Ternyata aku cinta

Ternyata aku cinta
Part 8 - Nada bicara


__ADS_3

Aku meninggalkan pria yang tidak memiliki pendirian itu. Pria itu sangat menyebalkan bagiku. Dia tidak mau menikah, tapi memilik menikah dengan ku.


Sudah begitu dia berusaha bernegosiasi denganku dengan membuat kontrak pernikahan.


"Dia memang pria teraneh yang pernah aku temui."


Aku naik ke dalam taksi online yang sudah ku pesan. Selama di dalam taksi tak hentinya aku merutuki pria yang tadi aku temui.


"Bisa-bisanya Mama menikahiku dengan pria macam seperti itu," kataku sambil komat-kamit sendirian di dalam mobil.


Mungkin sopir taksi itu merasa aneh. Karena ada anak gadis yang bicara sendirian.


Aku memperhatikan jalan. Aku saat ini hanya bisa termenung sendirian. Aku tidak tahu harus bicara dengan siapa. Semua orang sangat menginginkan aku untuk menikahi pria itu.


Dua puluh menit sudah perjalanan yang aku tempuh menggunakan taksi online.


"Terima kasih, Pak."


Aku menyodorkan selembar uang berwarna hijau. Sopir itu menerimanya dan kembali melajukan mobilnya.


Aku sampai di depan rumah dan membuka pintu.


"Kamu habis dari mana?" tanya mama yang ternyata sudah pulang dari berjualan.


"Habis ketemu temen. Aku masuk ke kamar dulu ya."


Aku menarik handle pintu dan masuk ke dalam kamar. Ku buang tasku sembarang hingga membentur tembok. Aku lalu merebahkan tubuhku di atas ranjang tempat tidur.


Bagiku hari ini cukup melelahkan. Berdebat panjang lebar dengan pria yang tidak memiliki pendirian sungguh menguras emosi dan tenaga.


"Lihat saja. Aku tidak akan pernah mau untuk menikah denganmu!"


Aku mengepal tanganku di udara sambil membayangkan sedang meninju wajah pria itu.


Seharusnya seorang pria memiliki sikap yang tegas. Seorang pria itu adalah pemimpin. Imam dalam keluarga. Sudah sepatutnya memiliki prinsip dan ketegasan terhadap dirinya sendiri dan juga orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Jadi cowok kok lembek banget." Aku melipat tanganku dan meringkuk diatas ranjang.


Mataku makin lama kamin terasa berat. Aku akhirnya memilih untuk memejamkan mata sejenak sebelum waktu makan siang datang.

__ADS_1


****************


Adzan subuh berkumandang. Aku yang mendengarnya di dalam kesadaran ku yang masih setengah-setengah mulai terbangun.


Aku meregangkan seluruh tubuhku. Aku lalu  beranjak menuruni ranjang. Aku pakai sandal yang biasa ku gunakan untuk berwudhu.


Ku buka pintu kamar dan terdengar suara Mama sedang mengobrol dengan seseorang.


Ku intip ke depan ruang tamu. Ku lihat siapa yang sedang ngobrol dengan mama.


Aku membekap mulutku sendiri. Ternyata pria yang tadi aku temui di cafe. Dia menemui mama dan sepertinya penuh dengan konspirasi.


Aku memutar balik tubuhku dan berjalan mengendap agar tidak ketahuan oleh mereka.


"Tari."


Ternyata aku gagal. Mama mengetahui keberadaan diriku.


Aku segera mengubah posisiku lagi. Aku berjalan menuju arah ruang tamu. Kali ini aku melihat jelas wajah pria yang tadi aku intip di balik tembok.


"Tari, sepertinya Kenzi ingin bicara denganmu."


"Tari mau sholat dulu, Mah." Aku berjalan menjauh dari ruang tamu.


Aku mendengar dari kejauhan mama meminta maaf atas sikapku yang kurang bijak.


"Kenapa mama harus meminta maaf?" gumamku sambil membuka pintu kamar mandi.


Aku membuka keran kamar mandi dan bersiap untuk mengambil wudhu. Adzan Zuhur sudah berkumandang dua puluh menit yang lalu. Aku tidak mau menunda sholat.


