
Di dalam gudang anggur, Vard dan Krystal malah melepaskan gairah mereka.
Kekasihnya itu menekan tubuhnya ke dinding di belakang rak botol anggur, bibir Vard menyusuri leher jenjangnya tangan besar lelaki itu sudah berkeliaran kemana mana bahkan kini ujung jempol Vard mendarat di pucuk da da nya mengelus mempermainkan sampai ia tak sadar sangat menikmatinya.
"Hahh.... Vard! Kau tidak tahu tempat! Bagaimana jika ada yang masuk kesini," di sela gairahnya Krystal menggerutu.
"Bibirmu terus menggerutu seperti tak ingin... tapi kau terus melengkungkan tubuhmu semakin menempel padaku, sayang..."
Tap Tap Tap!
Suara derap kaki perlahan menuruni tangga mengagetkan mereka berdua. Vard menutupi tubuh setengah polos Krystal dengan tubuhnya, mereka menahan nafas.
"Dex, ambil wine rothbury," suara Leon.
Suara langkah kaki mendekat ke tempat rak, tangan orang itu mengambil satu botol anggur yang tersimpan rapi berjejer di rak penyimpanan.
"Kak, bagaimana kalau besok di kapal pesiar kita bunuh Krystal. Metode Papa saat dulu membunuh kedua orang tuanya bisa ditiru, karena seperti sebuah kecelakaan. Tapi... akan mencurigakan jika kematian Krystal terlalu mirip dengan kematian orang tuanya dulu," suara Dex menjauh dari rak anggur.
Tubuh Krystal bergetar saat mendengar secara langsung perkataan orang yang ingin membunuhnya.
Vard semakin memeluk erat tubuh Krystal, menahan rahangnya yang bergemeletuk agar tak bersuara karena ingin membunuh para bajingan itu.
"Kita pikirkan lagi rencananya dengan Papa, waktu pengesahan warisan itu tinggal beberapa minggu lagi. Kita tidak punya banyak waktu, hanya saja kedatangan Vard di hidup Krystal sangat mengganggu. Apa kamu tidak merasakan hal aneh, Dex? Kenapa waktu kedatangan Vard yang ingin bekerja sama dengan Papa juga kedatangannya yang tiba-tiba ke kediaman kita karena alasan menyukai Krystal, bukankah terlalu banyak kebetulan?"
"Bukankah kakak sudah membuntuti mereka, apa tidak ada yang aneh?"
__ADS_1
"Vard itu pria pintar, aku tak bisa mengakses data kehidupannya. Begitu pun data Krystal saat menjadi Esther, sulit..."
"Hm, apa butuh pancingan?" tanya Dex.
"Pancingan?"
"Kita culik putranya, itu yang tadi datang. Siapa nama anak itu, lupa."
"Justin."
"Ya, Justin. Kita culik bocah itu, lalu kita bisa memancing sedikit informasi... mungkin."
Leon berpikir sejenak, dia tidak mengiyakan atau menolak. "Ayo pergi, Papa pasti menunggu anggur ini."
Tap Tap Tap.
"Apa mereka tidak tahu kita disini? Apa Cctv di kediaman tidak terpasang di area jalan kesini?" tanya Vard.
"Aku membawamu lewat jalan rahasia, kakek Elan yang memberitahuku jalan ini. Vard, apa yang harus kita lakukan sekarang? Mereka berniat menculik Justin dan membunuhku! Brengsek!"
"Kita beruntung berada disini dan mendengar rencana jahat mereka, tenang lah sayang."
Melalui jalan yang sama seperti saat datang, Vard dan Krystal keluar dari gudang anggur bawah tanah.
Saat mereka berdua baru saja membuka pintu akan masuk kembali ke dalam kamar Krystal, Xavier membuka pintu akan keluar dari kamar Sabrina pria itu sedikit mengerenyit melihat gelagat aneh dari keduanya.
__ADS_1
"Xavier, apa kamu sangat menikmatinya dengan Sabrina?" ujar Krystal asal tanya karena gugup.
"Sayang!" Vard menatap tak percaya pada kekasihnya.
Krystal tersadar salah berucap, "Maaf, maksudku--"
"Sudah, masuk ke dalam." Vard menutup mulut Krystal dengan telapak tangannya mendorong tubuh wanitanya masuk dengan sedikit dorongan kasar.
Brak! Pintu kamar tertutup.
Xavier masih mematung di ambang pintu, wajahnya memerah karena pertanyaan Krystal padanya. Dia melangkahkan kakinya dengan kaku menuju ke bawah ke arah dapur, pria menyedihkan itu sesekali menghela nafas beratnya.
Malam harinya semua para pria sedang menikmati minuman sembari memeluk wanita di club malam. Hanya Xavier dan Vard yang duduk tak ingin di dampingi wanita.
"Xavier, nikmati lah wanita-wanita sexy ini. Kau belum menjadi suami adikku, jika hanya bermain-main itu tak jadi masalah asalkan kau tidak serius seperti--"
"Diam! Dex!" potong Ronald menatap tajam putra keduanya.
Dex mengangkat bahu dia menikmati kembali minumam dan elusan tangan wanita pendampingnya dalam pangkuannya.
Sedangkan di Apartemen Justin dan Taylor sedang merencanakan sesuatu setelah Vard menelepon dan memberitahukan rencana jahat para pria bajingan dari keluarga Oliver.
"Tuan muda, Anda yakin rencana ini akan berhasil?"
"Tentu, Paman Taylor. Jika mereka ingin menyakiti Mommy-ku, mereka harus melewatiku lebih dulu."
__ADS_1
"Baiklah, saya akan menyiapkan sekarang barangnya."
Justin melempar panah pada putaran panahan yang tertempel di dinding kamarnya, seketika panah menembus pas di titik utama. "Kalian mulai bergerak rupanya, tapi tak akan semudah itu!" geramnya.