Terperangkap Pernikahan Adat

Terperangkap Pernikahan Adat
Pergi


__ADS_3

Setiap hari, Hasnita bangun pagi untuk membuatkn Deffar sarapan, tapi makanan yang di buatnya jarang sekali di sentuh oleh Deffar, Hasnita merasa kalau dia hanya hidup sendirian di rumah itu.


...***...


Hari ini, tepat satu pekan Deffar dan Hasnita tinggal bersama, tanpa perasaan yang hadir dari keduanya, menjadikan keseharian mereka nampak kikuk.


Pagi pagi sekali Hasnita bangun dari kamar yang bersebelahan dengan kamar Deffar, dia keluar dari kamarnya lalu mengintip deffar dari selah pintu untuk memastikan keadaanya,


Deffar terlihat masih dalam mode biasa, tidak tidur, juga tidak bangun, hanya rebahan dan menatap kosong pada langit langit kamarnya.


Hasnita tidak berniat untuk menggangu Deffar,, dia segera pergi ke dapur untuk memasak sarapan untuknya, namun saat dia membuka tempat penyimpanan bahan pokok, dia melihat kalau persedianya sudah habis.


Hasnita langsung menghela nafasanya kasar "Hhhhhhhh, berasnya sudah habis lagi, bagaiamana ini?, Kalau cari pinjaman uang lagi,, kira kira ada yang ngasih gak ya?, tapi bagaimana aku akan membayarnya nanti,Hhhh," ucap Hasnita tidak tau harus apa.


Di tengah kebingungannya, Tiba tiba dia mendengar ketukan dari luar pintu rumah sederhana itu 'Tok Tok tok'


Hasnita langsung saja terperangah melihat ke arah pintu, karena penasaran dia langsung beranjak untuk membukakan pintunya.


"Eh bibi, ada apa bi?" tanya Hasnita malu malu saat melihat yang datang adalah tetangga yang sebelumnya sempat meminjaminya uang.


"Hasnita, Bibi mau menagih uang yang kamu pinjam tempo hari, bibi lagi butuh uang" ucap Sang tetangga


"Itu, itu, aku belum bisa membayarnya sekarang bi, tapi aku janji akan secepatnya mengbalikannya" ucap Hasnita


"Kau ini, benar benar tidak bisa di percaya, apa suamimu itu tidak punya pekerjaan untuk Menafkahimu, benar benar tidak berguna,?" ucap pedas sang tetangga.


"Bukan begitu bi, Dia, dia hanya masih belum benar benar sehat saja bi,, kondisinya belum terlalu baik" ucap Hasnita.


"Bilang padanya, Kalau dia sudah sembuh, cepat cepat cari uang, dan bayar hutang kalian" ucap si ibu sambil berbalik pergi.


"Iya bu, terimakasih" ucap Hasnita menhir karena merasa malu.


Diapun menutup pintunya lagi dan kembali masuk kedalam rumah, dia langsung menjatuhkan bokongnya di kursi.


"Apa yang harus kulakukan ini, apa aku harus cari pekerjaan, tapi kerja apa?, aku tidak punya keahlian apa apa, ijazahku juga masih di tahan" gumam Hasnita sambil mengacak ngacak poninya sendiri


Meskipun Deffar mendengar semua keluhan Hasnita dari dalam kamarnya, dia tidak berniat memberi tanggapan apapun, dan hanya cukup mendengarnya saja.


Tiba tiba terdengar lagi ketukan dari arah luar pintu 'Tok Tok tok


"Haduuuh, siapa lagi ini?, ku harap jangan soal uang lagi" ucap Hasnita langsung bangkit dengan lesu untuk membukakan pintu lagi.


Tapi begitu dia membuka pintu, dia melihat orang yang sangat dia kenal.


"Hasnita" panggil seorang gadis yang sebaya dengan Hasnita.


"Ya ampun, Rani, ini kamu?", Hasnita buru buru keluar dan keduanya langsung berpelukan erat


"Ya ampun, sudah lama sekali tidak bertemu denganmu, kapan kamu kembali dari kota?," tanya Hasnita dengan mata berkaca kaca saking rindunya dengan sahabat baiknya itu.

__ADS_1


"Aku baru pulang semalam, aku kangen banget sama kamu" ucap Rani yang memeluk erat punggung Hasnita


"Sama,, Aku juga Ran," ucap Hasnita


"O ya, Gimana kabarmu?, aku dengar kamu sudah menikah ya?" tanya Rani seraya melepas pelukan mereka.


"Ya ceritanya begitu, eh mending kita ngobrolnya di dalam saja yuk, tidak enak ngobrol di sini" ucap Hasnita.


"Baiklah," ucap Rani.


Mereka berdua pun segera masuk kedalaman rumah dengan bergandengan tangan.


Mereka duduk di kursi, dan Rani langsung celingak celinguk seperti mencari sesuatu.


"Mana suamimu Nit?, kau tidak mau memperkenalknya padaku?" tanya Rani


"Mending Jangan, dia suka marah kalau di ganggu, O ya, bagaiamna kehidupan di kota Ran?, apa di sana menyenangkan?" tanya Hasnita mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya, bisa di bilang cukup menyenangkan, tadinya aku pulang kesini ingin mengajakmu untuk ikut kerja bersama ku di kota, mumpung lagi ada lowongan, tapi kata orang tuaku kamu itu sudah nikah, jadi seperti nya aku harus cari orang lain" ucap Rani


"Sungguh!!!, jangan, jangan cari orang lain,, aku saja, aku mau, aku mau ikut" ucap Hasnita, sambil menggenggam kedua tangan Rani.


