Terperangkap Pernikahan Adat

Terperangkap Pernikahan Adat
Ketakutan


__ADS_3

Hasnita benar benar tidak tau harus berbuat apa dia sekarang, dia terus mundur dan tidak yakin bisa kabur dari Deffar di ruangan kamar yang sempit itu.


Sementara Deffar terus melangkah ke arah Hasnita.


"Stop, Jangan mendekat, atau saya akan berteriak sampai orang orang datang kemari, dan anda akan di pukuli" ucap Hasnita mencoba membela dirinya.


Deffar hanya tersenyum ringan "Kau hanya punya dua pilihan sekarang, ikut aku, atau mngembalikan uang 5 juta yang sudah di habisakan oleh teman mu sebelumnya ," ucap Deffar


"Apa?, Lima juta?, kenapa aku yang harus mengembalikanya?" tanya Hasnita, jelas dia tidak punya uang dengan nominal itu.


"Tanyakan saja pada temanmu" ucap Deffar


Hasnita langsung menatap nanar pada Rani sahabatnya itu "Ran, kenapa kamu bisa setega ini padaku?" ucap Hasnita


"Ma maaf Nit, Ini ini..."


"O ya, Kamu bisa saja tidak mengembalikan uangnya,, tapi aku pastikan polisi akan mengurungmu di penjara, bagaiamna menurutmu?,hm?" tanya Deffar bermain di psikologis Hasnita


Jelas Hasnita sedikit takut, dan tidak mau kalau itu sampai terjadi.


"Baiklah, baik. Aku akan ikut denganmu" ucap Hasnita, dia benar benar sudah kena mental oleh prank dari Deffar


"Itu pilihan yang tepat, Apa aku harus memapahmu untuk pergi ?" tanya Deffar


"Tidak, tidak perlu, aku jalan sendiri saja" ucap Hasnita


Deffar menoleh pada Rani yang di samping nya, dan mengeluarkan amplop berwarna coklat dari saku jasnya.


"Baiklah Ran, ini sisa pembayaran terakhirmu, kau boleh mengambilnya" ucap Deffar memberikan amplopnya pada Rani


"Ini, ini apa?, aku tidak mengerti?" ucap Rani bingung karena tiba tiba mendapatkan upah, dia merasa sudah benar benar menjual sahabatnya sendiri pada Deffar.


Deffar lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Rani dan membisikan sesuatu padanya.


Rani hanya mengangukan kepalanya tanda dia paham dengan yang di ucapkan Deffar.


Hasnita hanya menatap Rani dengan tatapan sinis, karena dia tidak bisa mendengar apa yang Deffar katakan pada Rani.


"Baiklah, kita pergi sekarang" ucap Deffar pada Hasnita


Dan akhirnya Deffar pun sukses menggiring Hasnita untuk masuk kedalam mobilnya.


Deffar hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Hasnita yang duduk di sebelahnya dan nampak tidak tenang. Deffar segera melajukan mobilnya untuk memabawa Hasnita ke kediamanya.


Di perjalanan.


"Kalau kamu ingin sesuatu, kamu tinggal bilang saja" ucap Deffar


"Aku ingin pulang" ucap Hasnita spontan

__ADS_1


"Kita juga akan pulang, maksudku apa kau lapar sekarang?" tanya Deffar


Hasnita menggelengkan kepalanya "Tidak" ucap Hasnita singkat


"Baiklah, kalau begitu kita nanti makan di rumah saja" ucap Deffar yang tidak berniat mengatakan siapa dirinya, dan menunggu Hasnita sadar dengan sendirinya.


.


Hasnita merasa melewati perjalanan yang paling menegangkan dalam hidupnya, bagaimana tidak, dia tidak tau akan di bawa kemana oleh Deffar, dan akan di perlakukan seperti apa olehnya nanti, yang jelas dia tidak ingin menduga duga dulu.


Hasnita masih menganggap Deffar itu orang asing, yang bisa saja menyakitinya kalau dia menolak keinginannya, jadi dia hanya bisa pasrah dan berdoa dalam hati.


'Ya tuhan, hukumlah orang ini kalau dia macam macam padaku, kutuk dia jadi kodok kalau perlu, ah tidak, jadi kecoa saja' Gerutu Hasnita dalam Hati


Hingga mobil mereka pun akhirnya masuk ke sebuh pelataran luas di sebuah hunian yang begitu megah dan mewah.


Deffar segera keluar dari kursi mobilnya, dan membuka sisi lain pintu untuk Hasnita turun.


"Turunlah kita sudah sampai" ucap Deffar dengan mengulurkan tangannya pada Hasnita


Hasnita yang melamun sedikit tersentak karenanya, "Oh," hanya kata itu yang keluar dari mulut Hasnita.


Diapun turun, dan langsung terkesima melihat tempat yang dia datangi sekarang, dia tidak memperhatikannya saat mobil memasuki gerbang utamanya, itu karena dia memang terus melamun.


