Ternyata aku cinta

Ternyata aku cinta
Part 18 - Jawaban apa yang akan kuberi


__ADS_3

Di dalam salat malamku aku berdoa kepada Allah memohon agar aku mendapatkan jawaban tentang jodohku.


Jika dia memang menghubungkanku untuk bersama dengan Kenzie maka aku akan menerima perjodohan ini. Namun jika Kenzi bukanlah yang terbaik untukku maka aku akan menolak perjodohan ini.


Setelah menunaikan salat malam dan berdoa. Aku pun kembali tertidur di kasurku yang selama ini menemaniku di setiap malam.


******


Pagi menjelang hari ini aku tidak pergi ke kampus karena memang tidak ada mata kuliah di hari Kamis ini.


Biasanya hari kamis akan menjadi hari yang manis untukku. Namun kali ini hari Kamis tak semanis hari-hari yang biasanya.


Hari ini aku tetap dalam kemelut perjodohan. Aku masih terus memikirkan jawaban apa yang akan kuberikan kepada keluarga Kenzie.


Saat aku mencari ponselku terdengar dering ponsel dan kulihat ternyata Tami yang menelponku.


"Halo Tami."


"Halo, Tar."


Aku dan Tami saling menyapa. Tami menghubungiku pagi pagi sekali.


"Ada apa Tam?"


"Tar gimana kemarin?"


Ternyata Tami menghubungiku karena penasaran dengan apa yang terjadi kemarin.


Sungguh aku sangat enggan untuk bercerita kepadanya mengenai urusanku kemarin.


"Cerita dong Tari sama aku. Aku kan mau dengar apa yang kalian bahas."


Temanku yang satu ini sangat-sangat kepo. Inilah alasan kenapa aku tidak ingin bercerita kepada Tami mengenai perjodohan ini. Tami pasti ingin tahu semuanya.


Aku pun akhirnya bercerita kepada tami tentang semua yang sedang aku hadapi.


"Tar Kenapa kok nggak jadiin perjodohan ini untuk membuat si Doni itu merasa frustasi. Selama ini kan dia masih ngejar-ngejar tuh. Tunjukin kalau kamu tuh udah nggak ada rasa dan move on dari dia."


Benar juga apa kata kami barusan. Bujukan Tami ternyata mengenang kepadaku. Aku kemudian berpikir. Benar juga ya. Aku memang sangat berambisi untuk membuat Doni patah hati dan membuatnya menyesal.


Tapi jujur sebuah pernikahan bukan untuk ajang balas dendam. Aku tidak mungkin menikahi Kenji hanya untuk balas dendam kepada Doni.

__ADS_1


"Tar kamu masih di situ kan Tar?"


Tamiang sejak tadi tidak mendengar suaraku mulai memanggil-manggilku.


"Iya masih di sini tenang aja."


"Jadi gimana setuju dengan ide itu?"


"Nggak bisa dong Tam. Kau pikir nikah itu untuk main-main apa? Pernikahan itu kan sekali untuk seumur hidup."


Aku pun menolak ide dari sahabatku itu. Aku tidak setuju seratus persen dengan idenya hanya saja menurutku itu mungkin ada benarnya juga.


"Tari nanti kalau kamu jadi nikah sama dia. Aku akan menjadi Bridesmaids."


Apaan sih ini si Tami orang lagi bingung malah dia bahas tentang bridesmaid.


"Udah ah mau istirahat dulu masih ngantuk tau nggak."


Aku kemudian menutup telepon dari Tami. Aku masih enggan membicarakan tentang pernikahan ini lagi. Hari saja aku berharap tidak ada yang membahas tentang pernikahan dan perjodohan ini.


Awalnya aku ingin merebahkan tubuhku lagi di atas kasurku. Namun jika aku terus di dalam kamar. Maka pikiranku akan kembali tertuju kepada jawaban apa yang akan aku berikan.


Hal ini mengingatkanku kepada sebuah lirik lagu yaitu.


Begitulah kira-kira lirik lagu yang aku tahu. Jika dia datang kembali jawaban apa yang akan aku beri? Sedangkan perasaanku masih tidak menentu.


