
Sekembalinya Hasnita dari luar, Dia mendapati Deffar yang sudah terduduk di tempat tidur nya, dengan sorot matanya yang masih sedikit nanar.
"Kenapa kakak sudah bangun?, bukan kah kakak masih pusing?" ucap Hasnita
"Tinggal sedikit, kamu dari mana?" tanya Deffar
"Aku habis cari sarapan, aku juga bawakan sarapan untukmu, tapi aku tidak tau kakak mau bubur atau roti, jadi aku bawa dua duanya" ucap Hasnita
Deffar sedikit tersenyum karena melihat bubur yang di bawa Hasnita, dia teringat lagi saat dia sakit dan di suapi Hasnita.
"Aku sarapan bubur saja" ucap Deffar.
"Oh, baiklah kalau begitu, ini buburnya, hati hati soalnya masih panas" ucap Hasnita memberikan bubur di mangkuk styrofoam yang dia bawa
Deffar menerimanya, dan saat membukanya memamg terlihat masih ada uap panasnya. "Apa kau tidak mau meniupkannya untuku?" tanya Deffar asal
"Boleh saja, sini, aku tiupin dulu" ucap Hasnita tanpabragu meniup bubur di tangan Deffar
Sementara Deffar hanya memperhatikan wajah Hasnita yang meniup buburnya, 'Gadis ini lucu juga kalau di perhatikan' pikir Deffar
"Sudah tidak terlalu panas seperti nya, cobalah" ucap Hasnita
"Nit, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Deffar sambil sedikit mengaduk buburnya
"Tanya Saja, aku akan menjawabnya" ucap Hasnita
"Sejak kapan kau dekat dengan ibuku?" tanya Deffar
Hasnita termenung untuk mengingatnya. "Mmmmm, mungkin dari dua tahun yang lalu, Aku waktu itu masih remaja kecil saat nenek Sinai menemukanku menangis di belakang rumahnya" ucap Hasnita
"Begitukah?, Apa dia pernah membicarakan ku?" tanya Deffar sambil memakan buburnya
"Tentu saja, hampir setiap hari malah" ucap Hasnita
"Apa katanya?" tanya Deffar
"Paling cuma cerita dia sangat merindukan kakak, katanya kakak sudah 3 tahun tidak pulang pulang" ucap Hasnita
"Terus apa lagi?" tanya Deffar
"Apa lagi ya, Oh ya, nenek juga sering bilang kalau kakak itu sangat tampan, dia bahkan pernah bilang ingin menjodohkanku dengan kakak, tapi aku tidak mau, aku takut kakak tidak menyukaiku" ucap Hasnita dengan tersenyum canggung
Deffar juga tersenyum dengan mata berkaca kaca "Aku memang anak yang tidak berbakti" ucap Deffar
"Menurutku tidak begitu, aku yakin kakak punya alasan kenapa kakak jarang pulang untuk menjenguk nenek" ucap Hasnita
"Ya,,, alasan yang seharusnya tidak ku buat buat" ucap Deffar
"Sudah ah kak, jangan bahas nenek, aku suka pengen nangis kalau ingat beliau" ucap Hasnita mengusap sudut matanya yang mulai lembab
"Ya, aku juga begitu , ngomong ngomong, apa kau betah bekerja di sini?" tanya Deffar
__ADS_1
"Ya bisa di bilang begitu, daripada aku hanya diam di desa, aku tidak punya teman, kalau di sini ya ada Rani, dia temanku dari kecil" ucap Hasnita
"Kalau kau merasa ingin beralih ke pekerjaan lain, seperti karyawan kantoran misalnya, kau bisa hubungi aku" ucap Deffar
"Ya, nanti kupertimbangkan" ucap Hasnita
Deffar menyentuh kepala Hasnita dan mengacak ngacak rambut nya, Hasnita memang sedikit mengingatkannya pada saudara perempuanya yang sudah tiada.
Hasnita juga hanya tersenyum tanpa mengelak, dia juga merasa seperti punya kakak baru sekarang.
"Oh ya kak, soal semalam, kakak bertengkar dengan Kak Erika ya?" tanya Hasnita
"Jangan sebut nama dia lagi, aku muak mendengar nya" ucap Deffar
"Kak Deffar putus dengan Kak Erika?" tanya Hasnita
"Mungkin" ucap Deffar
Tiba tiba ponsel Deffar berbunyi, Deffar melihatnya dan kebetulan itu panggilan dari Erika. "Mau apa lagi wanita ini?" gumam Deffar, dia langsung menolak pangilan Erika.
