
"Apa apaan kalian? Kenapa membuat keributan di pintu masuk?" tanya Jessi yang menghampiri para penjaga yang sudah siap menghajar Deffar.
"Bu jessi, ini ada gelandangan yang ingin memaksa masuk ke dalam kantor kita" ucap salah satu penjaga.
Jessi langsung mengalihkan perhatiannya pada Deffar. Alangkah terkejutnya dia saat menyadari bahwa yang akan dipukuli oleh para penjaga tersebut adalah Deffar, bos dari perusahaan itu.
Jessi sangat mengenali Wajah Deffar karena dia bukan satu atau dua tahun bekerja bersamanya, meskipun penampilannya sekarang sangat berbeda.
Jessi langsung menepis tangan penjaga yang mencengkram baju Deffar itu dengan kasar, "Lepaskan dia, Benar-benar kalian, Apa kalian buta, hah?, Ditaruh di mana mata kalian ini?" 'Pak!' 'Plak!' Jessi langsung menampar dua penjaga yang paling dekat dengannya.
"Ampun bu, ampun. Kami hanya menjalankan tugas bu, apa salah kami?" tanya sang penjaga yang masih belum menyadari kalau yang mereka hadang adalah bos mereka.
"Apa salah kalian? Buka mata kalian lebar-lebar! Apa kalian tidak melihat siapa orang yang sedang kalian provokasi ini? Apa topi kalian menghalangi otak kalian, hah?, Buang saja sekalian!" ucap Jessi, benar-benar emosi hingga melepas topi mereka dan melemparnya ke tanah.
Deffar mulai bisa bernafas lega karena ternyata Jessi masih bisa mengenalinya.
"Buka mata kalian lebar-lebar! Apa kalian masih tidak tahu dia ini siapa? Dia Pak Deffar, pemilik perusahaan ini yang menggaji kalian. Apa perlu aku mencokel mata kalian supaya kalian bisa melihatnya?" ucap Jessi.
"Pak, Pak Deffar? Bagaimana mungkin?" tanya spontan dari penjaga.
"Apanya yang tidak mungkin, bodoh?" ucap Jessi yang ingin kembali menampar penjaga itu.
Tapi Deffar langsung menangkap tangan Jessi, "Jess, sudahlah. Apa kau bisa urus mereka nanti saja?" ucap Deffar.
"Tapi Pak, mereka sudah tidak sopan pada Anda," ucap Jessi.
Tiba-tiba para penjaga itu langsung berlutut di tanah untuk meminta pengampunan dari Deffar.
"Pak, Pak Deffar. Kami memang buta. Kami memang tidak punya otak. Maafkan kami, Pak Deffar. Mohon anda bermurah hati, jangan pecat kami" ucap sang penjaga memohon.
"Kalian memang sudah sepantasnya dipecat. Kesalahan kalian sudah benar-benar tidak bisa dimaafkan," ucap Jessi.
"Jess, aku datang ke sini sekarang karena ada hal yang mendesak. Apa aku harus terus berdiri di sini untuk melihatmu memarahi mereka?" tanya Deffar yang berdiri di sebelah Jessi.
"Oh iya, maaf. Maafkan saya Pak, silahkan kita masuk ke dalam, Pak Deff," ucap Jessi.
__ADS_1
"Hmm," ucap Deffar.
"Kalian push-up seribu kali atau kalian akan mendapat hukuman yang lebih parah dari itu," ucap Jessi yang geram.
"Baik, Bu," ucap para penjaga dengan raut wajah yang lebih buruk daripada menangis. Mereka pun segera push-up seperti yang diperintahkan Jessi.
Sementara Jessi segera mengejar langkah Deffar, "Pak Deff, saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Saya pastikan mereka akan mendapatkan hukuman yang berat," ucap Jessi.
"Kita bahas ini nanti saja, sekarang aku ingin bertemu Pak Han. Suruh dia turun ke lobi untuk menemuiku," ucap Deffar yang merasa kurang nyaman dengan penampilannya, jika dia masuk ke dalam dan bertemu dengan semua karyawannya.
"Oh, tapi Pak Han. Dia sekarang sudah tidak ada di kantor ini lagi, Pak," ucap Jessi.
Deffar menoleh dan mengerutkan dahinya pada Jessi, "Apa maksudmu? Apa Pak Han resign saat aku pergi?" tanya Deffar.
"Bukan, Pak. Sebenarnya Pak Han sekarang ada di kantor polisi. Beliau ditangkap beberapa hari lalu karena tuduhan penggelapan dana perusahaan, Pak," ucap Jessi.
"Apa?.., Kalau begitu, siapa yang bertanggung jawab atas kantor ini sekarang kalau bukan dia?" tanya Deffar sedikit geram.