Rasanya luka yang kemarin saja belum sembuh. Jika pernikahan ini mendatangkan luka Lagi untukku. Bagaimana caraku untuk membalut luka yang ada di hatiku kelak.


Aku memutuskan untuk keluar dari kamar. Saat aku melangkah berjalan kudapati Mama sedang duduk di ruang tamu.


Mungkin mama saat ini sedang memikirkan apa yang akan menjadi keputusanku.


Saat aku mendekat ke arah mama. Mama hanya terdiam memperhatikanku.


"Hari ini mama tidak jualan?"tanyaku.


"Hari ini Mama memilih libur dulu. Sehari saja libur itu penting untuk mama yang bekerja sebagai pedagang di rumah."


Aku mengganggu mengerti maksudnya mama.


Aku duduk di samping mama. Tidak lama kemudian Mama mengusap rambutku.

__ADS_1


Rambut yang masih berantakan karena memang aku belum mandi. Selepas salat subuh tadi dan mendapat telepon dari Tami membuatku mengurungkan niat untuk mandi lebih pagi.


Cuaca yang terus-menerus hujan sejak malam. Membuat udara menjadi lebih dingin. Sehingga aku enggan untuk menginjakkan kaki ke dalam kamar mandi.


"Sarapannya Belum dibuat ya, mah?"


Kak Ali datang ke ruang tamu masih menggunakan kain sarung. Aku tahu kebiasaan kali setelah salat subuh. Dia pasti akan mengaji hingga waktu menunjukkan jam 06.00 pagi.


"Kamu beli bubur dulu saja Li. Atau tunggu tukang ketupat sayur lewat. Mama hari ini sedang malas membuat sarapan."


Baru kali ini aku mendengar kalau mama malas membuatkan sarapan untuk kami semua.


Aku rasa Mama sedang banyak pikiran. Pikiran tentang pinangan Kenzie untukku.


"Mah, Bisakah mereka memberi waktu untukku lebih lama?"


Aku bertanya kepada Mama. Mama masih menyisir rambutku lalu menguncir.


"Mama ngerti Mentari. Hanya saja Mama bingung apa yang harus dikatakan oleh kita kepada keluarga Kenzi? Sedangkan keluarga Kenzie sudah menantimu. Dan kakeknya Kenzie juga sekarang sedang sakit. Kita tidak tahu seberapa lama lagi umurnya."


Rasa frustasi terlihat dari raut wajah mama. Aku sebenarnya tidak pegang melihat Mama yang memikirkan semuanya.


"Apakah mama dan juga Papa menikah karena jodoh kan?"


Benar sayang mama dan papa dijodohkan oleh kakak mama. Ternyata keluarga kita saling setuju maka pernikahan itulah terjadi."


Mama pun menceritakan awal mula pertemuannya dengan papa. Mendengarkan dengan secara seksama bagaimana mereka bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menikah.


"Awalnya Mama dan Papa juga tidak saling mencintai?"


"Benar sayang mama dan papa awalnya kita saling karena kami terbiasa hidup bersama dan saling melengkapi. Lama kelamaan cinta itu tumbuh di hati kami berdua. Dan itulah yang membuat Mama yakin bahwa kamu dan Kenzie bisa membangunnya dan menumbuhkan cinta itu."


Aku pun kembali berpikir. Jika Mama saja bisa menumbuhkan rasa cintanya kepada papa. Apa aku tidak bisa memulainya dengan Kenzie.


Sekarang aku sudah bisa mengambil keputusan setelah berbicara dengan mama dari hati ke hati.


Aku akan memberikan jawabannya besok kepada Kenzie dan juga keluarganya.


Mungkin inilah yang disebut jika ada masalah kita bicarakan dengan orang lain. Mencari solusi adalah jalan yang tepat untuk menyelesaikan masalah.


Aku yang sejak tadi mendengarkan cerita mama seakan-akan pikiranku mulai terbuka.

__ADS_1


Pemula menyadari satu hal. Bahwa Cinta yang sesungguhnya adalah cinta kepada Tuhan. Sedangkan cinta kepada manusia ada sebuah bentuk rasa untuk melengkapi kehidupan.


__ADS_2