
Vard membanting pintu mobil dengan keras, dia berjalan dengan langkah lebar menuju pintu depan rumah Krystal.
"Tuan," di depan pintu body guard memberi hormat.
"Bagaimana keadaan nya tadi?" tanya Vard pada body guard yang merangkap supir itu.
"Saat masuk mobil, tiba-tiba Nyonya menangis. Nyonya terus bergumam, eng..." Body guard itu ragu.
"Teruskan!"
"Nyonya terus bergumam memanggil kak Xavier sambil menangis, Nyonya--"
Belum sempat body guard itu melanjutkan lagi perkataannya sang Tuan majikan sudah membuka pintu lalu menutup pintu dengan keras.
Vard berusaha tenang, dia tau jika Queena tidak mencintainya. Tapi hatinya seketika sakit saat wanita itu menangisi lelaki lain, dadanya terasa terbakar.
"Queena, kamu dimana?" tanyanya pelan, dia memupuk kesabarannya tak ingin kejadian dulu terulang lagi. Semua karena emosinya akhirnya membuat wanita itu pergi darinya.
"Aku di dapur, sedang membuat makanan untuk Justin. Nanti kamu bawa ya, Vard."
Tak terdengar nada sedih sedikit pun dari suara wanita itu, Vard malah tak tenang. Sejak dulu jika Queena sedang menyembunyikan sesuatu, tingkahnya akan selalu tenang seperti sekarang. Bukan tenang! Tapi berpura-pura tenang.
__ADS_1
"Benarkah? Pantesan wanginya harum," ujar Vard masuk ke dalam dapur seraya mendekati Queena.
"Kamu ingin makan lebih dulu disini?" tanya Krystal masih memunggungi lelaki itu.
"Boleh, pasti enak. Aku baru beberapa kali makan masakanmu kalau kamu kirim untuk Justin, sejak kapan kamu mulai belajar masak?"
"Setelah pergi darimu, saat aku mual-mual ketika hamil kalau memakan masakan orang lain. Setelah aku mulai belajar masak dan memakan masakanku sendiri, rasa mual dan muntah-muntahku tak begitu parah."
Vard terdiam, dia sangat menyesali disaat Queena mengandung dia tak ada di samping wanita itu. "Bagaimana saat Justin lahir? Apa kamu sendirian saat melahirkan nya?"
"Ada Paman Darish selalu menemaniku kemana-mana, dia sangat baik."
Aku harus membalas kebaikannya kapan-kapan. Batin Vard.
"Sangat sehat, beratnya 3,4 kg. Begitu mungil, semuanya sangat membahagiakan waktu itu," tapi tiba-tiba suara Krystal bergetar, dia mengingat saat dia ingin menggugurkan Justin.
Vard pikir Queena menangis karena mengingat Xavier dan tentang pertunangan masa kecil mereka, " Queena, apa sebegitu sakitnya saat kamu mengetahui Xavier adalah mantan tunangan mu dan sekarang malah menjadi tunangan Sabrina?"
Tubuh Krystal akhirnya berbalik, matanya masih menitikkan air mata. Dengan cepat dia menghapusnya, kemudian ia menggeleng. "Bukan, aku memang sempat shock saat mengingat kenangan bersama Xavier, hatiku sakit karena janji kami dulu. Tapi, aku juga kecewa padanya. Saat dia mendekatiku, dia tidak bilang sudah mempunyai tunangan. Dia sudah membohongiku."
"Jadi kamu menangis bukan karena kamu masih berharap pada Xavier? Atau karena kamu masih menyimpan harapan untuk bersamanya?" tanya Vard semangat, mendengar penuturan Queena tiba-tiba dia merasa masih mempunyai harapan.
__ADS_1
"Tentu saja bukan karena itu, apalagi dia adalah tunangan Sabrina dan akan segera menikah. Untuk apa aku masih mengharapkan Xavier?"
Refleks Vard menarik tubuh Queena ke dalam pelukan nya, dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Vard!"
Lelaki itu tiba-tiba tersadar lalu melepaskan pelukan nya, "Aaa..."
Vard ingin bicara tapi tak ada kata yang keluar, dia akhirnya hanya memohon maaf, "Maaf."
Krystal menatap wajah pasrah Vard, banyak sekali perubahan pada pria itu saat kini dia memperhatikan wajah Vard. Wajah yang semakin dewasa karena seiring waktu, rambut sedikit beruban dengan tulang pipi yang semakin menonjol.
Seorang pria yang pernah menjadi Ayah baginya, mengurus dan merawatnya sejak kecil. Ternyata sekarang pria itu sudah menua meskipun gurat-gurat ketampanannya masih terlihat jelas.
"Vard..."
Lelaki itu menatap mata Queena, suara wanita itu terdengar seperti dulu saat memanggilnya Daddy begitu lembut dan penuh kasih. "Ya?"
"Terima kasih untuk segalanya, sejak kecil sampai aku remaja. Kamu meminta pengampunan dariku, bukan? Aku sudah memaafkanmu, aku mengampunimu."
Tubuh Vard gemetar seketika air mata menggenang di matanya, bibirnya bergetar menahan agar tak menangis menyedihkan.
__ADS_1
"Ahhh, Vard. Apa yang harus aku lakukan padamu..." Krystal maju mengusap air mata yang menggenang di mata lelaki itu. Saat melihat raut kesedihan di wajah pria itu, pertahanannya jebol. Krystal memeluk Vard, melingkarkan kedua tangannya pada pinggang lelaki itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Vard.
Tubuh Vard seketika kaku tapi bibirnya akhirnya tersenyum, dia membalas pelukan Queena memeluknya begitu lembut seakan itu hanya mimpi.