Selesai shalat aku hendak pergi ke dapur karena merasakan lapar. Aku juga berusaha menghindari dua orang yang tengah berbincang di ruang tamu.


Aku menyendok nasi dan mengambil beberapa lauk. Aku masuk ke dalam kamar. Biasanya aku makan di meja makan yang terletak di dapur. Demi menghindari mama dan Kenzie.


Selama makan aku terus mengawasi Kenzie. Aku tak melihat dia beranjak dari duduknya.


Rasa geram mulai bersarang di hatiku. Aku tak menyangka pria itu memiliki kegigihan yang tinggi.


"Ternyata kamu cukup kuat juga. Bagaimana caraku untuk bisa menghindarinya?"

__ADS_1


Aku berpikir sambil terus mengunyah makanan yang sudah mendarat di dalam mulutku.


Aku mendengar samar-samar apa yang di bicarakan mama dengan Kenzie. Aku berharap pria itu cepat pulang.


Sebentar lagi Kak Ali pasti pulang. Kalau dia sudah pulang pasti obrolan mereka akan semakin panjang. Apalagi pria ketemu dengan pria sudah pasti mereka akan nyambung saat mengobrol meski obrolannya ngalor ngidul.


"Kalau begitu, saya pamit dulu, Tante. Nanti ada waktu saya kembali lagi."


Terdengar kalau Kenzie berpamitan. Hatiku rasanya sangat senang sekali. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Itu mungkin pribahasa yang cocok untuk saat ini. Menanti kepergian pria yang hampir saja membuat emosiku meledak hari ini.


"Aku taro piring dulu, ah. Abis itu aku mau telepon Doni."


Aku meraih piring dan membawanya keluar kamar.


"Aaah."


Aku berteriak karena terkejut. Mama ternyata sudah berdiri di depan pintu kamarku. Pasti mama sedang menungguku keluar kamar. Dan aku akan mendapatkan ceramah pastinya setelah ini.


"Tari, kenapa kamu terus menerus menghindar dari Kenzie?"


Mama langsung menaikkan nada bicaranya satu oktaf. Dulu Maman sering memakai nada itu hanya untuk membangunkan aku ketika adzan subuh sudah berkumandang. Sekarang karena pria itu, mama menaikkan nada bicaranya kepadaku saat bicara.


"Mah, Tari'kan sudah bilang. Tari tidak mau menikah dengan dia. Tari tidak mau dijodohkan."


Aku kembali mengutarakan isi hatiku. Hanya saja mungkin mama tidak akan menerima penolakan ini.


"Tari, mama tahu. Mama mengerti kenapa kamu tidak ingin menikah dengannya. Mungkin saat ini kamu menyukai pria lain dan berpikir belum saatnya untuk menikah. Ketahuilah Tari. Kekhawatiran orang tua terhadap putrinya sangat besar."


Mama dan aku masih berdiri di ambang pintu sambil berdebat.


"Tari, kamu pasti pernah dengar. Perempuan itu bawa perut. Jadi jangan macam-macam. Lebih baik menikah lewat pintu depan daripada menikah lewat pintu belakang."


Mama meneruskan perkataannya.


"Mah, Tari mengerti. Tari juga tidak akan melakukan hal diluar batas. Tari tahu diri. Tari adalah wanita yang harus menjaga kehormatan."


Aku tahu betul maksud perkataan mama. Aku juga tahu betul sebesar apa kekhawatiran mereka terhadapku. Kasih sayang mereka membuat mereka ingin selalu menjaga dan melindungi ku, tapi aku juga punya pilihan untuk hidupku. Aku juga mau hidup sesuai dengan apa yang ada di benakku. Aku sudah merancang semuanya. Tinggal aku berusaha saja bagaimana caranya agar semua terwujud satu persatu.


Aku ingin menikah dengan acara sederhana, tapi elegan. Aku mau menikah dengan pria yang mencintaiku dan aku mencintainya. Pernikahan harus ada yang namanya saling membalas rasa. Jika hanya satu disebut cinta bertepuk sebelah tangan. Nah jika keduanya tidak saling cinta? Bagaimana kehidupan akan berjalan selaras?

__ADS_1


__ADS_2