The Blood

The Blood
Bagian (32)


__ADS_3

“Eomma ke mana saja?” tanya Jimin kepada ibunya saat mereka bertemu untuk kedua kalinya.


“Eomma ada di sekitar kalian, Nak. Maaf karena Eomma terlalu pengecut untuk menunjukkan diri di hadapan kalian semua, Eomma tidak ingin Raja yang haus kekuasaan itu membunuh Eomma.” Mendengar jawaban ibunya membuat Jimin terdiam. Sekilas bayangan malam itu bersama Hyuna kembali terlintas di pikirannya. “Jimin, kamu ada masalah apa Nak? Kenapa diam saja?” tanya Sho-hyun saat melihat sang anak tidak merespon omongannya.


“Maaf, Eomma. Jimin sedang banyak pikiran,” ucap Jimin sembari mengusap rambutnya kasar. Berharap bayangannya bersama Hyuna malam itu segera menjauh dan membiarkannya hidup tenang.


Jimin menoleh ke arah sang ibu, berharap tatapan lembutnya bisa membantu Jimin melupakan semua hal yang sudah terjadi. Namun, emosi Jimin kembali meluap saat kedua netranya menangkap sebuah garis melingkar di leher ibunya. Jimin tau betul itu bekas apa, karena Jimin tidak akan pernah melupakan hari itu. Hari di mana Raja dan Ratu yang haus kejayaan itu dengan sangat sadis memisahkan kepala ibunya dari tubuhnya.


“Eomma, apa itu sakit?” tanya Jimin sambil menunjuk ke arah leher Sho-hyun.


“Dibanding luka di leher, hati Eomma jauh lebih sakit Nak. Eomma merasa gagal karena Raja masih terus berkuasa hingga saat ini,” keluh Sho-hyun. Jimin yang mendengar ucapan sang ibu, entah kenapa menjadi marah. Pemuda itu bahkan mengatakan akan membantu Eommanya membalas dendam pada Raja dan Ratu agar keluarganya bisa kembali mendapatkan haknya. “Terima kasih, ya, Nak. Eomma sangat bersyukur kalau Jimin benar mau membantu keluarga kita mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan.”


“Eomma bilang saja apa yang harus Jimin lakukan, biar nanti Jimin yang eksekusi.”


“Anak Eomma.” Sho-hyun bangga dengan Jimin, tidak salah memang kalau dia menjadikan Jimin anak kesayangannya.


***


“BABY!” teriak Taehyung saat mendapatkan sebuah boneka anjing berwarna kuning dengan lidah menjulur yang berukuran super besar dari salah satu stand bermain yang baru saja ia mainkan. Pemuda itu berlari ke arah Hyuna yang tengah duduk bersama Jungkook sembari menikmati ice cream vanilla kesukaannya.


“Wah, Hyung, itu besar sekali.” Jungkook memuji kehebatan hyungnya yang bisa mendapatkan hadiah utama. Di sisi lain pemuda itu merasa sedikit curiga, pasalnya dari dia mengenal Taehyung, hyungnya itu bukan orang yang pandai dalam bermain game, berbeda dengan Jimin.


“Iyalah, gue gitu loh.” Taehyung menyombongkan dirinya di depan Hyuna dan Jungkook. “Baby, ini buat lu. Kalau lu lagi kangen gue, lu peluk aja ini monster.”


“Thanks ya, Tae. Gue....”

__ADS_1


“Tuan, maaf tapi uang yang anda berikan tadi ternyata kurang lima won.” Seseorang dengan pakaian tradisional tiba-tiba menghampiri mereka dan mengatakan soal uang Taehyung yang kurang.


Jungkook dan Hyuna saling tatap karena tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


“Bukannya tadi lu bilang udah pas?” tanya Taehyung sembari mengeluarkan dompet dari sakunya.


“Maaf, Tuan. Tadi saya salah hitung,” sesal orang itu. Pemuda itu mengucapkan terima kasih dan langsung pergi menjauh saat Taehyung memberinya beberapa lembar uang.


Hyuna dan Jungkook yang akhirnya paham dengan apa yang terjadi pun menganggukkan kepala. Jadi, hadiah utama yang disombongkan Taehyung bukan hasil dari dia bermain, tapi pemuda itu membelinya. Licik sekali.


“Hadiah utama, ya.” Mendengar ejekan Jungkook, Taehyung hanya diam. Malu juga karena sudah ketahuan berbohong, di depan pacar pula. Dalam hati Taehyung memaki petugas tadi karena sudah membuat rencananya gagal. “Akui aja Hyung, lu nggak sebaik Jimin hyung untuk bermain game.” Jungkook yang menyadari ada yang salah dengan ucapannya langsung menutup mulutnya.


“Nggak masalah, mau beli atau menang dari game sekalipun, gue nggak peduli. Toh bonekanya bagus,” ucap Hyuna. Gadis itu memeluk boneka anjing kuning pemberian Taehyung.


