
Menyadari kalau Hasnita marah, Deffar langsung terduduk lesu lagi di lantai, dia bagkan menangis dengan menundukan kepalanya lagi.
"Astaga, kenapa kakak malah menangis sih?, bagaiaman ini Ran?" Hasnita jadi bingung dengan perilaku Deffar yang tidak menentu itu.
"Kita siram saja pake air dingin Nit , kata orang itu bisa meredakan orang mabuk" ucap Rani
"Baiklah, kita coba" ucap Hasnita berniat untuk melakukan nya, tapi.
"Kenapa?, kenapa?, kenapa hidupku selalu seperti ini?, kenapa aku tidak pernah menemukan wanita yang benar benar tulus padaku" ucap Deffar tiba tiba
Hasnita langsung bertatapan dengan Rani karena mereka tidak mengerti apa maksud dari perkataan Deffar.
Hasnita langsung berjongkok di depan Deffar untuk menenangkannya . "Kak, dengarkan aku, aku tidak punya hubungan apapun dengan bintang, sungguh, kita hanya berteman saja, jadi jangan menagis lagi" ucap Hasnita mengelus bahu Deffar, dia pikir wanita yang di maksud Deffar adalah dirinya,
"Nit, mending Kak Deffar suruh ke dalam saja, tidak enak dengan penghuni Kost yang lain" ucap Rani yang menyadari kalau mereka sekarang di perhatikan beberapa penghuni Kost yang lain
"Baiklah, Kak, ayo di dalam saja" ucap Hasnita mencoba membantu Deffar berdiri
Deffar juga menurut seperti anak yang baik, dia langsung duduk di pojokan ruangan kamar yang sempit itu.
"Aku ambilkan air dulu untuk menyiram nya" ucap Rani, dia langsung beranjak ke toilet yang memang berada di luar ruangan.
Sementara Hasnita duduk di dekat deffar dan terus menenangkannya, "Sudah ya, jangan menangis" ucap Hasnita mengusap ucsap bahunya
"Aku ingin bertanya padamu, apa sebenarnya yang di inginkan oleh wanita?" tanya Deffar
Hasnita langsung melirik Rani yang membawa se gayung air untuk menyiram Deffar.
Rani hanya mengangkat beberapa kali bahunya tanda dia tidak mau komentar.
"Kalau aku pribadi sih, aku hanya ingin ada pria yang menyayangiku apa adanya, dan bisa membuatku nyaman jika aku di samping nya, itu saja" ucap Hasnita
Tiba tiba Deffar tertawa kecil "Omong kosong, Apa sesederhana itu?, kalau memang semua wanita hanya menginginkan hal itu, Erika pasti tidak akan menghianati ku" ucap Deffar
Akhirnya Hasnita sedikit mengerti masalah Deffar sekarang.
"Mungkin tidak semua wanita sama, tapi harapanku memang sesederhana itu. O yah, apa kakak mabuk seperti ini karena ada masalah dengan Kak Erika?" tanya Hasnita
Deffar tiba tiba menangis lagi
"Astaga, barusan ketawa, sekarang nangis lagi, Kakak sebenarnya mabuk atau gila sih?" tanya Hasnita dengan ekspresi rumit
"Ayolah, jangan menangis" ucap Hasnita terus mengelus bahu Deffar
Deffar tiba tiba mengangkat wajahnya lalu tersenyum lagi "Apa aku sangat bodoh?, kenapa aku harus menangis hanya karena wanita jal*ng itu?" ucap Deffar
__ADS_1
"Kalau kakak mau, kakak boleh menceritakan masalahnya padaku, aku siap mendengarkan?" ucap Hasnita sedikit penasaran
"Erika berselingkuh dengan temanku, tapi itu mungkin karena salahku" ucap Deffar tidak menjelaskan panjang lebar
Deffar tiba tiba bergeser lalu menyandarkan kepalanya di pangkuan Hasnita
"Hey kakak mau apa?" tanya Hasnita sedikit merasa risih.
Tapi Deffar langsung meraih tangan Hasnita dan menaruhnya di kepalanya sendiri.
"Usap rambutku, aku ingin tidur di sini" ucap Deffar manja
Hasnita sedikit ragu untuk menyentuh kepala deffar. "Baiklah" ucap Hasnita langsung mengelus rambutnya
Rani sedikit kepanasan melihat Hasnita yang malah terlihat bermesaraan dengan Deffar,
"Aku pergi saja Nit,, dahhh" ucap Rani yang langsung menutup pintu kamar dan melambaikan tangannya pada Hasnita.
