
“Selamat pagi, Nami yaa.” Hyuna baru bangun dari tidurnya saat mendengar suara bayi kecilnya menangis. Wanita itu langsung menggendong sang anak untuk diberi susu. “Kau lapar, ya.”
“Nami yaa, Appa ... astaga.” Jimin yang tadinya mau masuk ke dalam kamar sang anak seketika mengurungkan niatnya, saat melihat Hyuna tengah menyusui anak mereka.
“Lu ngapain balik keluar, gila!” teriak Hyuna dari dalam kamarnya. Wanita itu agaknya sedikit menyesal karena sudah mengandung dan melahirkan anak dari seorang Park Jimin. Bagaimana tidak, tidak hanya sekali dua kali tapi setiap kali Nami menangis, Jimin pasti ikut nangis juga. Pernah Hyuna yang menitipkan Nami pada Jimin, karena gadis itu ingin mandi. Hyuna yang baru masuk kamar mandi dikagetkan dengan suara tangis Nami, diikuti suara Jimin yang juga sedang menangis. Dan saat Hyuna hampiri, Nami sedang menangis karena lapar, sementara Jimin menangis karena melihat Nami menangis.
“Ya lu kan lagi nyusui Nami. Mana mungkin gue....”
“Lu udah sering lihat ya, Park Jimin! Jangan sampek lu gue lelepin di danau depan ya!” ancam Hyuna.
Sejak kejadian beberapa bulan yang lalu, mereka memang memutuskan untuk tinggal di dalam hutan dekat danau, agar Sho-hyun tidak bisa lagi mengganggu kehidupan mereka. Dan sejak kejadian itu pula, mereka tidak pernah melihat Sho-hyun lagi. Tapi meski begitu, raja tetap memerintahkan kepada semuanya khususnya Jimin dan Hyuna agar tetap berhati-hati, karena mereka tidak pernah tau rencana apa lagi yang tengah wanita itu susun.
“Benar juga. Kan gue juga udah sering ngerasain, jadi ngapain gue pergi.” Jimin bergumam dengan dirinya sendiri. Dan Hyuna yang mendengar gumaman Jimin hanya bisa mendengus. Untung dia sayang sama Jimin, coba kalau nggak?
Jimin kembali membuka pintu kamar yang biasa ia tempati putri kesayangannya, Park Nami. Tadi dia sedang mengangkat telfon dan langsung berlari ke arah kamar sang anak, saat mendengar suara tangisnya. Namun, saat ia hendak mengecek keadaan sang anak, ternyata di dalam sudah ada Hyuna yang sedang memberinya susu.
“Ngangkat telfon dari siapa?” tanya Hyuna. Bukannya menjawab Jimin malah fokus menatap bibir Nami yang sedang menikmati susu. Hyuna yang sadar dengan arah pandang Jimin pun melemparkan bantal ke arah kepala pemuda itu. “Jangan sampek gue congkel itu mata!”
Jimin hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Merasa bodoh karena terus memandangi bagian dada kekasihnya. “Tadi telfon dari Jin hyung. Mereka membuat acara tiga bulanan kelahiran Nami, jadi mereka berharap kita bisa ke sana.”
“Apa Taehyung datang juga?” tanya Hyuna. Raut wajah Jimin seketika berubah saat gadis itu membahas soal Taehyung yang notabene adalah mantan kekasihnya. Ya walaupun Taehyung saudara kandungnya, dan Hyuna sudah resmi menjadi miliknya, tapi tetap saja Jimin cemburu.
“Kenapa? Lu kangen sama dia?”
“Bisa dibilang begitu. Tapi yang paling gue kangenin dari Taehyung itu rasa bibirnya, manis banget.” Hyuna menyadari bahwa kekasihnya itu sedang cemburu, tapi ia memilih untuk melanjutkan kalimatnya. “Gue akui, dia memang benar-benar true kisser.” Mendengar ucapan Hyuna, wajah Jimin semakin memerah. Sangat kentara rasa cemburunya, dan sekali lagi Hyuna menyukai itu. Baginya melihat Jimin yang cemburu adalah sesuatu hal yang sangat menyenangkan.
Hyuna meletakkan kembali Nami yang sudah kembali terlelap di ranjang khusus bayi miliknya. Wanita itu berjalan menuju rak pakaian sang anak, berniat menata beberapa pakaian untuk dibawa nanti.
Jimin mendekat ke arah Hyuna yang masih sibuk menata pakaian anak mereka. Tanpa pikir panjang, pemuda itu langsung memeluk tubuh Hyuna dan berkata, “Segitu kangennya lu sama gue, sampai rela bikin gue cemburu.”
Hyuna melepas tangan Jimin yang ada di pinggangnya. “Maaf Tuan, tapi gue lebih tertarik sama saudara lu.” Wanita itu mengedipkan sebelah matanya kepada Jimin.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, pemuda itu langsung mengangkat tubuh Hyuna dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka. Rasa cemburu pemuda itu sudah sangat tinggi, dan ia butuh pelampiasan untuk meredakan cemburunya.
***
“Hai keponakan Paman yang paling cantik,” sapa Seokjin sembari menggendong tubuh Nami. Membawa keponakan cantiknya untuk bertemu dengan saudara-saudaranya yang lain.
Hoseok bersama dengan Jungkook baru kembali dari membeli beberapa perlengkapan untuk pesta nanti malam. Saat melewati kedua pasangan itu, Hoseok melihat ada sesuatu yang lain. “Na, tu bibir kenapa? Habis ditabok orang lu?” tanya Hoseok.
