Terpaksa Melayani Hasrat Daddy

Terpaksa Melayani Hasrat Daddy
Lamaran Dadakan.


__ADS_3

Seminggu berlalu, kediaman Oliver di perindah dengan karangan-karangan bunga dan hiasan di setiap sudut rumah. Rencananya keluarga Xavier datang pukul 10 pagi, tapi tak disangka yang datang lebih dulu bukan keluarga Xavier tapi keluarga Vard bersama Papanya. Kakek Bernard sudah datang kemarin, setelah melepaskan rindu dengan Krystal mereka sepakat agar Vard segera menikahi Krystal.


Sekarang disini lah mereka, di depan pintu ganda besar keluarga Oliver, semua penghuni kediaman Oliver terperanjat karena lamaran mendadak itu kecuali Krystal, wanita itu sudah berdandan cantik tak kalah cantiknya dari Sabrina.


"Apa Anda akan membiarkan kami diluar saja, Tuan Ronald?" Vard menajamkan kata-katanya.


"Tuan Vard, maaf... saya hanya terkejut karena hari ini adalah lamaran putri kami jadi saat Anda datang melamar Krystal, saya sedikit shock. Ayo masuk, silahkan."


Vard mengedipkan sebelah matanya pada Krystal, perempuan itu membalas dengan memajukan bibirnya dan mengecup dari jauh. Tak elak kelakuan Krystal yang tidak terduga itu memancing tawa Vard. "Hahahaha...."


"Ada apa Tuan Vard?"


Vard menggeleng lalu masuk ke dalam kediaman, segera duduk dengan santainya di sofa.


"Perkenalkan, ini Ayah saya Tuan Bernard." Vard memperkenalkan sang Papa.


"Halo, saya Paman Krystal. Ronald."

__ADS_1


Tuan Bernard ingin menarik dasi yang dipakai Ronald lalu membelitkan di leher pria jahat itu tapi ia memperlihatkan senyuman ramah. "Senang kita akan menjadi sebuah keluarga."


"Wajah Anda tidak asing, Tuan?" tanya Ronald kembali.


"Beberapa tahun silam saya tinggal disini, tapi sudah lama saya pindah ke kota K."


"Apa Anda tokoh masyarakat di kota ini? Wajah Anda sangat familiar?"


"Saya adalah profesor di salah satu kampus, tapi itu sudah lama sekali. Sekarang saya hanya seorang pria tua yang menikmati hidup, Tuan Ronald." Jawab Kakek Bernard bersahaja.


"Ahhhh, pantas saja. Baik, kita bisa mulai lamaran ini sekarang."


"Sebentar lagi."


"Oke, aku akan mulai lebih dulu."


"Krystal, duduklah disini." Panggil istri Ronald.

__ADS_1


"Ya, Bibi." Krystal dengan penampilan menawannya duduk dengan anggun berhadapan dengan Vard hanya terhalang oleh meja.


"Aku datang untuk melamarmu, tapi aku membawa paket bersamaku. Kamu juga tau, Krystal dan Anda juga pasti tau Tuan Leon karena Anda menyuruh seseorang membuntutiku, jika aku sudah mempunyai seorang putra. Namanya Justin, dia adalah putraku." Vard mengenalkan Justin, karena Leon terus membuntutinya selama seminggu ini akan aneh jika tidak menjelaskan putranya yang keluar masuk Apartemen nya. Tapi data-data semua keluarganya sudah di amankan, termasuk data kelahiran Justin.


"Ekhm, saya bukan ingin membuntuti Anda Tuan Vard. Maaf jika bersikap tidak sopan, tapi demi kerjasama yang sehat saya harus melakukannya," Leon membela diri.


"Sudahlah, saya tidak keberatan. Sekarang, saya ingin bertanya pada kamu, Krystal. Maukah kamu menerimaku bersama putraku?"


Kystal sekuat tenaga menahan tawanya, kenapa akting Vard harus seserius ini. Bahkan wajah pria itu benar-benar memelas seolah ketakutan ia tidak mau menerima Justin, putranya sendiri.


Justin memutar bola matanya, semakin hari akting sang Daddy membuatnya ingin muntah karena terlalu over meskipun aktingnya itu memang pantas diancungi jempol.


"Ya, Vard. Aku menerimamu serta putramu, mulai saat ini aku akan menganggap nya putraku sendiri." Krystal menatap lembut pada Justin, bocah itu hanya menatap cuek pada Mommy-nya.


"Baik, karena Krystal sudah menerima lamaran ini. Kita nanti akan menentukan tanggal pernikahannya." Ujar Ronald meskipun dia tak rela Krystal kini mempunyai rekan hidup yang background-nya kuat.


Vard lalu menjetikkan jarinya, Taylor membawa sebuah kotak beludru besar. "Buka, ini adalah hadiahku melamar Krystal."

__ADS_1


Taylor membuka kotak beludru, di dalamnya terdapat satu set perhiasan kalung berlian, anting, cincin dan yang lainnya. Di dalamnya juga ada beberapa sertifikat, "Ini adalah sertifikat hotel berbintang 5, villa, restoran, pusat perbelanjaaan, gedung-gedung, sebuah Mansion, juga mobil-mobil dan kartu black card. Ini semuanya sudah dialihkan atas nama Krystal, saat kami menikah masih banyak lagi. Ah, ada juga saham-saham dan obligasi."


Semua orang menarik nafas tak percaya, apalagi Sabrina wanita itu mencengkram gaun yang dipakainya merasa iri pada Krystal. Bahkan Perusahaan dan gedung-gedung serta kekayaan Oliver belum beralih nama menjadi milik keluarganya. Dia sebenarnya tak memiliki apa-apa, semuanya milik Krystal dan kini ditambah lagi hadiah dari Vard ingin rasanya ia mengambil belati lalu menusuk Krystal kemudian membunuh wanita itu.


__ADS_2