Ternyata aku cinta

Ternyata aku cinta
Part 9 - Selepas shalat ashar


__ADS_3

Aku dan mama seharian membahas tentang hubunganku dan Kenzi yang belum terjadi. Mama memaksaku untuk tetap menerima lamaran pria itu.


Adzan ashar berkumandang. Rumahku yang berdekatan dengan musholla membuat suara adzan akan terdengar jelas ditelinga meski sedang tertidur lelap.


Aku dan mama bergegas untuk sholat berjamaah. Di rumah jika ada orang lebih dari satu dan sedang tidak halangan. Kami wajib menunaikan shalat berjamaah.


Selesai mengambil wudhu aku dan mama mengenakan mukena dan kami berdua sholat bersama. Aku diminta untuk menjadi imam sholat hari ini. Aku berdiri di sebelah mama di atas sajadah yang tergelar di ruangan kecil yang kami sebut musholla pribadi.


Tiba di rakaat terakhir yaitu rakaat ke empat. Aku sujud agak lebih lama.


"Allahuakbar."


Tiba di tasyahud akhir. Aku membaca doa tahiyat akhir dan mengucapkan salam.


Selesai shalat aku menyalami mama dan kami berdoa bersama. Tak lupa aku selipkan doa memohon Allah memberiku jalan untuk terlepas dari perjodohan ini.


Selesai berdoa dengan sangat khusyuk. Aku membuka mukena dan menyimpannya lagi.


"Ayo masuk."


Terdengar suara Kak Ali. Sepertinya dia sudah pulang dan membawa teman ke rumah.


"Lihat saja, kali ini aku akan balas dendam. Aku akan SKSD sama temannya. Biar dia tahu rasanya gimana kalau temannya di ganggu."


Aku melangkah keluar mushola dan berjalan menuju ruang tamu. Sebelum sampai di ruang tamu aku merapihkan penampilanku dulu. Bukan bermaksud genit, hanya saja kalau kusut'kan enggak enak dipandangnya.


Aku tiba di ruang tamu. Baru hendak aku menyapa Kak Ali. Diriku dikejutkan oleh kehadiran seseorang di rumahku lagi.


Kenzie kembali ke rumah ini. Dia seperti seorang pria yang tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran.

__ADS_1


Mama melihatku yang sudah berdiri di dekat sofa.


"Duduk, Tari. Kamu bicaralah dengan Nak Kenzie. Mama mau buatkan minuman dulu "


Mama memintaku untuk menemui Kenzi. Aku benar-benar malas. pria itu pasti hanya akan memintaku untuk setuju dengan pernikahan kami.


Sejak kepulanganku dari pertemuan dengannya di cafe. Lalu dia tadi siang datang ke rumahku. Kenzie terus-menerus menghubungiku. Dia mengirim pesan maupun menghubungi lewat telepon. Sengaja aku tidak mengangkat telepon darinya. Karena aku sudah tahu arah pembicaraannya.


"Mentari ayo cepat. kasihan Kenji sudah menunggumu sejak tadi."


Mama terus-menerus mendesak untuk menemuinya. Ingin sekali rasanya aku mengusirnya lalu mengunci pintu agar dia tidak pernah kembali lagi ke rumah ini.


Andai tidak ada mama dan kak Ali di rumah. Sudah pasti aku akan mengusirnya cepat-cepat.


Aku lihat pria itu masih duduk tenang. jujur saja pria itu sangat terlihat manis ketika berada di depan orang tua. sedangkan saat kami hanya berdua saja. misalnya, seperti di cafe. dia itu sangat memiliki sifat yang ceplas-ceplos dan sedikit arogan menurutku.


Aku duduk berseberangan dengannya. ku angkat wajahku dan kulihat dirinya lekat-lekat.


Aku berbicara dengan ketus kepadanya. Terlihat pria itu menarik nafas dalam-dalam.


"Tari, Aku berharap kamu mau menerima lamaranku dan pernikahan kita. pikirkanlah kembali semuanya. semua adalah kebaikan untuk kita."


Dia berbicara seakan akan seperti seorang pria yang bijaksana dan bersahaja.


Aku menyunggingkan senyuman. sudah kuduga, dia kembali membahas tentang lamaran dan pernikahan.


