
Setelah Deffar dan Hasnita selesai makan Siang, Deffar mengantar Hasnita kembali ke minimarket tempat kerja Hasnita lagi.
"Terima kasih Kak, maksudku Suami" ucap Hasnita yang merasa kalau Deffar sudah mengakuinya sebagai istri.
"Jangan lupa untuk tidak melanggar peraturan pertama, aku sudah tidak sulit makan kan?" ucap Deffar yang masih berada di dalam mobilnya.
"Oh, iya baiklah, kalau gitu aku kembali kedalam dulu, Kak" ucap Hasnita yang tentunya ingat kalau peraturan pertama itu jangan memanggil Deffar dengan sebutan suami.
"Iya, Aku juga akan langsung pulang, sampai jumpa lagi" ucap Deffar
"Iya, sampai jumpa, dah" ucap Hasnita dengan sedikit melambai kan tangannya.
Deffar kembali melajukan mobilnya, dan segera meninggalkan tempat Hasnita sekarang .
Hasnita sedikit tertegun dan masih melihat ke arah perginya mobil Deffar.
"Apakah seperti ini rasanya punya suami, Entahlah" ucap Hasnita dengan tersenyum. Diapun segera beranjak masuk ke tempat kerjanya lagi.
"Hey Nit, Kak Deffar tidak mampir lagi kesini?" tanya Rani.
"Tidak, dia langsung pulang barusan" ucap Hasnita yang langsung menghampiri Rani yang di belakang meja kasir.
"Oh, sepertinya suamimu itu tipe tipe Pria yang cukup pengertian, dia jauh jauh kemari hanya untuk mengajakmu makan siang saja, itu tu so sweet tau" ucap Rani iri
"Mungkin tidak juga, kurasa kak Deffar jauh jauh makan siang ke sini hanya untuk menghindari Kak Erika" ucap Hasnita
"O ya, bagaimana kau tau?" tanya Rani penasaran.
"Hanya filling saja sih" ucap Hasnita
"Ngomong ngomong soal Erika, tadi waktu kamu pergi maka, ada wanita yang datang kesini, dan wajahnya sangat mirip dengan Erika , entah itu dia atau hanya mirip saja" ucap Rani
"Sungguh?!, terus dia ngapain kesini?" tanya Hasnita.
"Dia hanya membeli beberapa minuman dingin dan meminta nomor manajer saja tadi" ucap Rani
"Oh, dia tidak menanyakan soal aku?" tanya Hasnita.
"Tidak, dia langsung pergi setelah aku memberikan nomor manajer pada nya" ucap Rani
"Begitu ya, mungkin itu memang bukan dia Ran, kalau itu Kak Erika , untuk apa dia jauh jauh kemari juga?" ucap Hasnita.
"Iya sih, mungkin hanya mirip saja" ucap Rani
"Ran, apa kau punya saran, kira kira apa hak suami yang bisa di lakulan oleh istrinya?" tanya Hasnita tiba tiba
"Yang paling umum ya menemani dia tidur lah" ucap Rani tanpa berpikir jauh.
"Maksudku selain itu sih" ucap Hasnita
"Entahlah, mungkin melayaninya, misalnya mebuatkan dia sarapan, menemaninya makan, dan menyiapkan keperluanya yang lain" ucap Rani
"Begitu ya" ucap Hasnita
"Kau ini aneh, kenapa kau menanyakan hal itu padaku, aku ini tidak lebih tua darimu" ucap Rani
"Iya sih" ucap Hasnita nyengir. karena sadar kalau dia bertanya pada orang yang belum berpengalaman seperti dirinya juga.
__ADS_1
Sambil berbincang, Hasnita juga kembali ke aktivitas kerjanya lagi seperti biasanya.
…
Keesokan harinya di sebuah kediaman yang megah, Deffar terlihat masih tertidur di tempat tidur mewahnya.
Dia masih nampak pulas di sana
sampai tiba tiba Cahaya dari balik tirai yang di buka menyeruak masuk menyilaukan matanya, dan itu membuatnya langsung terbangun dari mimpinya.
"Selamat Pagi Kak," sapa seorang gadis muda yang membuka tirai di kamar Deffar itu.
Deffar sontak memperhatikan Hasnita yang belum bisa di lihatnya dengan jelas karena silau dari arah jendela kamarnya.
"Hasnita? apa itu kau" tanya Deffar memastikan.
"Iya, ini aku, maaf aku tidak meminta izin kakak dulu sebelum masuk" ucap Hasnita yang langsung beranjak menghampiri Deffar.
"Tidak apa, kenapa kau bisa masuk ke kamarku?" tanya Deffar yang merasa heran, karena sebelummya Erika juga bisa dengan mudah masuk ke kamarnya, padahal dia menguncinya dari dalam
"Kepala Asisten rumah yang membukakan pintunya, kak" ucap Hasnita
"Oh?, aku kira aku harus mengganti kunci pintu kamarku," ucap Deffar, dia tau kalau hanya kepala asisten rumah saja yang meamng memiliki akses kunci untuk keluar masuk ke kamarnya.
"Iya maaf, aku bukanya tidak sopan, aku hanya ingin mengantarkan sarapan untukmu" ucap Hasnita sedikit melirik sarapn yang dia bawakannya untuk Deffar.
Deffar juga melirik piring yang berisi beberapa sandwic dan teh hangat yang terlihat masih mengepul, sudah tersedia di meja ruangan kamarnya.