Tapi beberapa kali Deffar menolak, Erika terus saja menghubunginya lagi dan lagi, Deffar terpaksa mengangkatnya karena sedikit kesal
"Ada apa lagi kau menghubungiku?" tanya Deffar
📲"Sayang, please kita harus ketemu, aku bisa jelasin semuanya" ucap Erika dengan terisak
"Tidak perlu, semuanya sudah cukup jelas untuku, dan aku rasa, kita tidak perlu meneruskan hubungan lagi" ucap Deffar
📲"Sayang, aku mohon, aku tidak mau putus dengan mu. Kalaupun memang harus putus, aku ingin kita bertemu untuk yang terakhir kalinya" ucap Erika
📲"Kau di mana sekarang?, biar aku yang kesana" ucap Erika
"Tidak perlu" ucap Deffar langsung mengakhiri pangilanya dan memblokir nomor Erika
"Kak, kalau memang kalian ada masalah, bukan kah lebih baik di bicarakan?" ucap Hasnita
"Kau tidak perlu ikut campur, masalahnya tidak sesederhana yang kau pikirkan, aku tidak yakin kalau masalahnya bisa mereda, kalaupun itu di bicarakan" ucap Deffar dengan nada kesal.
Dia tidak berniat menceritakan aib Erika pada Hasnita, sebab Deffar merasa kalau Hasnita masih belum cukup dewasa untuk bisa mengerti perselingkuhan yang di lakukan Erika.
"Iya maaf, aku hanya sekedar mengutarakan pendapatku saja" ucap Hasnita yang merasa salah berucap
Deffar menghela nafasnya "Maaf, aku hanya terbawa suasana" ucap Deffar yang menyadari kalau tidak seharusnya dia mengungkapkan kekesalannya pada Hasnita.
"Nit, giliran kamu sana, o ya, kamu mau masuk kerja atau absen hari ini?" tanya Rani yang baru selesai mandi
"Oh, tentu saja aku masuk" ucap Hasnita langsung meraih handuk yang tergantung di belakang pintunya.
"Aku mandi dulu kak" ucap Hasnita
"Iya, aku juga akan keluar sekarang kalau kamu mau bersiap siap" ucap Deffar
__ADS_1
"Tidak papa, kakak di sini saja, aku bisa mengganti pakaianku di toilet" ucap Hasnita
"Apa tidak papa?" tanya Deffar
"Iya beneran tidak papa , santai saja," ucap Hasnita langsung beranjak keluar dengan membawa serta pakaian gantinya
Deffar juga tidak berniat untuk tidur, jadi dia beranjak keluar dari kamar sempit itu untuk memcari udara segar.
"Aku aku mau dandan dulu kalau begitu" ucap Rani langsung beranjak masuk saat melihat Deffar keluar dari kamar.
Deffar hanya tersenyum, lalu berdiri di tepian pembatas lorong tempat kost Hasnita , karena posisinya berada di lantai dua, jadi Deffar bisa melihat aktivitas kendaraan yang hilir mudik di jalanan depan tempat kost itu.
…
Beberapa saat kemudian, Pintu toilet yang letaknya di ujung lorong terbuka sedikit.
"Ran, Rani, sini sebentar" panggil Hasnita
Deffar yang bisa mendengar suara Hasnita langsung menoleh, "Dia ada di dalam" ucap Deffar
"Oh, boleh minta tolong panggilkan Rani kak" ucap Hasnita yang sadar kalau itu suara Deffar
Deffar berbalik dan mengetuk pintu kamar.
Rani juga segera membuka pintunya
"Ada apa kak?", tanya Rani
"Hasnita memanggilmu" ucap Deffar
"Oh, iya" Rani segera keluar dan menghampiri Hasnita yang masih di dalam toilet.
Dan Hasnita membisikkan sesuatu dari selah pintunya.
Tidak lama Rani kembali dan masuk ke kamarnya. dia kembali lagi dengan sepasang pakaian dalam wanita berwarna pink di tanganya.
"Kak, bisa minta tolong berikan ini pada Hasnita, aku tanggung soalnya, belum beres pakai make up" ucap Rani nyengir.
Deffar menerimanya dengan ekspresi aneh "Apa harus aku?" tanya Deffar
"Iya maaf, soalnya aku harus buru buru sudah siang kak" ucap Rani, dia kembali menutup pintu dan mengintip dari jendela, dia memang ingin mengerjai Hasnita.
"Yang benar saja" ucap Deffar ngeri, tapi dia tetap mengantarkan paketnya pada Hasnita yang di toilet, dia langsung mengetuk pintunya.
"Mana?, ups" ucap Hasnita yang membuka pintu langsung menutupnya lagi saat melihat kalau yang ada di depan pintu bukan Rani, tapi Deffar
"Aku mengantar pesanan mu" ucap Deffar
Mendengar itu Hasnita langsung menggeretakan giginya karena kesal pada Rani. "Raniiiiii, kau benar benar gila, kenapa menyuruh Kak Deffar yang mengantarnya, benar benar tidak bisa menjaga rahasia negara" gerutu Hasnita
Hasnita kembali membuka pintunya sedikit dan tersenyum canggung pada Deffar "Apa Rani yang menyuruh?, maaf ya" ucap Hasnita merasa tidak enak
__ADS_1
"Ambilah" ucap Deffar langsung memberikanya dengan kaku, dia langsung berbalik pergi.
"Benar benar memalukan, awas saja kau Ran, aku tidak akan mengmpunimu" ucap Hasnita yang merasa sudah kehilangan wajahnya.