Aku sudah menolaknya dengan jelas, tetapi sepertinya pria itu tidak menyerah. Alasannya menikahiku sangat klasik. semua karena keluarga. mungkin kalau dia bilang aku ingin menikahimu, karena aku jatuh cinta', mungkin aku akan mempertimbangkan kembali.


"Mentari Kenapa kamu tidak mau menerima pinangan dari Kenzie dan keluarganya?"

__ADS_1


Mama kembali bertanya kepadaku sambil membawa minuman. padahal aku sudah menjelaskannya waktu itu. Sepertinya Mama tidak menyimak apa yang aku katakan.


sungguh aku sudah jengkel dengan perjodohan ini. kalau aku pergi dari rumah sudah pasti kedua orang tuaku akan sedih. kalau aku menuruti kemauan mereka, akulah yang akan bersedih.


Kenapa takdir percintaanku harus seperti ini? Tuhan kau tahu kalau aku sudah memiliki seorang kekasih. bantu aku untuk meyakinkan kedua orang tuaku membatalkan perjodohan ini. pria di depanku ini pun tidak mencintaiku. kenapa aku harus hidup dengan orang yang tidak pernah mencintaiku? memang aku dengar seiring waktu cinta akan tumbuh. akan tetapi bagaimana kalau cinta itu tidak tumbuh selama kami hidup bersama.


sudah pasti kehidupan kami akan berantakan. rumah tangga kami juga sudah pasti tidak akan langgeng. dan jika semua itu terjadi siapakah yang akan bersedih selanjutnya? sudah pasti kedua belah pihak dari keluarga kami. Aku ingin menghindari itu. bukan karena keegoisanku aku bicara seperti ini. akan tetapi aku berpikir ke depannya.


mama dan Kenzie masih menatapku. mereka mungkin sedang menunggu jawaban dariku. apa yang harus aku jawab? Aku saja tidak memiliki jawaban lagi. semua sudah aku ungkapkan sejak awal. mereka masih saja tetap memaksaku. iya ini juga sepertinya sangat bebal. dia seperti tidak mengerti bahasa Indonesia yang baik dan benar yang sudah aku katakan kepadanya panjang lebar.


"Tari, Kakak rasa. Perjodohan ini baik untukmu. Kamu pasti tahu kalau dikeluarga kita memang sebagian besar menikah karena perjodohan. Mereka bisa membangun rumah tangga dengan bahagian sampai memiliki anak bahkan ada yang sudah memiliki cucu."


Kak Ali mulai ikut nimbrung dengan kami bertiga. Apa yang dikatakan kak Ali benar. Namun, alasanku tetap sama. Aku punya pacar. Aku mau punya kehidupan yang sesuai dengan keinginanku. Aku berharap semua mendukungku.


Aku hanya bisa menarik napas panjang tanpa memberikan jawaban apapun. Semua jawaban sudah aku berikan berkali-kali kepada mereka semua terutama pria itu. Pria yang tadi di cafe menawarkan pembuatan kontrak nikah.


"Tari, sepertinya kita harus bicara berdua." Kenzie seakan ingin mendesakku.


Dengan bicara berdua sudah pasti sifat aslinya akan dia keluarkan. Dia pasti akan membujukku untuk menerima pernikahan ini.


"Kalian ingin bicara berdua? Silahkan, mama dan Kak Ali akan ke dalam."


Mama sempat ingin beranjak dari tempat duduknya.


"Tante, kalau boleh saya ingin mengajak Tari untuk bicara di taman dekat sini."


Mama langsung duduk kembali dan menyunggingkan senyumannya. Senyuman yang terlihat sangat senang sekali. Aku rasa mama seperti orang yang tersihir oleh Kenzie.


"Silahkan. Jika memang itu akan membuat kalian bisa bicara dari hati-hati. Tante hanya ingatkan untuk tidak terlalu malam pulangnya."

__ADS_1


Mama dengan mudahnya mengizinkan aku untuk pergi berdua dengan orang asing ini. Aku tidak tahu kenapa mama begitu percaya dengan Kenzie. Padahal mama juga sepertinya baru bertemu dengan Kenzie baru-baru ini.


__ADS_2