Taehyung memeluk kekasihnya dan langsung mencium bibir Hyuna tanpa peduli Jungkook yang berdiri di sampingnya. “Mata gue kotor,” ucap Jungkook sambil berjalan menjauh dari dua insan yang tengah dimabuk cinta.


“Tu, lihat sendiri.”


Hoseok mengikuti arah pandang Jungkook dan mengangguk paham kenapa sang adek tiba-tiba badmood, padahal Jungkook bukan tipe vampir yang moody-an.


“Hyung, pengen punya pacar juga.” Jungkook merayu Hoseok yang masih sibuk dengan antriannya, berharap hyungnya yang tampan dan baik hati serta kaya itu mau mengabulkan keinginannya. “Bangsat!” seru Jungkook saat tiba-tiba ada orang yang memukul kepalanya dengan sangat keras.


“Selesaiin kuliah lu dulu, baru pacaran.” Yoon Ki sudah berdiri di belakang Jungkook dan Hoseok dengan membawa sebuah buku tebal dan beberapa jenis minuman.


“Tapi Taehyung Hyung kok boleh pacaran,” gerutu Jungkook yang masih bisa didengar oleh saudara-saudaranya yang ada di sana.

__ADS_1


“Kalau emang elu mau pacaran, cari aja. Tapi sebelum itu, pastikan elu layak untuk gadis itu sama seperti Taehyung yang memang layak bersanding dengan Hyuna. Setuju?” usul Seokjin yang sudah berada di antara mereka dengan membawa tiket nonton yang akan mereka tonton sebagai penutupan acara jalan-jalan hari ini.


Jungkook terdiam saat mendengar persyaratan yang hyungnya berikan padanya. “Dari pada lu pusing mikirin soal pacaran, mending lu habisini ini susu. Capek gue bawanya,” keluh Namjoon sembari menyerahkan sekaleng susu yang selalu Jungkook bawa ke manapun.


“Ya udah, yuk. Bentar lagi filmnya di mulai,” ajak Seokjin sembari menunjukkan tiket yang sudah ia pegang.


Semuanya berjalan menuju bioskop yang ada di taman hiburan itu untuk menyaksikan sebuah film Jurassic. Mereka duduk di barisan yang sama, ada beberapa orang lagi yang duduk di barisan tersebut.


“Baby, lu duduk di tengah aja. Biar kita bisa gampang ngawasin elu,” usul Taehyung. Namun Hyuna menolak dengan alasan tidak nyaman, gadis itu memilih duduk di paling pinggir agar bisa leluasa melakukan apa pun yang dia mau. “Tapi, Sayang....”


“Gue nggak apa-apa. Udah, lu duduk di sini aja samping gue.” Akhirnya Taehyung mengalah dan memilih membiarkan kekasihnya duduk di pinggiran. Sepanjang acara menonton film itu, tangan Taehyung tidak pernah lepas dari Hyuna. Entah kenapa pemuda itu takut kalau tiba-tiba Jimin ada di sana dan menyakiti kekasihnya lagi.


Hyuna tengah fokus menonton film kesukaannya, namun tiba-tiba samar ia mendengar Taehyung yang mengumpat. “Kenapa?” tanya Hyuna.


“Gue mau ke toilet.”


“Ya udah lu pergi aja. Gue nggak apa-apa di sini,” bisik Hyuna. Dia tidak ingin orang-orang terganggu kalau sampai ia berbicara dengan suara yang agak keras.


Taehyung yang mendengar ucapan Hyuna langsung menolak. Pemuda itu mengatakan lebih baik dia kesakitan menahan keinginannya untuk buang air, dari pada harus meninggalkan Hyuna seorang diri.


“Ada yang lainnya juga, Tae. Elu nggak perlu khawatir,” ucap Hyuna. Gadis itu mencoba meyakinkan kekasihnya kalau tidak akan terjadi apa-apa dengannya, ditambah lagi Hyuna tidak sendiri di sana, masih ada saudara-saudara Taehyung di sana.


“Baiklah, tapi lu harus janji kalau elu bakalan baik-baik aja. Ok,” pungkas Taehyung yang diangguki oleh Hyuna. Segera setelah itu Taehyung berlari ke arah toilet untuk menyelesaikan urusannya.


Hyuna kembali fokus dengan film yang tengah ditampilkan, dan semua berjalan seperti biasa sampai orang yang ada di belakang Hyuna tiba-tiba berbisik, “Long time no see, Honey.”

__ADS_1


Tubuh Hyuna membeku. Gadis itu tau betul pemilik suara itu. Berbekal sedikit kekuatan yang ia miliki, gadis itu menoleh ke arah bangku yang ada di belakangnya dan terdiam saat melihat Jimin tengah duduk di sana dengan senyum mengerikan.


“Jimin.”


__ADS_2