
Vard pulang ke Apartemen dengan hati seperti sedang melewati musim semi, begitu bergairah.
Justin menatap curiga karena semalaman Daddy-nya tidak pulang dan kini pulang dengan senyuman lebar seperti orang gila. "Darimana saja semalaman?"
Tingkah bocah 7 tahun itu sudah seperti orang tua menanyai anaknya yang tidak pulang semalaman, dengan mata menyipit menghunus tajam lalu bersedekap berdiri dengan tegap.
Taylor ingin tertawa melihat tingkah konyol Tuan mudanya, apalagi melihat wajah Presdir-nya yang seperti kepergok bermalam dengan kekasihnya.
"A... Da--Daddy hanya menemani Mommy-mu. Itu kami hanya tidur bersama, saling berpelukan. Itu saja..."
"Apa?!" Justin histeris, ia tak menyangka secepat itu Mommy-nya akan menerima sang Daddy dan bahkan sudah tidur sekamar.
"Justin, jangan marah sama Mommy. Ya? Ini semua salah Daddy, di rumah itu Daddy dijahati," Vard berwajah seperti seorang yang tersakiti berwajah begitu menyedihkan.
"Apa maksud Daddy dijahati?" melihat wajah menyedihkan Daddy-nya suara Justin sedikit melunak.
"Ada yang memasukkan obat dalam minuman Daddy, tubuh Daddy seketika sakit. Untung saja Mommy-mu mengobati Daddy," ujar Vard masih dengan wajah menyedihkan.
Taylor ingin berteriak pada sang Presdir lalu bertepuk tangan, sungguh akting Presdirnya itu luar biasa.
__ADS_1
"Obat apa?" Justin menatap tajam ingin membalas orang yang telah menyakiti Ayahnya.
"Itu obat... Umm... obat... Apa Taylor?" karena susah menjawab Vard melempar pertanyaan itu pada Assisten nya.
Taylor melongo, mana dia tahu itu obat apa. Presdir-nya memang kadang-kadang otaknya itu ya!
Vard mendengus karena Taylor tak membantunya menjawab malah melongo seperti orang bodoh. Dia pun kebingungan harus bagaimana menjelaskan pada putranya karena efek dari obat itu membuatnya melewati malam yang sangat luar biasa panas dengan Krystal.
Justin berubah curiga lagi, "Sudahlah! Mulut Daddy sepertinya sedang bermasalah, untuk bicara saja gagu!"
Setelah berkata tajam Justin berbalik menjauh pergi ke kamarnya ingin menelepon sang Mommy untuk menanyakan apa yang terjadi.
"Presdir, saya bahkan tidak tau apa obat yang Anda maksud. Saya tidak berada dekat dengan Anda, darimana saya bisa tahu?"
Vard menatap wajah datar Assistennya, Taylor memang benar darimana Assistennya itu bisa tau. "Sudahlah, aku ingin check jantungku ke Dokter. Kau aturlah."
"Baik."
Di kantornya senyum bahagia pun tak lepas dari bibir Krystal, wajah berbinarnya tak bisa wanita itu sembunyikan.
__ADS_1
"Nona Esther, Tuan Xavier datang. Beliau mengatakan ingin bicara sebentar saja."
Suara sekertarisnya melalui interkom membuat senyumnya seketika menghilang saat mendengar siapa yang datang. "Katakan padanya aku sedang sibuk."
"Krystal, aku ingin bicara sebentar. Aku mohon." Pinta Xavier dari interkom.
Krystal menghela nafas pelan, "Baik, tunggu aku di cafe seberang. Aku ingin kita terlihat di depan umum bukan di dalam ruangan yang tertutup."
"Oke, aku tunggu disana."
Krystal menghembuskan nafasnya perlahan, setelah dia mengetahui hubungan Xavier dan Sabrina dia sengaja memutuskan hubungan apapun dengan Xavier termasuk hubungan pekerjaan sekalipun. Dia sudah menyerahkan semua berkas-berkas tentang kekayaan Xavier pada rekan sejawatnya yang sama ahli seperti dirinya karena dia masih bertanggung jawab. Kini, sepertinya dia memang harus bicara serius dengan lelaki mantan tunangannya itu agar semuanya menjadi jelas untuk ke depannya.
Saat Krystal masuk ke dalam cafe, Xavier sedang menunduk seperti seseorang yang sudah kehilangan semangat hidupnya.
Krystal menarik kursi lalu tanpa berbasa basi ia mendaratkan tubuhnya disana. "Lima menit Xavier."
Xavier menatap nanar wajah wanita yang dicintainya, "Sabrina meneleponku, katanya dia sudah mengatakan padamu jika dia tahu tentang hubungan kita."
"Ya, itu benar. Selama ini aku diam karena aku pikir Sabrina tidak tau apapun tentang kita tapi ternyata dia tahu semuanya. Tapi bukankah kau selalu berpura-pura tak mengenalku dekat di depan Sabrina dan keluarganya? Sekarang kau menemuiku, apa kau tidak takut ketahuan? Bukankah aliansi ikatan keluarga Oliver dan keluarga Exim sangat berharga? Kenapa kau harus bermain api denganku di belakang keluargamu dan Sabrina?"
__ADS_1
Banyak yang ingin dikatakan Xavier saat berbicara berdua saja dengan Krystal tapi saat kini pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari bibir wanita itu seketika ia termangu.