
Diluar restoran, Vard dengan kukuh mengajak Krystal untuk naik di dalam mobil yang sama.
"Ayolah, Krystal. Aku benar-benar ingin mengenalmu lebih jauh."
"Turuti saja, nak. Paman menunggu kalian di rumah, Paman pergi lebih dulu." Ujar Ronald.
Sabrina mau tak mau pergi bersama Xavier, setelahnya dia akan menyuruh Xavier untuk pulang. Malam ini dia akan menyelusup masuk ke kamar Vard dan menggodanya. Aku yakin akan berhasil, pria mana yang tidak tergoda saat seorang wanita telanjang? Aku juga masih punya sisa obat perang sang di dalam tas-ku. Oke!
Di dalam mobil Vard terus menggenggam tangan Krystal, "Apa kamu marah karena aku tak bilang padamu jika aku mengenal mereka?"
Krystal memalingkan wajahnya dari kaca jendela lalu menatap intens mata Vard, "Tentu saja aku marah, tapi jika kamu mengatakan alasan yang bisa aku terima aku takkan mempermasalahkan nya."
"Aku sudah bilang padamu aku khawatir kamu di rumah itu sendirian, jika aku dekat seperti ini denganmu aku mempunyai alasan yang tak akan dicurigai keluarga brengsek itu untuk bisa selalu di dekatmu. Jangan marah, ya?"
Sebenarnya ia sudah bisa menebak maksud dari Vard tapi dia hanya kesal pria itu tak mengatakan lebih awal.
"Vard, jika kau menghormatiku dan benar-benar ingin bersamaku. Bisakah apapun yang akan kau lakukan lebih dulu bicara padaku?"
"Maafkan aku, baiklah untuk ke depannya aku akan selalu ijin terlebih dahulu padamu. Oke? Senyum mu mana..." goda Vard.
"Aku merindunkan Kakek Benard... hahhh," desaah Krystal.
__ADS_1
"Aku akan meneleponnya dan menyuruh orang untuk menemani Papa datang kesini. Pasti Papa sangat senang bertemu dengan cucunya, bertemu kamu dan Justin." Vard mengelus pipi mulus Krystal.
Krystal mengangguk.
"Apa penampilan baruku sangat jelek?"
Krystal diam, dia sebenarnya tak ingin membuat pria yang sedang mengelus pipinya itu kege'eran tapi melihat pengharapan dari raut wajah Vard akhirnya dia mengangguk. "Lumayan, kamu sekarang terlihat seperti dulu sebelum aku kabur darimu. Vard yang semangat, tampan dan penyayang."
"Kamu suka," pertanyaan jebakan.
"Suka," jawab Krystal apa adanya, dia memang suka penampilan baru dari Vard.
"Yes, Tuan! Saya akan menjadi saksi Anda!" balas Bond tak kalah semangat, asalkan sang majikan senang para anak buah semakin senang karena pasti akan mendapatkan bonus.
"Vard! Bukan itu maksudku! Aku--"
Vard menarik sekat antara jok depan dan jok belakang, memberi privasi untuknya dari anak buahnya yang sedang menyetir.
Krystal pernah mengalami ini saat dulu Vard memaksanya, " Kamu ingin memaksaku seperti dulu, menarikku lalu menciumku?"
"Kamu ingin aku menciummu? Krystal, aku tak menyangka pikiranmu ke arah sana. Tapi jika kamu mau, ayokk sini aku cium."
__ADS_1
"Lalu?"
"Aku hanya ingin tidur sebentar di pangkuanmu sebelum sampai, aku merindukan kasih sayangmu padaku." Vard lalu membaringkan kepalanya di atas pangkuan Krystal, menggenggam tangan wanita itu membawanya ke bibirnya mengecup dengan penuh kasih.
"Untuk terakhir kalinya aku ingin memanggil nama yang aku berikan padamu sejak kecil, Queena sayang.... belai aku."
Krystal menatap wajah kelelahan Vard, terkadang wajah pria itu seperti menahan rasa sakit. Tangan nya terangkat mengelus kepala Vard, membelai lembut. "Vard, apa kamu sakit?"
"Memangnya kenapa?" tanya pria yang sedang menikmati belaian tangan wanita yang teramat dicintainya.
"Terkadang kamu seperti menahan rasa sakit, apa kamu sakit?"
Tak ada jawaban.
Krystal menatap mata Vard yang menutup terpejam, "Kamu memang tidak sakit atau kamu tidak ingin menjawabku karena merahasiakan sesuatu dariku? Ingat Vard, aku tak suka sesuatu yang dirahasiakan dariku. Kamu juga tau saat aku mengetahui rahasia Justin itu seakan ada batu yang menghimpitku, terasa sesak. Kamu tidak ingin aku seperti itu lagi 'kan?"
Akhirnya Vard membuka kedua matanya, ia mengulurkan tangan besarnya ke wajah Krystal membelai kembali pipi wanita itu. "Jantungku harus di operasi, Dokter bilang itu sudah parah. Karena ada faktor keturunan juga karena selama aku ditinggalkan olehmu selama bertahun-tahun aku depresi. Papa bilang aku bahkan seperti mayat hidup, hanya makan melalui selang yang dipasang Wales padaku. 4 tahun aku teronggok tak berdaya, hatiku sakit saat kamu meninggalkanku. Aku ingin mati saat itu untuk menyusulmu, tapi aku bahkan tak berani menghadapi dirimu di alam sana. Aku pria egois, brengsek, bajingan. Aku--"
Krystal sudah merasa cukup mendengar semuanya, dia menutup bibir Vard dengan bibirnya. Tetesan air bening jatuh dari matanya yang indah menerpa wajah Vard.
Vard menatap mata Krystal yang berembun karena menangis, meresapi bibir wanita itu di bibirnya. Dengan perlahan ia menarik kepala Krystal ke bawah semakin memperdalam ciuman mereka.
__ADS_1