
Kenzi terus menarik tanganku. Dia tidak memberiku kesempatan untuk kabur darinya. Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan kepadaku. Aku bukan takut ikut dengannya. Aku tahu dia pria baik-baik, jadi tidak mungkin melakukan hal buruk. Dia juga pria yang terhormat yang banyak dikenal orang. Sudah pasti jika dia bersikap diluar garis wajar, akan membuat nama baiknya hancur.
"Kita bicara di sini." Kenzie menuntunku untuk duduk di kursi cafe yang terletak tak jauh dari kampus.
Aku duduk dan memandang kepadanya. Pria yang tadi menarik ku pun duduk dan turut memandangku. Kedua manik mata kami bertemu secara sadar. Kami membagi pandangan dengan cara menatap masing-masing.
Aku tidak tahu apa yang akan dia bicarakan lagi denganku. Kalau dia membicarakan tentang perjodohan kami lagi. Sudah aku putuskan dia pria yang bebal. Dia juga pria yang tidak mudah menyerah dan senang membuat orang jengkel.
"Kamu tunggu saja di sini. sebentar lagi mereka akan datang dan kita akan bergabung dengannya."
Mendengar kata-katanya. Aku menjadi bingung, siapa yang akan datang dan kenapa kami yang bergabung dengan mereka? Bukan mereka yang bergabung dengan kami.
Kami menunggu tanpa suara sedikitpun. Aku malas bicara dengannya. Aku pasti ujung-ujungnya emosi mendadak menguap dan berbunyi seperti teko yang biasa mama pakai untuk masak air.
"Ayolah sayang. Jangan terus merajuk begitu. Lagi pula aku berpacaran dengan wanita itu karena teman-temanku."
Terdengar seorang pria sedang membujuk seseorang agar memaafkannya. Aku ingin menoleh tapi takut.
"Sayang, kamu'kan tahu. Mereka membuat taruhan dan ternyata saat aku peserta pertama dan langsung berhasil mendapatkan jawaban Iyah. aku tidak akan jatuh hati kepadanya."
Suara yang aku kenal terdengar kembali di telinga ku. Terdengar jelas pemilik suara itu seakan sedang berbicara tentangku.
Aku melihat ke belakang dan ternyata benar dia. Emosiku ternyata mendidih bukan karena pria yang ada di hadapanku, tapi mendidih karena pria yang selama ini menjalin hubungan denganku.
Aku bangkit dari dudukku dan berjalan ke arah pria itu. Aku dapati dia tengah duduk sambil menggenggam tangan wanita yang ada di depannya. Dia terus memohon agar wanita itu percaya akan cintanya.
Dengan hati yang sakit dan langkah yang berat aku semakin mendekat kepada mereka berdua. Aku menarik baju bagian belakang pria yang selama beberapa bulan ini menjadi kekasihku.
Jujur saja sebenarnya aku memang menyukainya sejak awal pertemuan kami saat orientasi mahasiswa dulu. Aku terus memperhatikannya sejak itu. Bahkan aku sering berpura-pura lewat kelasnya saat sedang mau pergi ke kantin. Padahal kalau di pikir ke kantin dengan melewati kelasnya cukup memutar, tapi tetap aku lakukan.
Doni langsung menoleh ke arahku. Dia terkejut dengan keberadaan ku.
"Kamu?" dia memekik kecil.
__ADS_1
Aku menyeringai dan aku terus mencengkram bajunya.
"Kenapa? Kaget? Enggak nyangka?" Aku langsung memberi beberapa pertanyaan kepadanya.
Dia pasti menyangka kalau aku sedang ada di kelas untuk mengikuti mata kuliah di jam pertama.
"Jadi kamu berpacaran denganku karena taruhan saja?" tanya ku kepadanya dengan geram.
"Ta-tari. Bu-bukan begitu maksudku."
Pria itu bicara dengan terbata. Aku tidak tahu kenapa dia ketakutan seperti orang yang kepergok selingkuh.
"Tari, kamu kenapa bisa di cafe ini? Bukannya kamu ada jam mata kuliah hari ini?"