"Yang bertanggung jawab di perusahaan ini sekarang adalah Pak Daniel dan Bu Erika, Pak," ucap Jessi.
Dan Melewati para penjaga yang masih push-up sambil sesekali melirik seram pada Deffar.
Jessi sedikit termenung karena bosnya berkata demikian. Dia jadi sedikit tidak mengerti, "Eh, tunggu sebentar Pak," ucap Jessi langsung mengejar Deffar lagi dan membuka kunci mobil dari remot yang dipegangnya.
Deffar segera masuk ke mobil Jessi, dan Jessi juga naik untuk memegang kemudinya, "Oh ya, Pak. Sebenarnya bapak darimana saja selama sepekan ini? Kenapa bapak kembali dengan kondisi seperti ini?" tanya Jessi penasaran.
"Jess, jalankan saja mobilnya dan jangan banyak bertanya," ucap Deffar tegas.
"Oh, baiklah Pak. Maaf," ucap Jessi segera menghidupkan mobilnya dan melajukannya.
Deffar sekilas memperhatikan wajahnya yang kumal di kaca spion. Terlihat dirinya sangat berantakan karena beberapa minggu ini dia jarang membersihkan wajahnya.
"Jess, nanti kita mampir ke hotel dulu," ucap Deffar.
"Oh, baik Pak," ucap Jessi.
__ADS_1
"O ya, Dompetku tempo hari tertinggal di meja kerjaku. Apa kau melihatnya?" Tanya Deffar.
"Iya Pak Deff, aku menyimpannya. Semua yang ada di dalamnya aman. Anda tidak perlu khawatir" ucap Jessi.
"Aku sebenarnya tidak mengkhawatirkan isi di dalam dompet itu, tapi yang aku khawatirkan sekarang adalah orang-orang yang kupercayai dulu, menghianatiku sekarang ," ucap Deffar asal.
"Itu, itu," ucap Jessi tidak bisa menjawabnya karena dia tahu keadaan internal perusahaan memang sedikit kacau.
Beberapa petinggi kantor yang merasa dirinya pantas memimpin perusahaan saling berlomba untuk memperebutkan kursi Deffar yang tiba-tiba kosong karena dia menghilang dari perusahaannya Tampa kabar.
Persaingan intelektual di struktur organisasi kantor pun membuat sedikit kegaduhan karena terbentuknya beberapa kubu di antara para karyawan yang memihak pada Salah satunya.
Jadi Jessi tidak bisa bilang kalau keadaan kantor baik baik saja.
Setibanya di hotel, Deffar langsung check-in kamar. Sementara itu Jessi berinisiatif until mencarikan setelan baju untuk Deffar.
Jadi saat Deffar sudah selesai membersihkan dirinya, seragam kantornya juga sudah dipersiapkan oleh Jessi di alas tempat tidur hotel.
Deffar menyentuh permukaan jas bermerek itu, dan perasaannya mendadak emosional. dia berharap kalau ibunya masih bisa melihatnya dengan setelan jas yang gagah seperti itu, supaya dia bisa membanggakan hati sang ibu. Namun, sayangnya hal itu sudah tidak mungkin lagi.
"Maaf Pak Deff, apakah Anda tidak suka Stefan jasnya? Jika begitu, saya akan mencarikan yang lain untuk Anda," tawar Jessi.
"Tidak, tidak perlu. Saya hanya ingin mengenakan kemeja putih dan celana standar saja," jawab Deffar sambil mengambil pakaian tersebut.
Jessi mengira Deffar marah karena tidak puas dengan jas yang dipilihkan untuknya.
"Aku minta maaf, Pak Deff. Aku akan mencarikan jas yang lebih mahal lagi," ucap Jessi mencoba memperbaiki kesalahannya.
"Apa kamu tidak mengerti apa yang saya katakan? Sekarang keluarlah, atau kau ingin melihat saya berganti pakaian di sini?" ucap Deffar dengan sabar namun tegas kepada sekretarisnya.
"Tidak, Pak. Baiklah, saya tunggu di luar," ucap Jessi sambil keluar dari kamar hotel.
Meskipun Jessi secara fisik merupakan tipe perempuan ideal, cantik dan menawan, namun Deffar sama sekali tidak terpengaruh untuk menggodanya. Itu karena masa lalunya telah membuktikan bahwa kecantikan tidak menjamin kesetiaan. Deffar cukup sering dibohongi oleh mantan pacarnya yang cantik-cantik, terutama saat dalam keadaan susah.
Hal itulah yang membentuk karakternya sekarang menjadi tidak mudah terpengaruh oleh wanita.
__ADS_1
Setelah Deffar bersiap-siap, dia segera checkout dari hotel dan langsung pergi menuju ke penjara tempat orang kepercayaannya ditahan.