Ternyata aku cinta

Ternyata aku cinta
Part 22 - Honeymoon


__ADS_3

POV Author


.


.


.


Menjadi seorang pengantin adalah impian setiap orang. Mentari juga pernah memimpikannya. hanya saja mimpinya bisa menjadi kandas karena perjodohan ini.


"Udah selesai mandinya?" tanya Kenzie.


Mereka berdua setelah selesai acara pernikahan langsung pulang ke rumah yang sudah di miliki oleh Kenzie sebelumnya.


"Makan malam duluan. Aku mau mandi dulu."


Sejak tadi Kenzie bertanya. Mentari hanya diam saja. Dia tidak menjawab pertanyaan dari suaminya itu.


Mentari masih belum siap menikah secara cepat dan dadakan. Hanya saja dia sudah menerima lamaran Kenzie itu membuatnya terpaksa menikah cepat.


Selesai mandi Mentari langsung menunaikan shalat Maghrib. Dia ingat kata-kata mamanya untuk tidak tinggalkan shalat.


Dalam shalatnya mentari menyerahkan dirinya. Dia pasrah dengan takdir yang Allah SWT berikan kepadanya.


"Ya Allah. Dalam sholat istikharah, kau berikan aku jawaban atas kebimbangan ku. Kau perlihatkan dialah yang terbaik untukku. Aku berharap pernikahan ini selalu diridhoi olehmu ya Allah."


Mentari berdoa selepas shalat Maghrib. Selesai shalat dia melihat Kenzie sudah mengenakan baju Koko dan juga kain sarung.


"Pemandangan yang sangat unik. Baru kali ini aku melihat pria menggunakan baju Koko, kain sarung dan peci. Terlihat sangat tampan dan bercahaya." Mentari memuji Kenzie diam-diam.


"Apa yang sedang kamu lihat? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Kenzie.


"Ti-tidak." Mentari menjadi gugup.


"Usahakan jika aku di rumah kita shalat berjamaah." Kenzie bicara sebelum melafalkan niat shalat Maghrib.


Mentari menjadi semakin kagum dengan kepribadian Kenzie yang tidak dia ketahui. Mungkin ini yang disebut indahnya saling mengenal setelah menikah. Definisi menikah dulu baru pacaran.


Mentari keluar kamar. Dia lihat makan malam sudah tersaji di meja makan.


"Non, silahkan makan malam. Bibi sudah menyediakan makan malamnya." Bi Imah mempersilahkan Mentari makan.


"Nanti, aku tunggu Kenzie dulu."


"Den Kenzie tidak makan malam Non. Dia sangat jarang makan malam." Bibi memberitahukan kebiasaan Kenzie kepadanya.


"Oh, begitu ya Bi. Kalau begitu saya makan malam dengan bibi saja." Ajak Mentari.

__ADS_1


"Bibi makan di meja makan belakang saja Non." Bi Imah meninggalkan Mentari.


Mentari melihat meja makan yang besar dan banyak sekali berbagai macam menu makan malam.


Mentari menyendok nasi dan mengambil beberapa lauk.


"Bi, ayo kita makan bareng." Mentari duduk di bangku dekat BI Imah.


" Non, kenapa tidak makan di meja makan depan?" tanya Bi Imah.


"Aku terbiasa makan malam dengan keluarga Bi. Dan keluargaku di sini salah satunya adalah bibi." Mentari mengaduk nasinya.


Bi Imah merasa terharu. Mentari begitu menganggap kehadiran dirinya. berbeda dengan seseorang yang beberapa kali pernah singgah ke rumah Kenzie.


"Non, nanti kalau Den Kenzie marah bagaimana?" tanya Bi Imah cemas.


"Bi, apa dia orang yang pemarah?" tanya Mentari.


Bi Imah menggeleng. "Tidak Non."


"Kalau begitu, santai saja Bi. Tidak perlu di pikirkan. yang penting sekarang kita makan. Dan setelah itu aku ingin minta bantuan bibi untuk tahu setiap sudut rumah ini." Mentari melirik ke arah Bi Imah.


"Biar aku saja yang menemanimu berkeliling rumah kita."


Kenzie tiba-tiba muncul dan menghampiri mereka.


"Den." Bi Imah bangkit dari duduknya.


"Cepat habiskan makanannya. Nanti kita berkeliling. Ada yang ingin aku bicarakan juga denganmu." Kenzie mulai berwajah serius.


Mentari menjadi takut, tapi dia tetap santai. Dia tahu kalau Kenzie pria yang baik. Hanya saja sedikit terlalu dingin sebagai seorang pria.


"Non, apa Den Kenzie marah ya?" Bi Imah ternyata menyimpan rasa takut.


"Kata bibi, Kenzie baik. kalau baik dan tidak pernah marah. kenapa bibi takut?" Mentari segera menghabiskan makan malamnya.


...****************...


