pria bernama Kenzie kepadaku.
__ADS_1