
Semua para pria berpisah dari club, Vard berpamitan pulang. Tapi saat pulang, suasana Apartemen sangat sepi.
"Kemana semua orang pergi tengah malam begini?"
Dengan cepat Vard menelepon Taylor tapi tidak aktif, menelepon satu persatu body guard Justin juga tidak aktif.
Degh!
"Apa karena ucapanku tadi tentang orang-orang itu ingin membunuh Krystal besok di kapal pesiar? Apa Justin melakukan sesuatu?!"
Vard berlari tergesa-gesa turun dari lantai atas Apartemennya menuju mobilnya, "Bond! Lacak keberadaan yang lain! Pasti Justin membawa mereka semua!"
Bond pengawal pribadi Vard segera melacak keberadaan rekan pengawal lainnya, tidak membutuhkan waktu lama. "Titik merah berada di club Anda berada tadi, Tuan. Tapi sekarang mereka pergi dari sana."
"Sial! Apa yang dilakukan bocah itu?!" Vard masuk ke dalam mobil. "Cepat pergi!"
Bond memutar setir menginjak pedal gas dengan kuat mobil melaju kencang di tengah suasana gelapnya malam.
Tak jauh dari club, semua para pengawal menutupi wajah mereka dengan masker tak terkecuali Justin, ia memakai masker menutupi setengah wajahnya serta menutupi kepalanya dengan topi, sebagian rambut kepirangan menutupi keningnya.
"Apa yang kau inginkan dariku?!" Dex gemetaran di dalam mobilnya sendiri, merasa menyesal kenapa tadi malah memilih pulang sendiri dengan mobilnya karena ingin melewati malam panas dengan wanita pedamping di club.
Si wanita sudah pingsan, pengawal Justin sudah membawanya ke mobil berbeda.
Justin tak memperdulikan rengekan Dex, dia menyuntikkan he roin ke dalam lengan lelaki yang langsung memberontak tapi tak bisa melepaskan diri karena terikat. Melihat mata Dex teler, baru lah ia mendekatkan bibir ke telinganya berbisik.
"Aku memberimu toleransi... pikirkan ini saat kau ingin menyentuh seseorang yang aku cintai di dunia ini."
"Bawa dia ke kantor polisi beserta barang buktinya!" ujar Justin seraya turun dari mobil.
__ADS_1
"Bersihkan TKP, jangan ada yang tertinggal," Taylor menimpali.
"Ayo pergi dari sini!" titah Justin kembali.
Di tengah jalan dari jauh Vard mengenali mobil Justin, ia menyuruh Bond menghalangi jalan putranya itu.
Cittttttttttt.
Mobil belum berhenti sempurna tapi Vard membuka pintu lalu meloncat keluar dari dalam mobil.
"Justin!!! Apa yang kau lakukan?!"
Justin turun dari mobil, tanpa wajah ketakutan sedikit pun ia berjalan menghampiri Daddy-nya. "Kenapa berteriak, Dad. Aku hanya pergi bermain, iya 'kan Paman Taylor?"
"Umm..." Taylor menunduk, ia tak berani menatap sang majikan besar.
Semuanya berlutut sembari menundukkan kepala ketakutan mereka. "Ka--kami tidak tahu jika ini bukan perintah Anda, Tuan besar. Tuan muda bahkan memerintah kami untuk mematikan komunikasi."
"Sudahlah, Dad. Aku bukan bocah yang tidak bisa menjaga diri, asalkan mulut Daddy tidak melapor pada Mommy. Daddy berpihak padaku, kan?" Justin menyipitkan matanya.
Dada Vard kembang kempis menahan kesabarannya, "Masuk mobil Daddy! Jelaskan semuanya!"
Justin dengan cuek mengangkat bahunya tak perduli, dengan langkah kakinya yang belum dewasa bocah berani itu menaiki mobil sang Daddy.
Semalaman Vard menunggu kabar dari anak buahnya yang berada di kantor polisi, benar saja tak lama kabar datang dan Dex sudah di masukkan ke dalam sel penjara beserta bukti-bukti yang dikantongi polisi.
"Besok, kita juga akan memberi pelajaran pada Leon dan Ronald. Iya 'kan, Dad?"
"Itu urusan Daddy, sebaiknya kali ini kamu jangan ikut campur." Vard masih memikirkan rencana apa untuk memberi Ronald hukuman.
__ADS_1
"Berarti besok kita tidak jadi berlayar?" tanya Justin.
"Pasti tidak, Ronald dan Leon pasti mengurus Dex. Mulai besok pasti mereka akan waspada," Vard berjalan ke kamarnya berniat menelepon Krystal.
"Ya, Vard?"
"Sayang, bersiaplah. Besok pagi-pagi aku jemput, kamu nggak aman di rumah itu."
"Ada apa?"
Vard mendengar nada cemas dari suara wanitanya, "Kamu akan tahu sebentar lagi, akan ada kabar mengenai Dex."
"Baiklah, aku akan bersiap."
"Siapapun yang bertanya, bilang saja kamu ingin bermalam denganku."
"Ok."
"Aku tidak bisa menjemputmu sekarang, itu akan mencurigakan," Vard melanjutkan.
"Baik, Vard."
"Hati-hati, aku mencintaimu sayang."
"Aku juga, Vard."
Tutttttt.
Krystal membuka pintu kamar sedikit, tidak ada pergerakan apapun diluar. Ia mengunci pintu kamar untuk keamanan, lalu mengeluarkan pistol pemberian Vard terus memegangi senjata itu dengan erat di tangannya.
__ADS_1