Terpaksa Melayani Hasrat Daddy

Terpaksa Melayani Hasrat Daddy
Bolehkan Saya Mendekati Anda Nona Krystal?


__ADS_3

Esoknya dengan semangat baru Krystal datang ke kediaman Oliver, semua penghuni rumah sedang menunggunya termasuk Xavier sudah berada disana sejak pagi.


"Kamarmu di samping kamar Sabrina, Krystal." Ujar Marline sang Nyonya rumah masih sok menjadi wanita paling berkuasa di dalam rumah.


"Makasih Bibi, aku panggil bibi ya," ucap Krystal seraya tersenyum lembut.


"Terserah. Paman Elan, bawa dia."


Kakek Elan tersenyum lembut pada Nona-nya, ia menarik koper milik Krystal membawanya ke lantai atas masuk ke kamar di sebelah kamar Sabrina.


Sabrina menarik Xavier untuk mengikuti Krystal, dia sengaja ingin memanasi penghuni baru di kediaman nya itu.


"Sayang, malam ini nginap ya. Kita lanjutkan kegiatan di ranjang seperti malam kemarin," suara Sabrina terdengar manja dan berhasrat.


Wajah Krystal biasa saja, dia sudah tak memperdulikan Xavier. Entah itu Xavier di masa lalu atau Xavier yang baru saja dikenalnya lagi.


Lain lagi dengan wajah Xavier, wajah pria itu seperti ingin mencekik mati Sabrina.


"Ah, Krystal. Nanti malam kita akan merayakan kepulanganmu kembali, kata Papa kita makan malam diluar. Papa sudah memesan restoran paling mewah dan mahal di kota ini." Ujar Sabrina dari belakang.


Krystal terus berjalan menaiki tangga, "Oke, pukul berapa agar aku bisa bersiap-siap?"


"Pukul 8 malam, kita pergi bareng dari rumah."


"Oke."


Krystal melihat Kakek Elan sedang menunggunya di depan pintu, "Ini kamarnya ya, kek?"


"Iya, Nona besar."


"Makasih, Kek."

__ADS_1


Krystal lalu berbalik menatap Sabrina dan Xavier. "Aku masuk ya, aku ingin istirahat. Selamat bertemu lagi nanti malam, saudaraku."


"Tentu, istirahatlah. Xavier, ayo masuk ke kamarku..." Sabrina menarik lengan Xavier.


Xavier menatap sebentar mata Krystal, ingin mengatakan sesuatu karena sejak kemarin pesan maupun panggilan darinya tak pernah Krystal balas. Wanita itu pasti sangat membencinya sekarang.


"Xavier," Sabrina menancapkan kukunya di lengan pria itu, akhirnya Xavier mengikuti Sabrina ke kamarnya yang berada persis di sebelah kamar Krystal.


Saat masih membenahi kamarnya serta mengeluarkan barang-barangnya, Krystal mendengar suara dessahan dari kamar sebelah. "Astaga, mereka tak tahu malu di siang bolong begini! Kenapa kamar nya tak kedap suara dan harus terdengar kesini?!" rutuk Krystal karena merasa telinganya sakit karena berisik dengan suara desaahan dan suara decak-decak ciuman.


Akhirnya Krystal menutup telinganya dengan pelantang suara musik dan mulai menyetel musik dari ponselnya.


Malam tiba, Krystal sudah bersiap dengan penampilannya. Gaun malam dengan warna pastel membalut tubuh langsingnya, gaun terbuka di bagian bahu juga belahan di belakang memperlihatkan sedikit punggung putih mulusnya. Ia juga memoles wajahnya lebih terkesan energik daripada menawan, ia ingin menampilkan kesan pada orang-orang jahat jika dia tidak akan mudah ditindas.


Saat ia turun dari lantai atas, Krystal melihat kekaguman dari mata Xavier. Tatapan nya beralih pada semua orang yang berada disana dan terlihat mata waspada dari mereka padanya.


Krsytal tersenyum lebar, "Ayo berangkat, aku akan pergi dengan mobilku sendiri. Para body guard ku akan mengikutiku di belakang, tidak apa-apa bukan?"


"Ah, mereka menjagaku dari para pria yang sering mengejarku. Bahkan ada pria yang membuatku kesal karena kebohongannya. Aku harus berjaga-jaga bukan, kak Leon?"


"Sudah, ayo berangkat." Desak Ronald.


Sekitar 15 menit kemudian mereka semua sampai di Restoran, setelahnya mereka duduk di meja yang sudah dipesan khusus. Saat makanan baru saja berdatangan, tiba-tiba sebuah suara menyapa Ronald.


"Selamat malam Tuan Ronald, kebetulan sekali kita bertemu disini."


"Tuan Vard, kebetulan sekali!" Ronald bangkit dari kursi dengan semangat, dia menyalami Vard.


"Anda sedang makan malam juga, Tuan Vard?" tanya Sabrina dengan tersenyum mempesona, apalagi melihat penampilan Vard yang luar biasa berbeda terlihat segar dan muda lebih menawan dari sebelumnya.


Krystal mengerenyitkan keningnya, menatap curiga pada Vard karena dia heran sejak kapan Vard mengenal mereka. Ia juga menyadari cara berpakaian dan penampilan rambut baru Vard sangat berbeda.

__ADS_1


"Sayang sekali teman makan malam ku tidak datang, aku baru saja akan pergi karena sangat tidak enak makan sendirian."


"Kalau begitu silahkan bergabung bersama kami," ajak Ronald.


"Bolehkah?"


"Tentu saja, silahkan."


"Tunggu! Nona Esther, Anda ada disini juga?"


Krystal terperanjat, dia merasa heran apa sebenarnya yang direncakan Vard. "Ah, Tuan Vard. Maaf, saya telat menyapa Anda."


"Kalian saling kenal?"


"Saya mengenal Nona Esther dari teman saya, teman saya adalah klien Nona Esther."


"Ah, begitu."


"Sebenarnya namanya adalah Krystal, dia adalah putri dari saudara saya," ujar Ronald.


"Jadi kalian masih bersaudara, senang mengetahuinya," timpal Vard.


"Senang?" tanya Sabrina penasaran.


"Ya, saat mengetahui Nona Esther eh Nona Krystal adalah saudara Tuan Ronald, saya memutuskan akan bekerja sama dengan Anda Tuan Ronald."


"Benarkah? Terima kasih Tuan Vard," Ronald bersemangat.


"Kenapa Anda memutuskan karena Krystal?" tanya Sabrina kembali, sekarang bukan karena penasaran lagi tapi lebih ke perasaan kesal karena Tuan Vard terus menatap Krystal.


"Karena saya sangat menyukai Nona Krystal, bolehkan saya mendekati Anda, Nona Krystal?" tanya Vard pada Krystal dengan mata yang penuh kekaguman menatap wanita itu, bahkan pandangan yang lebih dari menyukai.

__ADS_1


"Uhukkkk... Uhukkk..." Krystal tersedak. Kenapa Vard melakukan ini di hadapan semua musuhku?!


__ADS_2