
Mobil sampai di depan kediaman Oliver, Vard turun lebih dulu dengan senyum sumringah terpoles di bibirnya. Ia mengulurkan sebelah tangan ke dalam mobil dan disambut oleh wajah berbinar Krystal.
Saat mereka berdua masuk, Ronald sudah menyambutnya di ruang tamu langsung mengajak tamunya ke ruang kerja. "Ayo, Tuan Vard."
"Hm," jawab Vard, sebelum pergi mengikuti langkah musuhnya Vard menatap dalam mata Krystal.
Sepeninggal Vard, Krystal beranjak menaiki tangga menuju kamarnya. Di atas undakan tangga Sabrina sudah menunggunya, tadi dia mengintip dari balik gorden jendela besar di lantai atas yang mengarah ke bawah depan rumah. "Sepertinya malam ini kamu bersenang-senang Krystal, kemarin-kemarin dengan Xavier sekarang dengan Tuan Vard. Mudah sekali kau berubah," sindir Sabrina tanpa bercermin diri.
Krystal menghentikan langkahnya di tangga teratas, kepalanya mendongak. "Jadi selama ini kamu hanya berpura-pura tidak mengetahui hubunganku dengan Xavier? Wah, aku merasa senang sekali jika sekarang kamu membuka kedokmu itu Sabrina. Mengenai kedekatanku dengan Xavier, lelaki itu yang tak jujur padaku. Xavier tak mengatakan padaku jika dia sudah mempunyai seorang tunangan." Ujar Krystal lalu dia naik ke undakan tangga mensejajarkan tubuhnya dengan Sabrina. "Mengenai Vard... lelaki itu mengatakan jika dia single, dia bilang tidak mempunyai tunangan maupun seorang kekasih. Jadi apa salahnya jika aku dekat dengan pria menawan seperti Vard yang bahkan kekayaannya tak bisa terhitung olehku. Kekayaannya sangat melimpah melebihi keluarga Oliver atau pun keluarga Xavier tunanganmu itu." Krystal mengedikkan bahunya sengaja membanggakan Vard.
"Kau bahkan sudah memanggil namanya secara langsung, hebat sekali trik menggodamu! Cih!" tiba-tiba Sabrina merasa panas di dadanya mendengar kekayaan yang berlimpah dari lelaki itu.
"Apa kau ingin belajar cara menggoda lelaki dariku, saudariku?" tanya Krystal sengaja.
"KAU!"
Krystal tak meladeni Sabrina lagi, dia melanjutkan langkahnya menuju kamar setelah masuk ia mengunci pintu kamarnya.
Sabrina menatap benci ke arah pintu kamar Krystal yang tertutup, dia menuruni tangga setengah berlari ke arah dapur. Ia menyiapkan sendiri minuman untuk Vard, memasukkan obat perang sang lalu mengoceknya.
"Kemarilah," panggilnya pada salah satu pelayan.
"Ya, Nona."
"Berikan minuman ini pada tamu Papa, katakan Nona Krystal lah yang membuatnya. Paham!"
__ADS_1
"Ya, Nona Sabrina."
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk!"
Si pelayan membuka pintu berjalan mendekati sang tamu lalu menaruh secangkir kopi di atas meja. "Tuan, kopi ini buatan Nona Krystal." Setelahnya si pelayan undur diri pergi dari sana.
Bibir Vard tersenyum lebar, ia mengambil cangkir dari tatakan lalu menyeruput kopinya. "Emm."
"Apa enak, Tuan Vard? Anda seperti menikmatinya," ujar Ronald.
"Ahhh, aku mengerti. Sepertinya Anda sudah tergila-gila pada Krystal, aku ikut senang," ujar Ronald penuh kepalsuan.
"Mm."
Sabrina sudah siap memakai gaun tidur dilapisi jubah tidurnya yang menerawang, ia menunggu kesempatan lelaki itu keluar. Benar saja tak lama lelaki itu keluar dengan mata dan wajah memerah.
Tak Tak Tak.
Sabrina mendengar seseorang berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa, ternyata itu Krystal dengan wajah paniknya.
__ADS_1
"Vard! Kamu tak apa-apa?!" Krystal baru saja menerima pesan dari lelaki itu jika tiba-tiba tubuhnya berubah panas, sensasi aneh menjalar di seluruh tubuhnya. Dengan cepat ia langsung berlari turun dari kamarnya, ia memeriksa wajah Vard. Benar saja, panas!
"Jangan ribut, sayang. Sepertinya ada yang memasukkan sesuatu dalam minumanku," bisik Vard di telinga Krystal.
"Ayo ke kamarku, kamu pusing bukan? Kebetulan aku mempunyai obatku dari Dokter," Krystal mulai memapah tubuh Vard melewati Sabrina yang sejak tadi melongo.
Setelah keduanya naik ke atas dan tak terdengar lagi derap langkah kaki keduanya. Baru lah Sabrina menghembuskan nafas yang sejak tadi di tahannya, ia takut ketahuan telah memasukkan obat itu. "Sial kau Krystal! Tapi kenapa timing wanita itu sangat pas? Apa Vard menghubungi Krystal?! Sungguh sial!"
Di dalam kamar Vard mengurung diri di bathroom merendam tubuhnya di dalam air dingin di bathtub, ia mencoba meredakan gairah yang terus berontak meminta dipuaskan. Ia takkan pernah menyakiti wanita yang dicintainya lagi dengan melampiaskan hasratnya tanpa kesedian Krystal.
"Vard! Buka! Apa yang terjadi?! Buka pintunya!" Krystal terus menggendor pintu kamar mandi, ia mendengar rintih kesakitan dari lelaki yang sudah mulai memasuki hatinya.
"Vard! Kalau kamu tidak buka, aku akan mendobrak pintu ini sampai tubuhku kesakitan!" ancamnya.
"Ja... ngan masuk... Aku mohon.. Aku tak ingin menyakitimu lagi... aku sepertinya diberi obat perang sang... Pelayan itu bilang kamu yang membuat minumannya untukku... Aku percaya begitu saja... Aku yang bodoh... Pergilah... Aku tak ingin memaksamu... Arhhtttgt... panas ini sangat menyiiksaku..." rintih lelaki itu kesakitan.
Krystal mengigiti kuku jempol tangannya, berjalan bolak balik di depan pintu kamar mandi dengan gelisah. Dengan mata penuh ketegasan, akhirnya dia memberanikan diri.
"Vard... Aku tak keberatan meredakan panasnya. Keluarlah, aku mohon... Jangan begini..."
Hanya suara rintihan lelaki itu jawaban untuk Krystal.
"Aku akan berhitung sampai 3. Jika kau tak membuka pintu sampai aku berhenti menghitung, aku akan terus mendobrak pintunya sampai tubuhku kesakitan! Satu... Dua...." Krystal menjeda hitungannya, "Tig---"
Ceklek.
__ADS_1
Pintu bathroom terbuka, Vard hanya memakai handuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Mata lelaki itu semakin memerah, kedua tangannya mengerat menahan sekuat tenaga agar tak menarik paksa tubuh Krystal dan menyakiti wanita itu dengan menidurinya.