Terperangkap Pernikahan Adat

Terperangkap Pernikahan Adat
Kelabakan


__ADS_3

Deffar tertegun sejenak saat membaca pembukaan surat yang di tulis tangan oleh mending sang ibu sebelum dia meninggal, karena surat itu benar benar di tujukan untuknya.


📃"Deffar putraku, ibu mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini saat kamu membaca surat ini, Ibu hanya ingin mengatakan kalau ibu sangat bangga memiliki putra seperti mu"


Deffar tidak kuasa membendung air matanya saat dia membaca bait demi bait pesan terakhir dari sang ibu yang tersusun rapi di secarik kertas, itu membuatnya merasa jadi anak yang tidak berguna, anak yang tidak berbakti, dan sama sekali tidak bisa memahami kerinduan seorang ibu pada dirinya.


Hanya penyesalan yang Deffar rasakan saat ini, menyesal selama ini dia tidak bisa meluangkan sedikit waktunya untuk menjenguk sang ibu,


Dan yang membuat Deffar langsung mati rasa adalah harapan sang ibu yang di tulis di akhir surat.


📃"Satu hal lagi yang ingin ibu minta dari kamu, tolong jagakan sosok gadis yang ada di foto ini untuk ibu, namanya Hasnita Rayana, dia adalah gadis yang ingin ibu kenalkan padamu, dia yang selalu mengobati kesepian ibu di saat kamu jauh,, dia gadis yang baik, hanya saja nasibnya kurang beruntung, dia tidak di inginkan di keluarganya,, kalaupun kamu tidak bisa menjadikanya sebagai pendamping hidupmu, setidaknya kamu sayangi dia sebagai adikmu, ibu sudah menyayangi Hasnita seperti halnya ibu menyayangimu, jadi ibu harap kau juga bisa menjaga dan melindunginya.


Mungkin hanya itu saja yang ingin ibu sampaikan padamu, terimakasih sudah membaca tulisan dari tangan renta ibu ini "


Dari awal hingga akhir, entah sudah berapa banyak air mata yang Deffar teteskan ke secarik kertas yang ada di tangannya itu, hingga surat itu benar benar basah oleh air matanya sendiri.


"Hasnita?, gadis ini yang ingin ibu perkenalkan padaku?, Maaf bu, aku sudah mengabaiakanya sedari awal,, aku berjanji akan memenuhi permintaan terakhirmu ini" ucap Deffar dengan menyeka air matanya yang berlinang.


Deffar mendekap erat secarik kertas itu di dadanya, pesan terakhir dari ibunya itu seolah sudah memberikannya alasan lagi untuk dia melanjutkan hidupnya.


Dia segera beranjak pergi dari rumah untuk mencari informasi kemana Hasnita pergi, dia menanyakan ke beberapa tetangga dekat rumah, tapi mereka tidak tau pasti kemana Hasnita dan Rani pergi merantau.


Kebetulan Deffar juga bertemu dengan bibi yang meminjamkan uang pada Hasnita.


"Bibi, maaf bi, saya numpang tanya, apa bibi tau Hasnita pergi ke kota mana?" tanya Deffar berharap ada informasi yang bisa di berikan bibi itu.


"Apa??,,, Hasnita pergi dari rumahmu ya??, terus untuk apa kamu mencarinya?, dia pergi pasti tidak kuat karena mempunyai suami yang kerjanya molor terus di rumah seperti mu" ucap Sang bibi dengan ekspresi masam.


"Bi, aku mohon tolong jawab bi, apa bibi tau kemana Hasnita pergi?" tanya Deffar lagi


"Mana bibi tau" ucap Bibi itu.


"Oh, baikah terimakasih bi" ucap Deffar segera berlalu tanpa merasa tersinggung oleh ucapan sang Bibi.

__ADS_1


"Dasar laki laki, kalau istri sudah kabur, baru tau rasa kan," gerutu si bibi yang tidak tau apa apa soal mereka.


Deffar kelabakan kesana kemari mencari informasi tentang Hasnita, tapi hasilnya nihil, tidak ada satupun orang yang tau persis ke kota mana Hasnita dan Rani pergi.


Saat Deffar menyerah untuk mencari tau, dia pun memyambangi kediaman suster yang sebelumnya mengurus ibu nya.


Dia langsung duduk di depan rumah mantan perawat sang ibu, dia merasa bingung kemana dia harus menyusul Hasnita, dan dengan apa dia harus pergi mencari.


Itu karena mobil yang sebelumnya di rusaknya sudah jadi rongsokan, jadi tidak mungkin bisa di kendarai lagi, Deffar juga tidak punya uang sama sekali untuk ongkos menyusul Hasnita ke kota.


Satu satunya orang yang Deffar percaya akan membantu nya hanya mantan perawat ibunya yang sudah di kenal Deffar dengan baik.


