
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela, gorden masih tertutup rapat membuat suasana kamar menjadi temaram. Hawa dingin pagi membuat Vard semakin mengeratkan pelukannya pada wanita dalam dekapannya.
Tapi Krystal sudah menahannya sejak tadi, ia ingin ke kamar mandi. Vard melingkarkan tangan pada tubuhnya dengan erat membuatnya kesusahan melepaskan diri.
Jarinya menoel hidung mancung pria yang sekarang menjadi kekasihnya, "Vardd..." bisiknya pelan.
Lelaki itu malah tersenyum dalam tidurnya.
"Aduhhh... perutku. Vard..." sekali lagi Krystal berbisik.
Tetap tak ada respons
Krystal akhirnya memelintir pucuk dada berwarna hitam lelaki itu dengan perlahan tapi ternyata ampuh, seketika mata lelaki itu terbuka.
"Akhirnya..." Krystal melepaskan tangannya dari dada Vard, keluar dari pelukan lelaki itu merengsek ke samping ranjang akan turun tapi tubuhnya ditarik mendekat kembali oleh Vard menempel pada tubuh lelaki itu. Vard menarik tangan Krystal ke area inti tubuh yang memberi keduanya kenikmatan.
"Kamu sudah membangunkannya, Krystal. Tapi malah mau kabur. Umm..." Vard menggigit cuping telinga perempuan itu masih menahan tangan Krystal di bawah sana.
__ADS_1
"Uhhhhh... aku sudah menahan sejak tadi Vard. Aku ingin mengosongkan kantung kemihku!" geram wanita itu.
Dengan secepat kilat Vard melepas jeratannya pada tubuh Krsytal saat mendengar geraman wanita itu, ia masih ketakutan jika membuat marah Krystal.
"Maaf, pergilah."
Tanpa berucap lagi Krystal merengsek turun dari ranjang tapi saat mulai melangkahkan kakinya keningnya mengerenyit rasa perih diantara kedua pahanya menyerbunya. "Arght.." lirihnya menahan kesakitan.
Vard meloncat dari atas ranjang, ia dengan sigap membopong tubuh telanjang Krystal.
"Apa yang kamu tertawakan?" curiga Vard.
"Lihatlah ke cermin, hmmpp..." suara rintihan kesakitan dan tawa yang tertahan keluar dari bibir Krystal bersamaan.
Vard menolehkan kepalanya ke arah cermin, wajahnya seketika memerah karena malu. Ia tak ingin lebih lama malu lagi, "Baiklah, ayo ke kamar mandi. Mau aku bantu membersihkan tubuhmu?"
"Tidak!" mata Krystal melotot.
__ADS_1
Vard hanya tersenyum jahil, seraya membopong Krystal ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam bathroom.
Benar saja mereka berdua sangat lama di dalam sana, entah sedang membersihkan tubuh masing-masing atau memang sedang memuaskan si ular phyton.
Saat turun ke bawah untuk sarapan, Krystal menggandeng mesra Vard. Wajah keduanya berbinar bahagia dan bersemu merah, mereka tak memperdulikan tatapan semua orang pada mereka.
Terutama tatapan benci Sabrina, ia yang merencanakan semuanya tapi saat mendengar suara errangan dan leenguhhan dari kamar Krystal semalam, ia langsung tahu jika kedua orang itu sedang menyalurkan gairah yang terpancing dari obat yang ia masukkan ke dalam minuman. Sial! Kenapa Krystal terus beruntung!
"Kamu menginap disini ternyata, Tuan Vard? Saat aku mencarimu di kamar yang sudah disediakan ternyata kamu tidak ada disana." Ujar Ronald berbasa basi, semalam dia melihat wajah Vard kemerahan saat keluar dari ruangannya. Dia menyusul keluar untuk memeriksa tapi diluar dia malah bertemu Sabrina. Putrinya langsung menceritakan perbuatannya, saat mendengarnya ia langsung menampar putrinya itu. Ia hanya takut kerjasama menguntungkan yang sudah terjalin akan hancur karena kecerobohan putrinya.
"Ah, semalam kepalaku mendadak pusing. Saya mengirim pesan pada Krystal untuk meminta obat, tapi saya malah ketiduran di kamarnya. Tidak apa-apa bukan, Tuan Ronald? Jika kalian semua keberatan karena kami sudah tidur sekamar, saya akan segera melamar Krystal untuk menjadi istri saya."
"Uhukkkkk...." Sabrina dan Krystal tersedak bersamaan.
Dengan sigap Vard mengelus lembut punggung Krystal, ia lalu memgambil gelas berisi air minum memperlakukan kekasihnya dengan penuh perhatian.
Leon menyipitkan matanya curiga, sejak semalam ia sudah merasa curiga dengan gelagat relasi bisnis baru Papanya itu pada Krystal. Ia memutuskan akan menyuruh seseorang membuntuti mereka berdua.
__ADS_1