"Kau yang membuatnya?" tanya Deffar
"Ya, di ajarkan oleh bibi di dapur," ucap Hasnita tersenyum.
"Sama sekali tidak repot, hanya sedikit menjalankan peran seorang istri saja" ucap Hasnita nyengir
"Oh, Baiklah, terimakasih" ucap Deffar beranajak untuk membasuh wajahnya terlebih dulu, kemudia kembali untuk memakan sarapannya.
"Apa kau sudah sarapan?, duduklah dan sarapan denganku" ucap Deffar pada Hasnita yang hanya berdiri di samping sofa yang di dudukinya
"Aku, kebetulan aku sudah sarapan tadi" ucap Hasnita
"Oh, jadi kau mendahuluiku?" tanya Deffar
Hasnita langsung tersenyum canggung "Sebenarnya belum sih" ucap Hasnita
"Hhh, sudah kuduga, kau tidak perlu malu malu di depanku, duduklah" ucap Deffar
"I iya baiklah" ucap Hasnita
Diapun segera duduk di samping Deffar dan mengambil sarapan untuknya.
"Ini sudah setengah 7, apa kau akan bolos kerja hari ini?" tanya Deffar
"Iya, hari ini aku memang berncana bolos sih,"ucap Hasnita
"Sebenarnya kau tidak harus kerja, kau tidak perlu menghawatirkan apapun" ucap Deffar
"Aku hanya tidak ingin menggantungkan hidup ku pada orang lain saja, juga aku tidak ada kegiatan yang bisa ku kerjakan jika tidak bekerja" ucap Hasnita
__ADS_1
"Apa kau tidak mau mempertimbangkan tawaranku untuk kerja di kantorku?" tanya Deffar
"Entahlah, aku masih belum kepikiran kalau soal itu, soalnya aku tidak punya cukup pendidikan untuk bekerja formal" ucap Hasnita
"Kau tidak perlu memikirkan pendidikan apapun, kau hanya tinggal hadir saja kalau kau mau, aku punya kantor sendiri" ucap Deffar dengan menepuk nepuk bahu Hasnita
Karena Hasnita sedang memakan roti, dia sedikit terganggu oleh tepukan dari Deffar dan mebuatnya tersedak "Uhuk, uhuk"
"Apa kau terkejut mendengar aku punya kantor sendiri?, minumlah" ucap Deffar yang sigap memberika Hasnita teh hangat yang ada di depanya.
Tanpa berpikir Hasnita juga cepat cepat mengambil cangkir teh yang di berikan Deffar untuk meminumnya.
"Uhuk, Bukan itu masalahnya, aku tersedak karena kakak memukul pundaku terlalu keras" ucap Hasnita dengan mengelus dadanya.
"Oh, ku kira kau tidak percaya, maaf kalau gitu" ucap Deffar
"Tidak papa ko" ucap Hasnita
Deffar tiba tiba menyeruput teh yang sebelumnya sudah di minumHasnita.
"Eh eh, Tungu tungu, itu tadi teh nya sudah ku minum" ucap Hasnita ingin mencegahnya.
Tapi Deffar tetap melanjutkan meski dia memang tau itu bekas Hasnita
"Kenapa kau meminumnya?" tanya Hasnita merasa tidak enak melihat Deffar meminum teh yang sudah di minumanya
"Aku ingin minum" ucap Deffar datar
"Kalau begitu aku akan ambilkan yang baru lagi" ucap Hasnita sambil beranjak untuk pergi.
Deffar malah menahan tangan Hasnita, "Aku sudah minum kan, jadi untuk apa kau mengambilnya lagi?" tanya Deffar
"Tapi teh itu bekas, aku" ucap Hasnita yang sedikit tidak enak.
"Sudahlah tidak perlu, mending sekarang kau bersiap untuk ikut aku ke kantor" ucap Deffar
"Ke kantor?, dengan mu?, untuk apa?" tanya Hasnita bingung.
"Aku hanya ingin kau berkunjung ke tempat kerjaku, itu jiga kalau kau tidak keberatan" ucap Deffar
"Oh, tentu saja aku tidak keberatan, tapi aku tidak mebawa baju ganti yang lain, apa tidak papa jika aku berpenampialan seperti ini?" tanya Hasnita
Deffar sedikit memperhatikan penampilan Hasnita yang memakai rok kerjanya, dengan atasan kaos yang di balut sweaternya
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menyiapkanya untukmu, kau mandi saja dulu" ucap Deffar sedikit memukul bokong Hasnita yang berdiri di depanya
"Hey, itu tidak sopan" ucap Hasnita yang langsung menyentuhnya dengan ekspresi risih.
Deffar hanya tersenyum "Apa aku perlu mengantarmu?" tanya Deffar yang sudah sedikit terbiasa untuk menjaili Hasnita.
"Tidak, tidak perlu" ucap Hasnita yang langsung beranjak untuk pergi keluar dari kamar Deffar.
"Hey, kau mau kemana?" tanya Deffar yang yang melihat Hasnita menuju pintu keluar.
"Ke kamarku, maksudku ke kamar bawah" ucap Hasnita.
"Kau bisa menggunakan kamar mandi di ruangan ini" ucap Deffar
__ADS_1
"Mmm, di bawah sajalah," ucap Hasnita yang segera membuka pintunya dan keluar.
Deffar hanya tersenyum melihat reaksi Hasnita yang selalu nampak kikuk di depanya, reaksi seperti itu seolah sudah menjadi candu untuk Deffar dan selalu ingin melihat itu dari Hasnita ,