
Xavier memaki dirinya sendiri di pantulan cermin di dalam bathroom, ingin melupakan kejadian semalam tapi otaknya tak mau bekerja sama. Bahkan saat tadi dia membuka matanya, Sabrina tersenyum sinis padanya seolah dia pria paling munafik.
Dugh Dugh.
"Xavier! Bagaimana pun kau mencoba menghindariku tapi kau harus menerima kenyataan nya! Kau dan aku sudah bersama, jadi jangan harap kau bisa berpisah dariku!"
Gedoran di pintu bathroom membuatnya semakin muak apalagi mendengar suara wanita menjijikkan itu.
"Hari ini aku akan melepaskanmu! Pakaian mu yang semalam basah, aku sudah membeli pakaian baru untukmu sesuai ukuran mu. Pakai itu! Aku akan pergi, Papa meneleponku karena ada klien penting yang akan datang ke Perusahaan. Ah, apa kau mengenal Vard Ramberd? Kata Papa dia adalah pembisnis sukses dari kota K. Dua jam lagi, pria itu meminta bertemu."
Degh! Vard!
"Pergilah! Aku juga tidak mengenal nama yang kau sebutkan!" akhirnya Xavier menjawab.
"Jangan lama-lama di dalam, kau akan sakit," terdengar nada penuh perhatian dari Sabrina.
Xavier menunggu suasana diluar bathroom sepi, dia membuka pintu sedikit mendengarkan. Sepertinya wanita licik itu sudah keluar, saat terbangun tadi dia juga sudah menerima video dari adiknya jika gadis itu sudah kembali ke rumah dengan selamat.
Dia berjalan ke arah ranjang yang masih berantakan, pemandangan itu sangat menyakiti mata nya. Tapi saat memikirkan Krystal dan mendengar cerita tentang kematian sebenarnya kedua orang tua wanita itu yang sengaja dibunuh, ia menekadkan niatnya untuk membantu Krystal mendapatkan kembali tempatnya meskipun dia harus menjadi pelayan bagi Sabrina untuk memenuhi hasrat wanita gila itu.
"Maafkan aku, Krystal. Aku tak bisa kembali padamu, tapi aku berjanji akan mengembalikan semua pada tempatnya," tekad Xavier.
__ADS_1
Esther membawa putranya pulang lebih awal setelah meminta ijin pada pihak sekolah, karena pihak sekolah menghormati Vard sebagai Daddy Justin tentu saja pihak sekolah mengijinkan meksipun kegiatan berkemah masih akan selesai besok.
Kini di dalam rumah Esther, Vard sedang duduk di ruang tamu. Paman Darish juga sudah datang, Esther sengaja memanggil Paman nya itu.
Kini mereka bertiga sedang duduk bersama, Justin dikurung di dalam kamar oleh Esther untuk merenungi kesalahan-kesalahannya.
"Esther, Justin tidak bersalah. Paman yang salah, paman hanya ingin anak itu bisa melindungi dirinya sendiri dan melindungi kamu."
Esther menghela nafas, "Aku akui Paman melakukan ini untuk kami, tapi bukankah Justin masih terlalu kecil? Kenapa Paman tidak menunggu dia besar?"
"Kita tidak ada waktu, pengesahan pemindahan seluruh warisan milik Ibumu akan di klaim setelah kematian 20 tahun setelah kejadian kecelakaan pada Ibumu. Paman sudah memeriksa dokumen pengalihan warisan itu dari teman Paman, semua sudah siap tinggal menunggu waktu. Usiamu kini 25 tahun, sepertinya pengalihan itu akan dilakukan saat tanggal ulang tahunmu yang ke -26 tahun."
"Queena, tidak bisakah kamu melupakan semuanya. Kamu adalah wanita sukses, aku juga tidak kekurangan uang. Justin bisa hidup tanpa uang dari warisan keluargamu."
Esther menatap Vard tajam, "Mereka sudah membunuh Ibu dan Ayahku! Kau pikir aku ingin kembali hanya karena warisan!"
Vard tertegun, sepertinya dia salah bicara. "Maaf, aku tidak berpikir sampai kesana. Maafkan aku."
Esther menghembuskan nafas kesal, "Jika ingin bicara omong kosong, pergilah!"
Vard bergeming, tetap di posisi duduknya. Pria itu kini menutup mulutnya, hanya akan mendengarkan.
__ADS_1
Darish menatap bergantian kepada Esther dan Vard, dia menggelengkan kepalanya. "Jadi, sekarang mau bagaimana?"
"Aku tidak akan bersembunyi lagi, aku akan datang kepada mereka," Akhirnya Esther memutuskan rencana berikutnya.
"Hahhhh..." Vard hanya mendessah, dia tak berani melarang wanita itu.
"Paman ikut saja, tapi harus direncanakan dengan matang. Kamu siap?"
"Tentu, hanya saja aku ingin Justin lebih di jamin kesalamatan nya daripada aku. Aku ingin 24 jam ada body guard yang menjaganya."
"Aku yang akan mencarinya, dia adalah putraku. Melindunginya adalah kewajibanku, jadi jangan menolak," ujar Vard.
"Baiklah, aku menyerahkan keselamatan Justin padamu. Kau tau kan, itu artinya aku mempercayaimu Vard."
Vard menatap mata Queena, wanita itu menatapnya dengan penuh kepercayaan padanya, "Aku tau, terima kasih kau memberikan kepercayaan mu padaku. Aku berjanji akan menjaga Putra kita."
Esther mengangguk, "Baiklah, mulai sekarang namaku adalah Krystal. Paman Darish, mulai urus identitas-ku yang sebenarnya, DNA-ku dengan Mama dan Papa. Lalu bukti-bukti lainnya, termasuk benda yang ada di dalam kalungku."
"Baik, Paman akan segera menyelesaikan nya."
Vard menatap penuh kekaguman pada Queena, ternyata wanita yang dulu hanya seorang gadis yang selalu manja dan menangis di pelukan nya kini sudah berubah menjadi wanita hebat dengan pemikiran yang sudah matang.
__ADS_1