
Menjelang malam, Deffar memgantarkan kembali Hasnita dan Rani ke tempat Kost nya lagi, dengan menenteng banyak barang belanjaan yang di berilan oleh Deffar pada mereka berdua.
Bukan tanpa alasan Deffar memberikan hal yang sama pada Rani, itu karena Hasnita yang terllau sungkan, dan gampang termakan oleh perkataan Rani yang sedikit tengil.
"Huu, banyak sekali barang belanjaan kita, aku senang sekali hari ini" ucap Rani
"Sekarang senang, tapi jangan lupa, besok pasti nangis lagi kan?" ucap Hasnita
"Ayolah, jangan merusak kesenanganku hari ini" ucap Rani
"Ran, Kau ambilkan kuncinya di saku celanaku!!" ucap Hasnita yang kesulitan mengambil kunci pintu karena tanganya menenteng beberapa paperbag.
"Mana bisa, aku juga sulit Nit" ucap Rani
"Di sebelah mana?" tanya Deffar yang berinisiatip untuk membantu
"Di saku kiri" ucap Hasnita
Tanpa pikir panjang Deffar langsung memasukan tanganya pada saku celana yang di pakai Hasnita
Tentu itu membuat Hasnita sedikit kegelian, karena tangan Deffar yang sedikit meraba raba paha nya, dan itu membuatnya tidak bisa diam.
"Apa kau tidak bisa diam?, aku sulit mengambilanya" ucap Deffar yang merasa saku Hasnita terlalu sempit dan sulit jika Hasnita terus bergerak
"Sudah biar aku saja, pegang ini dulu" ucap Hasnita yang merasa sedikit risih, dia langsung mengulurkan barang bawaannya pada Deffar
Deffar juga terpaksa harus menerimanya,
Dan Hasnita segera membuka kunci pintu kamarnya
"Terima kasih kak" ucap Hasnita kembali mengambil barang bawaannya dari tangan Deffar
"Iya, terima kasih banyak untuk hari ini Kak, jangan kapok ya" ucap Rani
"Ii iya, aku sampai bingung mau ngucapin terima kasihnya bagaimana" ucap Hasnita
"Kau sudah bilang tadi" ucap Deffar
"Oh, itu untuk hal lain" ucap Hasnita
"Sama saja kan?" ucap Deffar
"Oh, Ya sudah, kita masuk dulu ya" ucap Hasnita
Mereka berdua masuk dan segera meletakan barang barang bawaan mereka di dalam.
"Wwah, banyaknya barang baruku" ucap Rani yang langsung memeluk semua tas kertasnya sekaligus
Sementara Hasnita menoleh kembali ke arah pintu, dan masih melihat Deffar berdiri di sana. Jadi Hasnita menghampirinya lagi.
"Apa kakak mau masuk dulu?" tanya Hasnita
__ADS_1
"Tidak. Terima kasih, aku hanya menunggu nomor mu" ucap Deffar
"Oh iya maaf, aku lupa, sebentar, aku akan mengambilnya dulu" ucap Hasnita yang langsung mengambil kemasan nomor perdana nya "Nah ini Kak" ucap Hasnita memperlihatkan nomor yang tertera di sana.
Deffar juga segera menulisnya di ponselnya dan menyimpan nomor Hasnita.
Setelahnya Deffar mengeluarkan dompet dan mengambil sebua kartu bank
"Kau pegang ini, nomor pin nya akan ku kirim nanti ke ponselmu" ucap Deffar
"Apa ini?" tanya Hasnita
"Kau akan memerlukanya, jika kau tidak tau cara menggunakanya, kau tanya saja Rani" ucap Deffar
"Oh, baiklah" ucap Hasnita
Deffar segera beranjak pergi dari sana. sementara Hasnita kembali masuk dengan terus menilik kartu di tangannya.
"Apa itu Nit?" tanya Rani
"Aku tidak tau, kak Deffar yang memberikanya" ucap Hasnita
"Sini lihat" Rani langsung meraihnya
"Waah, kau beruntung sekali Nit, aku iri padamu" ucap Rani
"Iri untuk apa?, kau juga dapat barang yang sama seperti yang ku punya" ucap Hasnita
"Tapi tidak dengan ini" ucap Rani
"Astaga Nit, apa kau sedeso itu?, masa iya tidak tau" tanya Rani
"Sebentar, jangan bilang kalau itu kartu yang bisa mengeluarkan uang dari mesin" ucap Hasnita
"Ya memang itu pungsinya" ucap Rani
"Sungguh?, baik sekali Kak Def memberikanya padaku" ucap Hasnita kembali mengambil kartu dari tangan Rani dan memperhatikan nya.
