Terpaksa Melayani Hasrat Daddy

Terpaksa Melayani Hasrat Daddy
Kilasan Masa Lalu.


__ADS_3

Ronald menatap dingin pada wanita yang mengaku sebagai Krystal. Wajahnya jangan dikatakan lagi sangat terlihat buruk.


"Aku harus memanggilmu apa, Tuan Ronald? Kamu adalah sepupu Mamaku, hm. Aku panggil Paman saja, bagaimana kabarmu Paman?"


"Apa kau pikir dengan tiba-tiba datang kembali, kau bisa menguasai rumah ini?" ujar Leon dingin, putra pertama Ronald.


"Ah, namamu Kak Leon bukan? Kakak, aku datang hanya ingin mengunjungi kalian. Tapi sebenarnya jika harus dibilang, bukankah rumah, perusahaan, villa, mobil, perhiasan semua yang kalian miliki adalah warisan milik Mamaku? Tapi, aku takkan mengambilnya. Aku tidak kekurangan uang, kakak. Kalian bisa tenang," jawab Krystal dengan tersenyum lembut.


"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Ronald.


"Paman, aku hanya ingin mengingat masa kecilku bersama orang tuaku saat tinggal disini. Kebetulan saat kecelakaan itu, memori ingatanku sedikit buruk aku bahkan tidak bisa mengingat apapun. Jadi, bolehkah aku tinggal disini? Lagipula jika kalian menolak, aku bisa langsung mengusir kalian dari rumah ini. Aku hanya ingin kita hidup berdampingan bersama di rumah ini, bagaimana?"


Kelima pasang mata saling melirik, Sabrina maju berbisik di telinga sang Ayah. Ronald mengangguk.


"Baiklah, aku setuju. Datanglah kapan saja, kami akan menyambutmu. Kita adalah keluarga, bukan?" ucap Ronald tersenyum ramah.


Krystal tak memperdulikan senyuman mencurigakan pria itu, selangkah demi selangkah dia akan membalas semuanya.


"Oke, Paman. Bolehkah hari ini-"


"Esther!" suara Xavier yang baru saja datang memotong perkataan Krystal.


"Xavier? Sedang apa kamu disini?" tanya Krystal terkejut yang benar-benar tidak tau apapun tentang Xavier yang adalah tunangan masa kecilnya.


"Aku-"


"Perkenalkan, Krystal. Dia adalah tunanganku, kami sebentar lagi akan menikah. Iya, kan sayang?"


Xavier terdiam, dia menatap Krystal dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Apa kalian saling mengenal?" tanya Sabrina pura-pura.


Krystal masih belum mengerti, dia tak mengalihkan tatapan nya dari wajah Xavier menatap tak percaya pada pria itu. Kenapa Xavier tak jujur padaku sudah mempunyai tunangan?! Apa selama ini dia hanya mempermainkan ku?!

__ADS_1


"Hallo, aku bertanya apa kalian berdua sudah saling mengenal?" tanya Sabrina kembali.


"Y-ya, Tuan Xavier adalah klien-ku. Aku mengurus pembukuan keuangan nya seperti pajak Perusahaan atau barang pribadi. Iya 'kan Tuan Xavier?" nada suara Krystal sarat akan kekecewaan.


Xavier menghembuskan nafas, "Iya, Nona Esther."


"Jangan terlalu formal, panggil dia Krystal... sayang. Dia adalah saudaraku, dia juga adalah mantan tunangan mu saat kecil," ucap Sabrina sengaja, dia bergelayut manja di lengan Xavier.


"Tu-tunanganku saat kecil?" Krystal tersentak, tiba-tiba kilasan masa kecil menerjangnya.


"Kak Xavier, tunggu aku."


"Gadis bodoh, aku masih disini. Aku takkan pernah meninggalkanmu. Kau tau aku adalah calon suamimu di masa depan, mana mungkin aku tega meninggalkanmu."


"Xixixi, aku sayang kakak. Krystal sangat sayang kakak."


"Jangan lupa itu, Krystal. Kamu menyayangiku, saat sudah besar kamu akan mencintaiku, bukan?"


"Kakak juga sangat menyayangimu, kakak janji takkan pernah meninggalkanmu selamanya."


Kilasan-kilasan masa lalu itu menghilang, Krystal memegang dada nya yang tiba-tiba merasa sakit. "Arghttt..."


"Nona Krystal!" teriak panik pengacaranya dan juga Kakek Elan.


"Krsytal!" Xavier ingin maju tapi Sabrina menahan lengan nya.


"Diam, Xavier. Jangan membuatku marah," geram Sabrina.


"Pak, aku sedikit tak enak badan. Ayo pergi," Krystal meminta bantuan pada pengacara, sang pengacara segera membantunya.


Kakek Elan ikut membantu, membawa keluar dari dalam rumah tubuh gemetar Krystal.


Saat diluar rumah, para body guard yang duduk di mobil segera keluar dari dalam mobil saat melihat orang yang dijaganya seperti kesakitan.

__ADS_1


"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" tanya salah satu body guard.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah. Ayo pergi."


Saat di dalam mobil, air matanya tak terbendung lagi. "Kakak, kak Xavier... hiksss," seketika ia menangis pilu.


Body guard yang merangkap supir menunggu perintah untuk membawa mobil pergi dari sana. Sedangkan body guard lainnya di mobil satunya lagi, sudah menelepon Vard menceritakan situasi Nyonya majikan mereka pada Tuan nya itu.


"Apa kondisinya sangat buruk?" cemas Vard, Justin atau pun Taylor tak bisa menembus Cctv di dalam rumah itu mereka semua sudah khawatir sejak Krystal masuk ke dalam rumah.


"Nyonya seperti shock, Tuan. Sekarang Nyonya masih di dalam mobil, kami masih menunggu perintah Nyonya untuk pergi dari sini."


"Hm, baiklah. Terus hubungi aku jika ada apa-apa."


"Baik."


Vard menaruh ponselnya, dia menduga-duga apa yang terjadi. Tiba-tiba ponselnya berdering, dari Xavier.


"Ini aku, Xavier."


"Aku tau, aku sudah mengantongi nomermu," jawab Vard.


"Apa kamu belum memberitahu jika aku adalah tunangan masa kecilnya pada Krystal? Dia sepertinya shock dan kesakitan saat mengetahuinya, aku lihat mobilnya masih di depan. Aku sangat cemas tapi tak bisa keluar, aku tak ingin keluarga Sabrina curiga padaku."


"Sial!"


Tuuttttt.


Vard mematikan panggilan, wajahnya sangat buruk. "Apa dia sudah mengingat tentang masa lalunya, apa itu sebabnya dia kesakitan?"


Body guard nya mengirim pesan, Nyonya majikan mereka sudah memberi perintah untuk pergi.


Vard tak tinggal lebih lama di Apartemen nya, ia segera beranjak pergi menuju ke rumah Krystal melihat keadaan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2