Kenzie menaruh tangannya di belakang punggung. Dia berjalan beriringan dengan Mentari yang sudah resmi menjadi istrinya tadi siang.


"Tari, Kakek sudah menyiapkan tiket pesawat dan villa untuk kita honeymoon di Bali. Kemungkinan selepas shalat subuh kita akan segera berangkat ke bandara."


Mendengar perkataan Kenzie. Mata Mentari yang tadinya biasa saja menjadi terbuka lebar. Dia terkejut setelah pernikahan yang begitu cepat sekarang honeymoon yang mendadak.


"Apa tidak bisa dibatalkan saja?" tanya Mentari yang tak berharap pergi.


"Apa kamu tidak mau pergi?" tanya Kenzie.

__ADS_1


Mereka berdua menghentikan langkahnya. Berdiri ditepi kolam renang. Kenzie menatap Mentari intens. Membuat degup jantung Mentari berdetak lebih cepat seperti gendang yang tengah di tabuh.


"Bu-bukan tidak mau. Hanya saja ini terlalu mendadak." Mentari mundur satu langkah.


Kenzie yang melihat sikap gugup Mentari. Terlintas ide jahil di otaknya. Ketika istrinya mundur satu langkah. Dia maju satu langkah.


"Aaah."


Kenzie langsung menangkap tubuh kecil Mentari dengan satu tangannya. Kini tubuh mereka saling berhimpitan hanya terhalang kain baju yang mereka kenakan.


"Jangan mundur jika tidak mau tercebur. Jangan menghindar jika tidak mau terus dikejar."


Kenzie membenarkan posisi tubuh istrinya dan melepaskan pegangannya. Kenzie melangkah pergi. Mentari yang masih syok karena hampir terjatuh ke kolam ditinggal sendirian oleh Kenzie.


"Dasar wanita aneh. Hanya diberi tatapan begitu saja sudah kehilangan kendali."


Kenzie menyunggingkan senyuman di bibirnya. Dia terlihat begitu menikmati menjahili istrinya sendiri.


Kenzie terus berjalan hingga sampai di sebuah pintu. Dia membukanya dan masuk ke dalamnya.


Sesampainya di dalam ruangan itu Kenzie duduk di kursi kebesarannya. Sebuah ruangan yang tertata rapih yang didalamnya terdapat meja kerja, kursi dan lemari yang terdapat beberapa buku yang telah di susun rapih.


Kenzie melihat ponsel yang sejak pulang tadi dia letakkan di meja kerjanya. Dia melihat lima panggilan tak terjawab dari Tamara.


"Maafkan aku Tamara. Aku akan jelaskan semuanya ketika kita bertemu nanti." Kenzie mengunci kembali layar ponselnya.


Kenzie memiliki satu rahasia yang belum dia ceritakan kepada Mentari dan keluarganya sendiri. Kenzie adalah putra yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Banyak hal yang dia tinggalkan termasuk hobinya.


Demi keluarga yang sangat dia cintai. Dia mampu mengorbankan perasaannya sendiri. Kenzie langsung menerima permintaan kakek dan papa nya untuk menikah dengan wanita pilihan kakeknya.


"Maafkan aku mentari. Suatu hari nanti kalian akan aku pertemukan. Dan saat itu aku akan menentukan kemana arah rumah tangga ini akan aku bawa," gumam Kenzie.


...****************...


Mentari masuk ke dalam kamar utama. Kamar dimana dia dan Kenzie akan tidur bersama. Tidak seperti di drama-drama atau di novel-novel yang pasangannya tidur terpisah. Kenzie memutuskan mereka untuk tidur bersama meski tidak menjalankan kewajiban mereka masing-masing.


Mentari mencari sosok Kenzie. Namun, pria itu tidak ada. "Kemana dia? bukannya tadi dia masuk ke dalam rumah?"


Mentari menutup pintu kamar mandi karena Kenzie tidak berada di sana. Dia mencari ke ruang ganti dan suaminya pun tak ada.


"Kamu mencariku?" Kenzie muncul tiba-tiba.


Mentari menjadi salah tingkah lagi.


"Apa istriku ini tidak sabar untuk tidur satu ranjang denganku?" Kenzie menggoda Mentari.


"A-aku tidur tidur di sofa saja." Mentari menarik satu buah bantal.

__ADS_1


Dengan cepat Kenzie mencegahnya. "Tidur di kasur ini. Kita suami istri. Sudah sah dan halal. kamu tenang saja. aku tidak akan menyentuhmu. Masih ada satu persoalan lagi yang harus aku selesaikan. setelah itu baru aku akan menjalankan kewajibanku dan menerima hakku."


Mentari menjadi merem melek mendengar perkataan Kenzie. Dia tidak bisa membayangkan jika mereka benar-benar melakukan hubungan suami istri tanpa rasa cinta. Pasti akan hambar rasanya.


__ADS_2