"Hey aku masih mau memegangnya, di dalam sana pasti banyak sekali uangnya" ucap Rani
"Tidak mungkin ada uangnya di dalam sini, ini terlalu tipis untuk bisa menampung uang" ucap Hasnita asal
"Hmmh, candaan Mu garing sekali, dasar sombong" ucap Rani berpura pura ngambek.
.
…
Keesokan harinya, semua berjalan seperti biasanya, Hasnita dan Rani bekerja di super market lagi.
Dan Deffar juga menjalani rutinitasnya di kantor,
__ADS_1
"Selamat Pagi Sayang, apa kau sudah sarapan?" tanya Erika yang baru masuk ke ruangan deffar
"Sudah tadi, kau sendiri?" tanya Deffar
"Ya aku juga sudah, o yah sayang, nanti sore kita hangout yuk, sudah lama kita tidak keluar bareng" ucap Erika
"Seperti nya aku tidak bisa, aku ada urusan lain" ucap Deffar
"Selalu saja seperti ini, kapan hubungan kita ini ada kemajuan kalau kamu selalu tidak punya waktu untukku" ucap Erika
Deffar sedikit menghindari Erika karena dia sudah tau kalau orang yang sudah menjebak pak Han hingga dia masuk ke penjara adalah Erika, juga dia sudah sering mendengar desas desus Erika yang sering terlihat jalan bersama Daniel.
Hanya saja Deffar masih bersikap profesional dan memberi Erika kesempatan, selama dia belum melihat bukti dengan mata kepalanya sendiri.
"Kau tidak perlu membawa masalah pribadi ke kantor, aku harap kau bisa lebih profesional di kantor ini, kita bisa bicarakan ini di akhir pekan nanti, sekarang kembalilah ke ruangan mu" ucap Deffar
"Baiklah, Selamat bekerja oak Deffar " ucap Erika dengan beranjak meninggalkan ruangan Deffar dengan mengerucutkan bibirnya
.
…
Sore hari, setelah semua pekerjaannya selesai, Deffar mematikan layar komputer nya dan meregangkan badannya sejenak
'Tik' tuk' "Apa anda akan turun sekarang?" tanya Jessi dari pintu ruangan Deffar
"Ya, tentu" ucap Deffar, langsung beranjak dari tempat duduknya, dan pergi meninggalkan ruangan.
Di lift.
"Pak Deff, saya lihat anda sama sekali tidak terpengaruh oleh desas desus karyawan soal bu Erika, apa sekarang itu kah bapak padanya?" tanya Jessi
"Kau tau, aku tipe orang yang tidak mudah percaya dengan kabar burung,, kecuali kalau mataku melihatnya secara langsung" ucap Deffar
"Oh, begitukah, Saya sarankan anda menyeledikinya sendiri, mungkin itu akan menjawab semuanya" ucap Jessi
Deffar hanya tersenyum Ringan menanggapinya
' Ya tuahan, terbuat dari apa hati biskit ini, bagaimana pak Deff masih bisa tersenyum mendengar kekasihnya selingkuh, orang lain pasti akan langsung marah atau melabraknya, tapi senyum itu, selalu mebuatku meleleh sih ?, Hhh entahlah' Batin Jessi
Sesampainya di parkiran, Deffar melirik mobil Erika yang kebetulan baru saja keluar.
Deffar yang penasaran berniat mengikuti Erika, untuk sekadar menjawab rasa penasaran seperti yang di katakan Jessi
"Kalau begitu saya ke mobil saya dulu pak" ucap Jessi yang masih di sebelah Deffar
"Iya" ucap Deffar
"Oh iya pak, kalau anda punya waktu luang, saya ingin sekali mengundang anda untuk makan malam di rumah saya, saya pasti akan merasa terhormat jika anda berkenan " ucap Jessi yang tiba tiba berbalik lagi
"Mungkin lain kali Jess, terimakasih untuk tawaranya" ucap Deffar menolaknya secara halus
__ADS_1
"Oh, baiklah, tidak papa" ucap Jessi
Deffar masuk ke mobilnya dan segera mengemudikannya keluar dari area parkir kantornya