
Wajah Sabrina menyeramkan, dia tidak pernah berpikir Xavier akan melindugi Krystal tepat di depan matanya.
"Kau baji ngan Xavier! Bukankah hubungan kita selama ini baik-baik saja? Kau bahkan sering bernafsu melihatku!" teriak Sabrina tanpa memperdulikan anak buah Ayahnya yang berada disana, dia merasa telah dipermainkan.
"Kau salah! Untuk bernafsu padamu aku bahkan telah meminum obat, setelahnya aku bahkan ji jik pada diriku sendiri! Kau dan kakak-kakakmu begitu pengecut, selalu mengancamku dengan keselamatan adikku!" Xavier menatap Sabrina benci.
"Xavier... kau!" Krystal terkejut, ia tidak tau itu lah yang terjadi pada Xavier, selama ini ia menganggap lelaki yang pernah menjadi tunangan nya itu bukan lah pria baik.
"Jadi kau lebih memilih mati demi Krystal?" Sabrina mulai mengarahkan moncong pistol pada dada Xavier.
Xavier menjaga Krystal, menggeser tubuh tingginya lebih menutupi tubuh wanita di belakangnya itu. "Krystal, berlindung lah. Aku yakin Vard akan segera datang melindungimu."
"Xavier, kau tidak perlu seperti ini... Ini adalah pertarunganku."
"Tapi ini juga pertarunganku, kamu hanya salah satu dari sekian orang yang ingin aku lindungi."
"Xavier...."
DORRRRRR... !!!
"Arghthhtt!" Sabrina menjerit kesakitan, ternyata kakek Elan menembak lengan Sabrina yang memegang pistol seketika senjata di genggaman tangannya terjatuh.
DORRRRR!
DORRRRR!
__ADS_1
Para pengawal Krystal berdatangan dan menembaki anak buah Ronald, Xavier menarik lengan Krystal menuju tangga akan membawanya pergi dari rumah itu. Ia menutupi tubuh Krystal yang bergerak di depannya, sesekali menembak ke arah anak buah Ronald.
Saat sampi di lantai bawah, tiba-tiba tubuh Xavier terjatuh ke depan. Pergerakan Krystal terhenti, matanya membelalak melihat darah menggenang di bawah perut Xavier.
"Tidak!" Krystal berjongkok, membantu menekan darah di perut Xavier.
"Pergilah... Krystal... hahhh disini bahaya... aku akan melindungimu dari sini..." nafas Xavier mulai tesengal sengal.
"Aku tidak akan meninggalkanmu!" Krystal menggeleng.
"Per-giiii... aku mohon... biarkan aku menjadi lelaki yang melindungimu sampai mati... Krystal... kesayanganku..." Xavier mengelus wajah wanita yang dicintainya dengan tak bertenaga.
"Nona, cepat pergi!" Kakek Elan menarik bahu Krystal.
"Xavier..." air mata lolos dari mata Krystal.
Sabrina mendekati Xavier yang sudah tak berdaya, melihat luka di perut calon suaminya bibirnya seketika tersenyum menyeramkan.
"Dasar pria bodoh! Melindungi wanita yang sudah jelas milik pria lain!" Sabrina menginjakkan kakinya di atas perut Xavier memperparah luka lelaki itu.
"Arghtttth.... hhhhhh..." wajah Xavier sudah pucat, darah semakin banyak merembes keluar dari dalam perutnya yang terluka.
"Kau salah memilih lawan, Xavier! Setelah ini aku akan membunuh adikmu! Memotongnya menjadi bagian-bagian kecil setelah dia memuaskan para anak buahku!"
"Itu kalau kau mempunyai kesempatan, Sabrina!" suara Vard, lelaki itu dengan perlahan melangkah masuk semakin mendekati mereka dengan senjata terhunus ke arah Sabrina. "Turunkan senjatamu!"
__ADS_1
Sabrina melirik ke sekeliling, ternyata semua anak buahnya telah dikalahkan oleh pengawal Vard. Ibunya sudah berada dalam genggaman mereka, mau tak mau Sabrina menjatuhkan pistolnya.
Bond merengsek maju meringkus wanita itu, Vard berlari memeriksa keadaan Xavier. "Aku akan membawamu ke rumah sakit, bertahanlah."
Wajah Xavier semakin memucat, "Aku... tidak bisa bertahan lagi... Vard... lindungi Krystal dan semua keluargaku... Aku... hhhhh... aku harus pergi... aku percaya padamu... Krystal...." nafas Xavier memendek, lalu nafasnya tak terdengar lagi.
"Xavier!" Vard menggoyangkan tubuh lelaki yang pernah menjadi rivalnya itu, memeriksa nafas di hidungnya, nadi di leher dan pergelangan tangan tapi nihil. Xavier sudah meninggal.
Saat mendengar berita tentang kepergian Xavier untuk selamanya, Krystal pingsan di dalam mobilnya.
Esok paginya semua anggota keluarga dan seluruh anak buah Ronald sudah berhasil tertangkap termasuk Ronald, tapi satu yang lolos. Leon lari dari kejaran anak buah Vard dan berhasil lolos. Pencarian selama seminggu penuh dikerahkan oleh pihak polisi setempat maupun internasional agar Leon tidak bisa lolos keluar negeri tapi pencarian itu tidak membuahkan hasil.
Kystal sudah seminggu ini mendatangi kuburan Xavier, mengelus nisan lelaki yang pernah menjadi tunangannya.
"Terima kasih, Xavier. Entah sampai kapan aku akan terus berterima kasih padamu, tapi aku berjanji akan selalu menjaga adik dan kedua orang tuamu. Menyayangi mereka seperti keluargaku, jangan khawatir. Semoga kamu damai dalam tidur abadimu, aku menyayangimu sebagai keluargaku," Krystal menghapus air mata yang menetes.
"Paman Xavier, meskipun aku hanya mengenalmu sebentar. Tapi, kau adalah pahlawanku. Terima kasih sudah melindungi Mommy dengan nyawamu, di kehidupan selanjutnya mari kita bertemu lagi," Justin menaburkan bunga.
"Kau lelaki pemberani sejak aku mengenalmu, Xavier. Jika di kehidupan selanjutnya kita menyukai satu wanita yang sama lagi, saat itu aku akan mengalah padamu. Kau bisa mendapatkan wanita itu, terima kasih." Vard mengenggam tanah kuburan Xavier, mengepalnya dengan banyak rasa terima kasih.
Di nisan bertuliskan.
YANG TERKASIH, LELAKI PEMBERANI.
XAVIER EXIM.
__ADS_1
________________END_________________
NB : Di Novel selanjutnya tentang Justin dewasa yang masih mencari keberadaan Leon, ya. Sampai akhirnya takdir mempertemukannya dengan wanita militer INTEL yang sedang melakukan misinya. Danielle putri dari Jendral Eric & Amber.