
“Na, lu baik-baik saja?” tanya Jimin. Sudah seminggu gadis itu tidak masuk kampus, dan sudah seminggu pula gadis itu tidak bisa ditemui.
Beberapa hari yang lalu Jimin sempat pergi ke rumah Hyuna untuk mengecek keadaan gadis itu, namun seorang satpam mengatakan jika Hyuna belum pulang sejak dari rumah Tae-hee. Satpam itu mengatakan jika Hyuna sedang berkunjung ke rumah kedua orang tuanya, jadi Jimin tidak begitu khawatir.
Tapi, melihat Hyuna yang terus saja diam, hati kecil Jimin jadi merasa sakit. Jadi, dia berinisiatif untuk mendekati Hyuna, dengan harapan gadis itu mau membagi keluh kesahnya dengan Jimin.
“Gue nggak apa-apa, kok, Jim.”
“Lu yakin?” tanya Jimin lagi. Kali ini Hyuna hanya mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu ingin sendiri entah sampai berapa lama.
“Minum dulu, Na.” Hyuna mengangguk dan segera meminum air yang di bawa oleh Jimin. Meski tidak bisa menghilangkan dahaganya, setidaknya minuman itu bisa membuatnya terlihat normal.
“Na, gue mau ngucapin makasih karena elu udah bantuin gue hari itu.”
“Sekali gue janji, selamanya gue bakalan berusaha buat menuhin janji gue, Jim.”
“Tapi kenapa lu nggak mau janji buat selalu ada di samping gue selamanya?” tanya Jimin. Pemuda itu merasa aneh, kenapa juga Hyuna harus berjanji buat ngelindungi Jimin sampai akhir? Kenapa gadis itu tidak berjanji saja untuk selalu ada di samping Jimin selamanya? Bukankah lebih gampang berada di sisi Jimin selamanya, dari pada harus menjaga Jimin sampai waktu gadis itu berakhir.
“Gue nggak mungkin bisa bersanding dengan orang yang sudah bersumpah untuk menjadi dewa kematian gue, Jim.”
Jimin hanya diam. Pemuda itu tidak mengerti sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh Hyuna. Bersumpah untuk jadi dewa kematian gadis itu? Siapa orang yang sudah mengucapkan sumpah sejahat itu?
“Siapa orang itu, Na? Kenapa dia bisa bersumpah sejahat itu?” tanya Jimin.
Ada yang mau bantuin author jedotin palanya Jimin nggak? Kesel gitu. Dia yang bersumpah, dia yang amnesia.
“Siapa oranya, gue nggak bisa ngasih tau karena nanti waktu yang bakalan jawab semuanya. Tentang kenapa dia bersumpah seperti itu? Mungkin karena dia berpikir gue pantas mendapatkannya,” jawab Hyuna.
__ADS_1
“Tapi, Na....”
“Baby, how are you?” tanya Taehyung yang baru datang. Pemuda itu langsung membubuhkan ciuman di kening Hyuna, tanpa mempedulikan wajah Jimin yang memerah.
“I’m fine. Lu sendiri apa kabar?” tanya Hyuna. Gadis itu hanya ingin berbasa-basi dengan seseorang yang mengklaim dirinya sebagai miliknya.
“Gue baik kok, By. Oiya, kata satpam di rumah hari itu lu nggak pulang ke rumah. Lu ke mana?” tanya Taehyung. Pemuda itu mengambil duduk di sebelah sang kekasih dengan alasan ia masih rindu dengan gadisnya.
“Gue pergi ke rumah Nyokap. Gue butuh nenangin diri,” jawab Hyuna.
“Baby, kalau ada apa-apa jangan sungkan buat bilang ke gue. Gue ada di sini bukan cuma buat pajangan, apalagi pengisi status.” Hyuna mengangguk. Gadis itu berpamitan kepada sahabatnya dan juga Taehyung untuk pergi ke perpustakaan, ia beralasan akan membaca buku di sana sekalian beristirahat.
***
Hyuna berjalan ke arah perpustakaan kampus. Di sana gadis itu melihat Yeonjun yang terduduk dengan posisi tangan sebagai bantalan kepala. Dengan posisi seperti itu, Hyuna bisa dengan mudah melihat leher Yeonjun yang begitu menggoda.
Tanpa pikir panjang, Hyuna langsung mengeluarkan taringnya dan mengigit leher Yeonjun. Pemuda itu terkejut dan menjerit, untungnya Hyuna sudah menutup mulut pemuda itu jadi teriakannya tidak akan di dengar oleh mahasiswa lain yang tengah berada di ruangan tersebut.
Hyuna langsung melepaskan taringnya dan menjilat leher Yeonjun untuk menghilangkan jejak gigitannya.