"Kamu serius ?, terus bagaiaman dengan suamimu" tanya Rani


Hasnita langsung termenung sejenak memikirkanya, di sisi lain dia merasa tidak mungkin meninggalkan Deffar dalam keadaannya yang masih terpuruk, tapi di sisi lain dia juga tidak mungkin terus berdiam diri di sana, sementara dia juga punya banyak kebutuhan yang harus di penuhi.


"Oh, ya sudah sana,, soalnya siang ini juga kita harus berangkat Nit," ucap Rani


"Begitukah, baiklah kalau begitu" ucap Hasnita


Hasnita segera beranjak dari duduknya dan menghampiri pintu kamar Deffar untuk meminta izinnya.


"Kak, kalau misalkan aku pergi ke kota untuk bekerja, boleh tidak?, soalnya ....


"Pergilah, aku senang jika tidak melihatmu lagi di rumah ini" ucap Deffar


"Tapi...."


"Jangan pikirkan aku, aku juga tidak memikirkanmu " ucap Deffar


"Oh, baiklah" ucap Hasnita


Hasnita segera berbalik pada Rani lagi dengan tersenyum kaku,


Hasnita segera mengemasi barang barang yang akan dia bawa, dia memang sudah lama ingin pergi dari kampung halamannya untuk mengadu nasibnya di perkotaan, Tapi yang membuatnya sedikit enggan sekarang adalah keadaan Deffar.


Setelah semuanya selesai di persiapkan, dia kembali menghampiri pintu kamar Deffar lagi.


"Kak, aku berangkat sekarang" ucap Hasnita dengan mata yang berkaca kaca.

__ADS_1


Meskipun Deffar tidak pernah menganggapnya ada, tapi dia masih merasa terkait dengan Deffar, itu karena dia putra dari nenek sinai yang selama ini sudah seperti neneknya sendiri.


"Hmm" ucap Deffar tanpa menoleh pada Hasnita


"Baiklah, jaga dirimu baik baik, jangan lupa untuk makan, aku pasti akan memgabarimu nanti" ucap Hasnita yang masih mencoba meyakinkan hatinya kalau itu adalah keputusan terbaik yang harus dia ambil sekarang.


Setelah keluar, dia memperhatikan rumah sederhana itu sejenak,


"Apa kamu yakin ingin pergi?" Tanya Rani yang melihat masih ada sedikit keraguan yang tersirat dari wajah Hasnita.


"Emhh, aku yakin" ucap Hasnita menganggukan kepalanya.


"Baiklah kalau memamg begitu, Kita pergi" ucap Rani tersenyum.


Hasnita pun segera melangkah meninggalkan Deffar sendirian di rumah sederhananya itu, itu demi kelangsungan hidupnya, dan mungkin juga untuk kelangsungan hidup Deffar kedepanya.


Sementara Deffar yang kini tinggal sendirian lagi di sana, merasakan kalau rumah itu mulai terasa sepi tanpa adanya Hasnita di sana


Seharusnya itu yang dia inginkan, tapi Entah kenapa rasanya ada yang hilang lagi dari dirinya, saat gadis manis yang jadi istri adatnya itu tidak terlihat berkeliaran lagi di rumah.


Tidak sadar, dia merasakan ada yang lembab dari sudut matanya, dan dia menyekanya


"Apa ini?, tidak mungkin aku sedih karena di tinggalkan gadis itu" ucap Deffar sambil tersenyum bingung,,


.


Hari berikutnya, Deffar memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur, dia keluar kamar dan sekilas bayangan Hasnita saat merapikan rumah muncul di setiap sudutnya.


"Hhhh, tidak mungkin aku merindukan gadis itu" ucap Deffar


Deffar lalu masuk ke kamar mendiang sang ibu yang sebelumnya di tempati oleh Hasnita.


Dia membuka beberapa pintu lemari untuk melihat lihat kenangan apa yang tersimpan di sana, dia melihat barang barang milik mendiang sang ibu yang biasanya dia gunakan masih tersususn rapih di sana.


Dia menyentuh satu persatu benda peninggalan sang ibu untuk sekedar mengobati rindunya. Dia membuka laci di sebuah meja kecil, dan kebetulan dia melihat sebuah kotak kayu yang memiliki ukiran bunga di pinggirnya.


Deffar mengambilnya karena penasaran dengan isi di dalamnya.


Dia duduk di tepian tempat tidur mendiang sang ibu lalu membuka kotak klasik itu perlahan, terlihat di dalamnya hanya ada satu set perhiasan, juga terdapat beberapa carik kertas yang terlipat rapi di pinggiranya.


Deffar mengambil salah satu lipatan kertas yang menurutnya tidak biasa, dan saat dia membuka lipatan nya, tiba tiba sebuah Foto terjatuh ke lantai.


Sontak atensi Deffar tetalihakn pada selembaran foto itu, kemudian dia mengambilnya dan memperhatikannya, ternyata yang ada di dalam foto itu adalah foto mendiang sang ibu yang di dampingi oleh gadis belia yang tidak lain adalah Hasnita.


Di foto itu mereka terlihat sangat akrab, itu terlihat dari raut wajah keduanya yang memancarkan senyuman yang begitu natural dan tulus.


"Gadis ini?, kenapa dia terlihat dekat sekali dengan ibu?" gumam Deffar sedikit tidak mengerti


Dia lalu membuka secarik kertas yang dia pegang sekarang,, dan mencoba membaca apa yang tertulis di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2