Rani tidak jadi untuk mengguyur Deffar dengan air yang di bawanya. karena merasa tidak ada yangbperlu di khawatirkan.
"Hey, Ran kamu mau pergi kemana?, Ayolah jangan pergi, temani aku di sini, heyyy,,,,, iiiiihhhh" ucap Hasnita gereget karena Rani malah meninggalkannya berduaan dengan Deffar di sana.
'Haduuuh, kenapa aku harus bersama dengan orang mabuk sih," pikir Hasnita
Sementara Deffar merasa sangat nyaman karena kepalanya berada di pangkuan Hasnita, dia benar benar langsung tertidur dan memeluk kaki Hasnita .
.
…
Keesokan paginya, Hasnita terbangun lebih awal, dia langsung terperanjat dan melihat kalau Deffar sama sekali tidak meriah posisinya
Hasnita kembali mengelus Rambut Deffar
"Hey, bangun pria pemabuk, sudah pagi" bisik Hasnita lembut di telinga deffar
Deffar juga perlahan terbangunkan oleh suara lembut yang terdengar di telinganya itu, dia langsung mendongak dan memperhatikan Wajah Hasnita dengan pandangan yang masih sedikit kabur
"Hasnita?, Kenapa kau ada disini?" tanya Deffar
"Menurut kakak?" tanya Hasnita
Deffar mulai memperhatikan sekelilingnya dan baru sadar kalau itu bukan di ruangan rumahnya, tapi di kamar Kost Hasnita
Deffar langsung terperanjat saat menyadarinya "Oh, maaf, aku tidak ingat kalau aku tidur di tempatmu" ucap Deffar yang langsung mundur dan duduk bersandar ke dinding kamar.
__ADS_1
"Tidak apa, itu mungkin karena kakak mabuk semalam, " ucap Hasnita tersenyum
Deffar ingin beranjak tapi kepalanya masih terasa sedikit pusing "Apa aku membuat masalah semalam?" tanya Deffar
"Ya sejujurnya kakak sedikit menyebalkan sih" ucap Hasnita
"Sungguh?, aku minta Maaf kalau begitu, aku, aku memang agak sedikit kacau kemarin" ucap Deffar
"Tidak papa, aku bisa memakluminya, apa kakak mau pulang sekarang, biar aku antar sampai depan" ucap Hasnita
"Kepalaku masih agak berat, aku ingin beristirahat dulu sebentar di sini, bolehkan?" ucap Deffar
"Begitu ya, silahkan saja kalau kakak tidak keberatan tidur di sini" ucap Hasnita
"Terimakasih," ucap Deffar
Hasnita berdiri dan sedikit membantu Deffar untuk dia pindah dan berbaring di tempat tidurnya.
Hasnita sejenak menatapi Deffar yang langsung terpejam dengan sebelah tangan menutupi keningnya
Dia membayangkan saat Deffar yang sebelumnya begitu dingin dan tidak peduli padanya saat mereka di desa, sekarang keaadanya sedikit berubah, Hasnita merasa kalau Deffar kini sangat baik padanya. Meski dia tau Deffar tidak pernah mencintai nya, tapi dia tetap merasa senang.
Hasnita beranjak keluar dengan senyuman yang terlihat di wajahnya, dia ingin mencarikan sarapan pagi untuk Deffar.
Begitu dia keluar Rani sudah ada di depan pintu kostnya.
"Cie, yang tidur bareng suami, cerah banget nih kelhatanya, sudah dapat jatah ya?" tanya Rani
"Jatah apaan, gak jelas" ucap Hasnita
"Itu loh, ehem ehem" ucap Rani menggoda Hasnita
"Tau ah, gak ngerti aku, o yah kamu semalam tidur di mana?, kenapa kamu malah pergi?" tanya Hasnita
"Aku semalam numpang tidur di tempat ibu Kost Nit, masa iya aku harus sekamar dengan mu dan jadi penonton adegan panas kalian, kan gak mungkin" ucap Rani
"Perkataan mu benar benar sulit di pahami Ran. membingungkan," ucap Hasnita berekspresi aneh
"Masa gak ngerti?" ucap Rani
"Tau ah, o yah, temani aku cari sarapan yuk" ajak Hasnita
"Lapar ya?, wajar sih, kalau sudah bercocok tanam, kata orang memang sedikit melelahkan" ucap Rani terus menggoda Hasnita
"Bercocok tanam apaan sih Ran?, kamu makin ngaco aja deh, gak ngerti aku, sudah ah ayo pergi" ucap Hasnita segera beranjak pergi.
__ADS_1
"Baiklah baik" ucap Rani juga segera mengikuti Hasnita untuk mencari sarapan