
Vard mengelus rambut Queena dengan lembut, kepala wanita itu masih berada di dadanya. Setelah tadi wanita itu tiba-tiba memeluknya, Queena mengatakan sangat mengantuk. Vard membawa tubuh mereka berdua ke sofa lalu membaringkan tubuh Queena di samping tubuhnya. Benar saja, tak lama terdengar nafas pelan teratur wanita itu.
"Apa tadi di rumah itu Queena sangat tegang sampai membuatnya kelelahan seperti ini?" gumam Vard.
"Ahhh... Queena. Akhirnya... aku sudah lama merindukan suara lembutmu padaku, aku merindukan pelukan hangatmu padaku. Aku juga merindukan saat kau merasa nyaman bersandar di dadaku dan nyaman berada di dalam dekapanku. Aku mencintaimu... apakah aku masih mempunyai kesempatan itu?"
Vard terus bergumam sampai matanya ikut terpejam, bibirnya tersenyum penuh kedamaian.
Justin melihat dari rekaman Cctv di iPad-nya, dia melihat segalanya dengan jelas. Sepertinya Mommy-nya sudah melepaskan rasa benci untuk Daddy-nya, bahkan mungkin sekarang perasaan sang Daddy akan terbalas.
"Aku tak bisa berbuat apapun sekarang, hanya mengikuti apa yang terbaik menurut Mommy," des sah bocah itu.
"Ya dong Tuan muda, harus itu. Anda sebagai putra mereka harus memberikan kesempatan juga untuk Daddy tuan muda, jangan terus membenci Daddy Anda, Tuan." Ujar Taylor.
Justin mendes sah sekali lagi.
Drrrrtt Drttttt.
Taylor melihat itu adalah panggilan dari Nona Soppie, dia mengangkatnya. "Ya, Nona Soppie?"
"Taylor! Aku bilang katakan dimana Vard! Kalau kau tidak bilang, aku akan meloncat dari atas gedung! Aku tak main-main!"
Justin mendengar suara teriakan wanita itu, dia merebut ponsel dari tangan Assisten sang Daddy. "Halo Nona Soppie?"
"Siapa ini? Kenapa suara anak kecil?"
"Yayaya, aku masih kecil. Apa Nona ingin tau dimana Daddy-ku?"
"Daddy-mu?!"
Justin tersenyum mendengar suara terkejut wanita itu, dia sudah tau siapa wanita yang bernama Soppie itu.
"Hei! Katakan apa maksudmu?!"
"Ya, Daddy-ku. Perkenalkan aku Justin, putra dari Mommy-ku dan Daddy Vard."
__ADS_1
"Mommy-mu? Siapa?"
"Tebaklah, aku sekarang berusia 7 tahun. 8 tahun lalu Mommy-ku kabur dari Daddy-ku. Kamu bahkan membantu Mommy-ku kabur, jadi..."
"Queenaaa..." lirih wanita itu.
"Binggo! Aku akan mengirim alamat rumah Mommy-ku, datanglah kesana Anda akan menemukan Daddy-ku disana... byebye..."
Tuttttt.
Justin mengetik alamat sang Mommy lalu mengirimnya pada wanita itu, dia ingin Daddy-nya menyelesaikan masalah pribadinya sebelum melanjutkan dengan Mommy-nya.
Taylor hanya menggeleng, entah apa yang dipikirkan oleh Tuan muda nya itu.
Dugh! Dugh! Dugh!
Soppie datang ke alamat rumah yang diberikan padanya, dia sengaja menggedor pintu tanpa ingin menekan bel.
Para body guard hanya membiarkan wanita yang baru datang itu, karena tidak ada larangan dari sang majikan.
Vard yang terbangun lebih dulu, kemudian mata Krystal terbuka. "Umm,"
Suara pria itu terdengar dari atas kepalanya, Krystal mendongak. Tiba-tiba matanya membulat penuh, ia mengangkat tubuhnya dari dekapan Vard lalu turun dari sofa. "Aku tak sengaja, itu--"
Dugh! Dugh! Dugh!
Gedoran terdengar lagi, Krystal hendak berjalan ke depan tapi lengan nya ditahan oleh Vard.
"Aku saja," ujar lelaki itu. Tanpa menunggu ijin dia menyeret kakinya menuju pintu.
Ceklek.
"Vard! Kau keterlaluan! Aku mencarimu selama beberapa hari ini, kau yang membawaku kemari tapi kau yang menghilang meninggalkanku!"
"Soppie, aku luruskan. Bukan aku yang membawamu ke kota ini tapi kau yang selalu mengikuti kemanapun. Kita sudah lama tak ada hubungan apapun, kau yang masih terus mengejarku. Bukankah kau yang keterlaluan?"
__ADS_1
"Vard..." Krystal menghampiri mereka di pintu.
"Jadi benar ini kamu Queena, ah aku merindukanmu." Soppie maju ingin memeluk Queena tapi Vard mendorong pelan wanita itu keluar pintu.
"Jangan sok perhatian atau dekat dengan Queena. Rossi sudah bilang padaku apa rencanamu sebenarnya pada Queena saat membantunya kabur. Rossi bilang kau menyuruh para penculik bayaran itu untuk memper kosa Queena jika Queena melawan kau menyuruh mereka membunuh Queena. Kau wanita mengerikan, Soppie!"
"Apa?!" Krystal menutup mulutnya tak percaya.
"Tidak! Rossi bohong Vard. Keponakanmu hanya ingin semua kesalahan ditimpakkan padaku! Rossi juga sangat membenci Queena, bukan hanya aku!" ujar Soppie keceplosan.
Vard menatap tajam wanita tak tahu malu di depan nya. "Akhirnya kau mengatakan dengan mulutmu sendiri jika kau membenci Queena! Sekarang pergi dari hadapanku dan Queena selamanya! Jika kau masih menggangguku, aku tak segan akan membuatmu hidupmu sangat menyedihkan! Pergi!
"Queena..."
Tapi Krystal berwajah datar, dia juga tak pernah menyangka jika Soppie ingin membunuhnya saat pelarian itu. "Sudah untung aku tak memenjarakanmu, Soppie. Sekarang pergilah dari hadapanku! Vard, usir dia. Aku muak melihat wanita ini!"
"Greg! Seret dia! Ingat! Jangan pernah lagi ijinkan wanita men ji jikkan ini menginjakkan kakinya di rumah ini bahkan sekalipun hanya bayangan nya! Kalian semua mengerti!"
"Ya Tuan!!!" jawab semuanya.
Kemudian Vard membanting pintu di depan wajah Soppie, berbalik menatap Queena. "Maafkan aku, penganggu itu malah datang kesini."
"Dari mana dia tau alamatku?"
Drttttttt.
Ponsel Vard bergetar, "Halo, Taylor?"
"Tuan muda Justin yang mengirim alamat Nona Queena, Tuan."
"Oke."
Vard menutup panggilan, kenapa putranya itu jahil sekali?
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Justin?"
__ADS_1
"Taylor mengatakan, putra kita yang mengirim alamatmu pada Soppie."
Mulut Krystal terbuka lebar.