Benar saja. Dia memang menyangka kalau aku ada di kelas saat ini. Sungguh pria picik. Dia berani dekat-dekat dengan pacarnya ketika aku sedang ada di dalam kelas.
"Jadi begini kelakuan kamu yang sesungguhnya?"
"Tari kamu salah paham. Dia adalah temanku. Kami sedang latihan adu peran."
Alasan mulai terdengar dari bibirnya. padahal aku dengar jelas dan buat apa latihan adu peran di cafe yang banyak orangnya. Dia pikir aku wanita bodoh yang bisa percaya begitu saja kepadanya? Sungguh pria naif.
Aku hempaskan tubuhnya hingga menyentuh meja cafe. Dia tersungkur karena posisinya yang tak berdiri dengan benar.
Aku benar-benar kecewa. Selama ini aku menjalin kasih dengan perasaan tulus. Dia malah seenaknya mempermainkan perasaanku. Aku tak terima diperlakukan seperti ini.
"Beb! Apa-apaan kamu bilang aku adalah temanmu? Kita sudah pacaran selama satu tahun. Dan kenapa kamu ketakutan saat kepergok sedang bersamaku?"
Wanita itu menunjukkan protesnya kepada pria yang sejak tadi terus meladeniku.
Aku terasa menjadi lemas. Aku benar-benar tidak menyangka perasaanku akan diaduk-aduk seperti ini olehnya. Perasaan yang aku persembahkan seutuhnya untuknya.
"Diam Nia. Biarkan aku bicara dengannya dulu."
__ADS_1
Aku lihat Doni terlihat kesal dengan Nia. Aku juga merasa kalau Doni menyembunyikan sesuatu kepada kekasihnya itu.
"Mentari, aku mohon jangan tinggalkan aku. aku tidak menjalin hubungan dengannya."
Doni kembali menyangkal semua yang sudah terlihat jelas di depan mataku dan jelas terdengar semua perkataannya di telingaku. aku tidak tuli dan tidak buta sehingga dia merasa bisa membodohiku.
"Don. Kenapa kamu bilang begitu? Lagipula buat apa kamu mempertahankannya. Kamu bilang dia hanya barang taruhan kalian jadi biarkan dia pergi." Nia melarang Doni mengejarku.
"Stop Nia. Kamu tidak tahu apapun. Kamu tidak tahu apa rencana kami." Doni menghempaskan tangan Nia.
Terdengar jelas di telingaku. Ternyata benar semuanya. Jadi selama ini aku menjadi taruhan mereka? Apa tadi dia bilang? Aku adalah barang taruhan? Wanita macam apa dia? Sungguh dia wanita tak berperasaan.
Aku pergi dengan perasaan kesal. Kenzie terus bersamaku. Dia mendampingiku.
"Hapus air matamu."
Sebuah sapu tangan diberikan Kenzie untukku. Aku merasa semakin ingin menangis. Aku menahannya karena malu kepada Kenzie. Aku tidak mau di cap sebagai wanita lemah yang menangis karena di sakiti pria.
Jujur hati ini sangat hancur. Aku tidak mengerti lagi bagaimana harus membenahi hati ini.
Aku juga tidak mengerti kenapa bisa Kenzie mengajakku ke sana. Sehingga aku bisa melihat Doni bersama wanita itu.
Entah Kenzie sengaja karena dia tahu atau ini semua hanya sebuah kebetulan.
"Kenapa kamu mengajakku ke sana dan siapa sebenarnya yang akan bergabung dengan kita di cafe?" Tanyaku.
Kenzie hanya diam saja. aku menatapnya dia hanya fokus menyetir.
"Jadi siapa yang akan bergabung dengan kita di cafe? bukan Doni'kan?"
aku kembali mengajukan pertanyaan. Aku sangat penasaran. Namun, orang yang aku tanya ternyata kembali diam seribu bahasa.
Kenzie seakan tidak mendengar pertanyaan yang aku lontarkan kepadanya. atau entah dia tidak mendengar, tapi itu tidaklah mungkin.
__ADS_1