' Waaw, rumahnya besar sekali, ini sih bisa untuk tinggal satu RT kalau di desa, sepertinya pria ini benar benar orang kaya" pikir Hasnita


Deffar sedikit membungkuk dan mendekat kan wajahnya pada wajah Hasnita yang terbengong,


"Aku hanya penasaran, apa yang sedang kau pikirkan di otakmu?" ucap Deffar


"Ti tidak, aku tidak sedang memikirkan apa apa" ucap Hasnita.


"Kalau begitu ayo masuk, anggap saja di sini rumah sendiri" ucap Deffar.


"Baiklah" ucap Hasnita datar


Deffar memapah Hasnita untuk masuk ke rumah itu,


Hasnita sebenarnya sedikit merasa risih oleh perlakuan Deffar itu, tapi dia tidak punya keberanian untuk menolaknya 'Ya tuhan, apa yang akan terjadi padaku di sini ' batin Hasnita bebar benar tidak bisa tenang.


Mereka langsung melewati pintu utama yang terbuat dari kayu solid yang cukup kokoh, mereka juga segera di sambut beberapa pelayan di pintu masuk seperti halnya di sebuah kerajaan.


"Selamat datang Tuan, selamat datang nona" ucap serempak para pelayan.


Hasnita benar benar di buat bingung oleh Deffar yang mengajaknya ke rumah mewah itu, dan bahkan sangat di hormati layaknya yang punya rumah.


Sesekali Hasnita mendongak untuk melihat wajah Deffar yang memang lebih tinggi darinya, dan berpaling ketika Deffar menatapnya.


Deffar hanya tersenyum simpul saat menyadari kalau Hasnita mencuri curi pandang padanya.

__ADS_1


"Bi, antarkan nona Hasnita ke kamarnya," ucap Deffar pada salah satu pelayan di rumah itu.


"Baik Tuan, mari non Saya antar anda ke kamar" ucap Sang pelayan


Deffar melepaskan Hasnita pada pelayan itu.


Hasnita tentu melirik bingung pada Deffar lagi, karena Deffar melepaskanya begitu saja ke orang lain.


Sementara Deffar langsung pergi ke arah tangga lantai atas rumahnya


"Mari non, ikut bibi" ucap Sang pelayan


"Oh iya bi," ucap Hasnita tersenyum canggung


Diapun mengikuti arahan bibi untuk menuju ke salah satu kamar yang ada di lantai dasar itu.


"Bi, bolehkah saya bertanya?" ucap Hasnita


"Silahkan saja non, mau tanya apa memangnya?" tanya Bibi.


"Apa tuan suka membawa wanita yang berbeda setiap kali dia pulang?" tanya Hasnita penasaran.


"Tentu saja tidak non, masa iya tuan seperti itu" ucap bibi sambil tertawa ringan


Itu membuat Hasnita semakin bingung, "Atau dia suka menculik orang orang untuk jadi pelayan di rumah ini?" ucap Hasnita lagi.


Si bibi sedikit terbengong mendengar pertanyaan itu "Maksud nona apa, bibi tidak paham" ucap Si bibi mengerutkan dahinya


"Ya maksudnya untuk apa aku di ajak kesini jika tidak ada maksud apa apa?" ucap Hasnita asal.


Si bibi langsung tersenyum bingung "Nona ini aneh aneh saja pertanyaan nya, nona lucu" ucap si bibi.


'Apanya yang aneh?, satu satunya yang aneh di rumah ini adalah pemiliknya' pikir Hasnita


Mereka pun akhirnya segera sampai di depan pintu sebuah kamar.


"Ini kamar nona, Semuanya sudah saya siapkan di dalam, nona tinggal menempatinya saja" ucap si bibi


Melihat pintu itu, Hasnita malah membayangkan kalau di balik pintu itu terdapat mayat mayat wanita muda sepertinya, bergelimpangan di setiap sudutnya, seperti halnya tumbal dalam ritual pemujaan seperti yang pernah dia lihat di film horor.


"Tidak!!, aku tidak mau masuk kedalam bi" ucap Hasnita dengan wajah ketakutan


"Lho kenapa non?, saya sudah membersihkan semuanya,, saya jamin tidak ada kecoa ataupun tikus di dalamnya, jadi jangan takut" ucap si bibi


"Apa di dalamnya ada mayat bi?" tanya Hasnita


Lagi lagi si bi i terbengong mendengar pertanyaan Hasnita, dan menatapnya dengan tatapan aneh, si bibi pun langsung membukakan pintu kamarnya dengan bingung. Dia masuk untuk memeriksa ke dalam kamar dan memastikan tidak ada apapun yang di takutkan oleh Hasnita.


"Tidak ada Non" ucap si bibi dengan wajah serius

__ADS_1


"Oh, tidak ada ya" ucap Hasnita tersenyum kaku sambil mengintip ngintip kedalam kamarnya itu.


__ADS_2