"Kenapa harus sesulit ini?, Apa aku harus kembali keperusahaan?, Ya!, mungkin dengan begitu aku bisa menyuruh orang untuk mencari keberadaan gadis itu dengan mudah" gumam Deffar.


"Pak, Deff, apa itu anda?" tanya wanita paruh baya dari arah pintu Rumah yang baru di bukanya.


Deffar langsung menoleh ke arahnya "Ah, Bi, iya ini saya" Deffar segara beranjak untuk menghampiri bibi itu.


Deffar langsung menggaruk tengkuknya meski tidak gatal "Begini bi, aku kehilangan dompetku saat aku datang kesini tempo hari, sementara sekarang aku harus pergi ke kota lagi, apa bibi punya simpanan uang?, kalau ada,, saya ingin meminjam uang dari bibi untuk pergi ke kota? " dalih Deffar tidak terlalu menjelaskan masalahnya.


"Oh begitu, kebetulan bibi memang punya simpanan pak Deff,, berapa yang anda butuhkan?" tanya Sang bibi yang tentunya percaya kalau Deffar orang yang bertanggung jawab, meski penampilannya sekarang benar benar berantakan karena depresi.


"Yang penting bisa untuk sampai ke kota saja bi" ucap Deffar.


"Oh baiklah, tunggu sebentar ya, bibi ambil dulu uangnya" ucap Sang bibi segara berbalik untuk mengambil uang kedalam rumahnya.


Tidak lama Diapun keluar dengan membawa lima lembar uang pecahan seratus ribu di tangannya "Simpanan Bibi hanya ada segini pak Deff , apa ini cukup?" tanya sang bibi memperlihatkan uang itu pada Deffar


Deffar langsung tersenyum karena merasa sudah terbantu oleh sang bibi


"Cukup, cukup bi, kalau begitu saya pinjam uang bibi ini, saya pasti akan segera mengembalikan uang ini" ucap Deffar yang langsung menerima uangnya.


"Tidak perlu terburu buru pak Deff," ucap Bibi

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih banyak bi, kalau begitu saya langsung pergi sekarang " ucap Deffar


"Iya silakan pak Deff "


Deffar pun segera berlalu untuk mencari tumpangan supaya dia bisa pergi dari desa itu.


.


Beberapa jam kemudian, Deffar terlihat turun dari sebuah bus kota tepat di depan gedung perusahaan besar miliknya.


Deffar langsung melenggang ke arah pintu gerbang perusahaan nya tanpa merasa ragu, meski penampilan nya sekarang sudah hampir mirip gembel yang penampinaya tak ter urus.


Alhasil dia langsung di hentikan oleh para penjaga kantornya sendiri, karena mereka tidak mengenali penampilan bos besarnya yang sekarang lusuh dan kotor, tidak nampak ada kewibawaan dari Deffar yang sebelumnya.


Karena dia yang sebelumnya selalu memperhatikan kerapihan dan berpenampialan perfeksionis.


"Hey tunggu, main nyelonong masuk aja,, mau apa kamu masuk masuk ke sini?" tegor satpam itu


"Aku mau masuk kedalam, apa ada masalah?" tanya Deffar merasa tidak senang karena langkahnya di hentikan penjaga yang biasanya tidak berani menghadang, apalagi menatap wajahnya seperti sekarang.


"Wah, Benar benar minta di gebukin nih gembel, nyolot amat, Hey, kita gebukin saja rame rame biar dia tau rasa" ucap salah satu penjaga yang lain.


Deffar benar benar di pandang rendah dan di perlakukan layaknya orang asing oleh penjaga di perusahaan nya sendiri, tapi dia juga sadar kalau penampilan nya memang jauh berbeda daripada biasanya, wajar jika mereka sedikit tidak mengenalinya.


Beberapa Satpam itu langsung mencabut pemukul yang mereka bawa untuk memukuli Deffar, mereka menganggap kalau Deffar itu orang yang hanya ingin cari gara gara di kantor mereka.


Beberapa staf kantor yang melintas juga sama sekali tidak ada yang mengenali Deffar.


Deffar sampai tidak bisa memikirkan cara apa pun untuk dia membela diri, karena tidak mungkin juga dia bisa melawan 5 penjaga kantornya sekaligus, walaupun sebenarnya mereka hanya bawahannya.


Deffar hanya bisa pasrah menerima perlakuan petugas keamanannya tang sekarang sudah mencengkram kerah bajunya, tapi sebelum Deffar benar benar di pukuli oleh para penjaga, seorang gadis cantik berpenampilan formal tiba tiba turun dari mobilnya.


"Hey, tunggu ,, ada apa ini?" tanya Jessi yang baru saja datang itu.

__ADS_1


__ADS_2