Hyuna yang mendengarnya langsung mengecek di kaca ponselnya. Dan ternyata benar, bibirnya bengkak parah. Wanita itu menatap tajam Jimin yang malah terlihat bahagia. “Awas lu!” ancam Hyuna. Jimin yang mendengarnya hanya mengangguk, dan tersenyum jahil.
“Si Hyuna kenapa dah?” tanya Hoseok yang masih belum paham apa yang sudah terjadi antara Jimin dan Hyuna.
“Nyari pacar, Hyung. Biar nggak bodoh-bodoh banget.” Setelah itu Jimin pergi masuk ke dalam rumah Appanya.
“Na, lu nggak pengen nikah apa sama Jimin? Nggak capek apa lu berdua pacaran mulu.”
“Kalau sama Jimin, nggak dulu deh. Tapi kalau Taehyung, beda cerita.” Taehyung yang tengah sibuk bermain dengan Nami diam-diam tersenyum.
“Ya Oppa bayangin aja, tiap kali Nami nangis, dia juga pasti ikutan nangis. Kalai gue nikah sama dia, gua harus ngurus dua bayi. Nggak sanggup gue. Tapi kalau sama Taehyung mungkin beda....”
“Ehm.” Hyuna menoleh ke arah belakang dan tersenyum. “Lagi bahas apa nih? Keknya seru banget.”
“Nggak bahas apa-apa, kok. Lu udah dari tadi di situ?” tanya Hyuna yang dijawab anggukan oleh Jimin.
“Gue cuma becanda tadi, Jim.”
Tadi Jimin berniat membawa Nami jalan-jalan mengelilingi rumah kakeknya, tapi ternyata Nami sedang bermain dengan Taehyung. Nami terlihat sangat bahagia bersama dengan Taehyung, begitu juga sebaliknya.
“Cantiknya Appa, apa kabar hari ini? Harum banget sih.” Taehyung menciumi wajah dan leher Nami, yang membuat bayi tiga bulan itu tertawa senang.
“Ti ati anak gue kejengklak.” Taehyung menatap Jimin remeh, kemudian melanjutkan acaranya bermain dengan Nami. “Kok kelihatannya anak gue demen banget sama Taehyung, padahalkan gue bapak kandungnya.”
__ADS_1
“Elu mungkin bapak kandungnya, tapi gue yang selalu ada buat dia.” Mendengar jawaban Taehyung, entah kenapa hati Jimin sedikit sakit. Ia menyesal karena sudah berbuat begitu jahat pada Hyuna dan anak mereka. Dalam hati Jimin mengucapkan banyak terima kasih karena Hyuna, dan keluarganya masih mau menerima dirinya. Pemuda itu juga sangat berterima kasih pada Taehyung, yang sudah berbesar hati memberikan Hyuna pada Jimin. Ya meskipun pemuda itu harus menerima beberapa Bogeman dari Taehyung, tapi Jimin tetap bahagia.
“Wah, cucu Kakek sudah datang.” Jae Wook dan Woo Bin mendaratkan kecupan di kedua pipi Nami.
“Appa, itu apa?” tanya Hyuna saat melihat sesuatu yang sangat besar tertutup kain putih.
“Kejutan untuk Nami tentunya,” jawab Jae Wook.
“Oiya, eomma di mana?” tanya Hyuna saat tidak melihat keberadaan sang ibu sejak kedatangannya.
“Eomma ada di belakang. Katanya tadi dia mau ngambil sesuatu yang tertinggal di rumah,” jawab Jae Wook. Pria tua itu dibantu oleh Hoseok dan yang lainnya masih sibuk menata beberapa pernak pernik lucu untuk acara nanti malam.
“Jimin, bisa kita bicara?” tanya Woo Bin.
Jimin menatap Hyuna sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Keduanya berjalan menuju kamar Woo Bin.
“Ada apa, Appa?”
“Nak, bagaimana kabar mu akhir-akhir ini? Apa eommamu pernah menemuimu lagi?” Jimin hanya menggeleng. Pemuda itu mengatakan bahwa Sho-hyun tidak pernah lagi mendatanginya sejak hari itu.
“Kenapa Appa tiba-tiba membahas soal eomma?” tanya Jimin. Sejak kejadian itu mereka memutuskan untuk tidak lagi membahas soal Sho-hyun, tapi entah apa yang terjadi tiba-tiba Woo Bin membahas soal itu. Bahkan terlihat raut wajah penuh kecemasan pada pria tua itu.
“Jimin, Appa minta tolong. Apa pun yang terjadi, jangan pernah keluar dari rumah ini. Kau, Hyuna dan Nami harus tetap berada di dalam rumah.”
“Tapi kenapa? Apa yang terjadi?”
“Appa mendapat kabar dari orang-orang kepercayaan Appa, kalau eommamu sedang berjalan kemari. Dia berbeda, dia bahkan membunuh semua vampir dan manusia yang ia temui tanpa menyentuh. Appa curiga, dia mempelajari ilmu baru untuk menghabisi klan Kim.”
“Kita harus memberitahu yang lainnya, Pa.”
“Raja sudah tau tentang ini, dan raja setuju untuk membiarkan kalian bertiga tetap di dalam rumah. Raja juga sudah menceritakan semuanya pada anggota yang lain,” ungkap Woo Bin. Jimin mengangguk. Ia akan melindungi keluarganya bagaimanapun caranya.
__ADS_1