“Udah puas?” tanya Yeonjun. Hyuna hanya menjawab dengan anggukan sebelum akhirnya gadis itu memilih duduk di samping Yeonjun. “Kenapa nggak bangunin dulu?”
“Udah laper. Kalau bangunin paling diajak pindah tempat lagi,” oceh Hyuna. Gadis itu sudah lama tidak menikmati darah segar Yeonjun, jadi maklum saja ketika melihat posisi Yeonjun tadi napsu makannya meninggi.
“Siapa suruh sibuk terus,” ejek Yeonjun. Pemuda itu memilih membuka buku tebal yang sudah ia pinjam sejak tadi. Wajahnya terlihat pucat karena Hyuna mengambil darahnya cukup banyak, tapi pemuda itu mengatakan kalau ia sudah terbiasa dengan semuanya jadi Hyuna tidak perlu khawatir.
“Elu juga sibuk mulu,” ucap Hyuna. Gadis itu ikut membuka buku tebal miliknya untuk mempelajari hal-hal yang menurutnya penting.
__ADS_1
Di sela-sela kesibukan mereka membaca buku, tiba-tiba Yeonjun berkata dengan suara lirih. “Gimana, udah ketemu Tae-yaa atau belum?”
Hyuna yang mendengar itu langsung memukul kepala Yeonjun dengan buku tebalnya. Gadis itu sedikit merasa malu karena Yeonjun mengungkit masalah beberapa minggu yang lalu, soal dirinya yang mencari sosok Tae-yaa.
“Lagian lu ada-ada aja. Nggak ada orang lain apa yang bisa lu cari selain diri lu sendiri?” tanya Yeonjun. Hyuna tidak menjawab, gadis itu tetap fokus menatap bukunya yang penuh dengan tulisan kuno.
“Lagian elu juga ngapain bilang kalau gue ngelarang elu deket sama Tae-hee? Gue nggak ada ngelarang, gue cuma minta tolong jagain dia.”
“Nah, karena gue berpikir kalau gue nggak bisa jagain dia, makanya gue bikin alasan itu. Masih untung gue nggak bilang kalau Tae-yaa itu elu,” elak Yeonjun. “Oiya Na, gue denger Jaehyun mati.”
“Ulah gue,” jawab Hyuna.
Yeonjun adalah satu-satunya orang yang tahu tentang asal usul Hyuna, dan menjadi satu-satunya manusia yang tau kalau gadis itu seorang vampir. Yeonjun juga pernah bertemu dengan Raja dan juga Ratu saat Hyuna memutuskan untuk menjadikan pemuda itu sebagai budak darahnya. Tidak ada yang tidak Yeonjun ketahui tentang gadis itu, kecuali perasaannya.
“Jun, lu udah dapet pelaku yang menghisap darah teman-teman kita sampai kering, belum?” tanya Hyuna.
“Belum jelas. Tapi dari saksi hidup, gue bisa menyimpulkan kalau pelakunya itu vampir...”
“Kalau soal itu gue tau. Emang ada manusia biasa yang bisa membunuh orang sampek kering gitu darahnya,” gerutu Hyuna. Gadis itu merasa jengkel karena informasi yang di dapan Yeonjun tidak berguna sama sekali.
“Makanya kalau ada orang ngomong tu dengerin dulu, jangan main serobot aja. Gue belum selesai,” ucap Yeonjun. Pemuda itu kembali melanjutkan kalimatnya yang terhenti karena ocehan Hyuna. Dan sesaat tubuh gadis itu memegang saat Yeonjun memberikan informasi tentang sosok dicurigai sebagai pembunuh dari teman-temannya. “Lu tau nggak, Na. Sosok itu?” tanya Yeonjun.
“Gue nggak tau pasti, Jun. Tapi ntar gue coba tanya ke orang tua gue, siapa tau mereka kenal dengan ciri-ciri yang lu sebutin tadi.” Yeonjun hanya mengangguk.
Keduanya kembali fokus dengan buku yang ada di hadapannya, tanpa berniat mengganggu satu sama lain. Namun fokus Yeonjun terbagi saat melihat Hyuna tengah membaca sejarah tentang vampir.
“Lu gabut? Makanya baca buku begituan?” tanya Yeonjun.
__ADS_1
“Gue cuma pengen baca aja. Lagian apa salahnya mempelajari tentang kehidupan klan sendiri,” jawab Hyuna sekenanya.
Memang apa salahnya mempelajari tentang vampir? Toh, banyak manusia yang mempelajari tentang kehidupan manusia lainnya. Dan setahu Hyuna, tidak ada manusia yang mempertanyakan soal itu. Lalu, kenapa Yeonjun harus mempermasalahkan dirinya yang mempelajari hal-hal tentang vampir?