
Semua keluarga dari Xavier dan Vard pulang dari kediaman Oliver, tapi para lelaki calon pengantin itu masih betah disana.
"Tuan Xavier, mau minum? Anda juga Tuan Ronald, Tuan Leon, Tuan Dex?"
"Kita sudah menjadi keluarga, jangan panggil kami dengan formal seperti itu, saudaraku." Ujar Leon.
"Baiklah, bagaimana jika kita pergi minum ke club. Aku yang akan traktir," ujar Vard.
"Oke, tunggu sedikit malam. Sekarang kalian pergilah temui calon pengantin kalian di kamar," Ronald mengiyakan ajakan Vard.
Vard bangun lebih dulu dari sofa, diikuti Xavier. Mereka berjalan ke arah tangga, berjalan berdampingan.
"Caramu sungguh cepat masuk ke dalam keluarga para cecunguk ini, Vard. Aku salut padamu," bisik Xavier seraya menaiki satu persatu tangga, lelaki itu menaruh satu tangannya di kantong celana.
"Haha, aku bukan orang yang sabar. Xavier, kamu tidak akan menyesal menikah dengan ular berbisa seperti Sabrina?" tangan Vard mencekal lengan pria yang pernah menjadi rival cintanya.
Langkah Xavier terhenti, "Sudah basahh, sekalian saja berenang asal jangan tenggelam, bukan?" Xavier mengangkat bahunya.
"Kamu adalah temanku, jika ada apa-apa katakan padaku."
__ADS_1
Xavier menatap Vard melihat kesungguhan di dalam mata lelaki itu. "Hm, teman. Oke."
Mereka tersenyum dan berpisah di undakan tangga berjalan ke kamar wanitanya masing-masing.
"Krystal, aku masuk."
"Masuklah, bantu aku membuka gaunku!" teriak Krystal dari dalam bertepatan dengan pintu kamar dibuka oleh Vard.
Xavier menghentikan langkahnya yang menuju kamar Sabrina saat mendengar suara manja Krystal pada Vard, ia mengeratkan tangannya berusaha menerima keadaan meskipun hatinya sangat sakit.
Vard melirik ke arah Xavier, dia sedikit merasa tak enak hati pada lelaki itu tapi keadaan ini yang telah dipilih oleh Xavier sendiri. Ia masuk ke dalam lalu menutup pintu.
"Xavier, aku sedang ingin dipuaskan. Puaskan aku... hahhhh..." di sela ciumannya Sabrina memerintah calon suaminya.
"Baiklah, aku akan memuaskanmu. Aku haus, aku minum dulu," Xavier berjalan ke meja ia melirik Sabrina wanita itu berjalan ke ranjang dengan cepat ia merogoh botol obat perang sang lalu meminum satu butir menelannya lalu mendorong obat itu dengan air.
Mata Xavier menajam, setiap bercinta dengan Sabrina ia tak bisa bergairah harus selalu dibantu obat. "Hahhh," dessahnya pasrah.
"Xavier, kemarilah..." Sabrina sudah membuka gaun yang dipakainya di acara lamaran tadi, gaun itu teronggok di lantai kini wanita itu hanya memakai lingeri tipis yang bahkan tak bisa menutupi setiap leluk tubuhnya dan sedang berbaring dengan posisi menantang di atas ranjang.
__ADS_1
Obat di tubuh Xavier mulai bereaksi, ia mendekat ke ranjang langsung menindih tubuh Sabrina mencium leher wanita itu membuat lenguhhan lolos keluar dari bibir Sabrina.
Di kamar sebelah Vard dan Krystal saling menatap saat mendengar suara lenguhhan dari kamar Sabrina. Krystal yang memalingkan wajah lebih dulu, tiba-tiba wajah dan tubuhnya memanas.
Krystal menjauh dari Vard seraya mengipasi wajahnya, "Rumah sebesar ini kamarnya tidak kedap suara, apa masuk akal?" gerutunya.
"Mhuhhee... kamu kepanasan karena mendengar suara dessahhan ular itu atau kamu ingin melakukan lagi kegiatan kita malam... Hmmp--"
Bibir Vard tertutup telapak tangan Krystal, saat terlepas pria itu menarik pinggang calon istrinya. "Aku tidak akan memaksamu, sayang."
"Ekhm, bukannya aku menolak tapi ini bukan waktu yang pas. Aku tidak ingin saat kita melakukannya itu akan terdengar seperti arena balapan liar dengan kamar sebelah, saling mendessah. Ahhhhh! Membayangkannya saja membuatku mual!"
"Hahaha, baiklah sayang. Aku mengerti." Vard mengeratkan pelukan di pinggang wanitanya. "Berikan saja satu ciuman."
Krystal menggeleng, "Setelah satu ciuman kau akan meminta lebih, Vard. Aku yakin itu."
Vard tergelak, perkataan Krysral memang benar gairahnya takkan berhenti hanya dengan satu ciuman.
Akhirnya mereka keluar dari kamar menuju ruang bawah tanah, mencari botol anggur yang akan dinikmati sebelum Vard pergi ke club bersama para pria di kediaman Oliver.
__ADS_1