
Jimin tengah duduk di sebuah kursi di taman yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Pemuda itu memilih kembali ke rumah untuk menenangkan hatinya yang kacau setelah mengetahui kenyataan yang sangat mengagetkan baginya.
“Jimin, masuk dulu Nak.” Seorang pria tua menghampiri Jimin yang tengah sibuk dengan pikirannya. Pria tua itu mengajak Jimin masuk untuk menikmati makanan yang baru saja ia buat untuk putra kesayangannya.
Woo Bin, kakak dari raja yang saat ini berkuasa dan paman dari gadis yang baru saja ia hajar. Pria tua itu tersenyum lembut saat melihat sang anak yang sudah bertumbuh.
“Kenapa, Nak? Apa yang menganggu pikiran mu?” tanya Woo Bin. Jimin tidak menjawab pertanyaan sang ayah. Pemuda itu hanya menangis tersedu sembari memeluk tubuh sang ayah, Jimin juga mengucapkan maaf karena tidak bisa menjadi anak serta kakak yang baik untuk ayahnya dan Jungkook. “Apa kau sedang bertengkar dengan Hyuna?”
Jimin terdiam. Cukup terkejut karena sang ayah tau soal hubungannya dengan Hyuna yang merupakan kekasih Taehyung. Namun, lagi dan lagi Jimin memilih diam.
“Nak, pertengkaran antara dua orang itu hal yang biasa. Hyuna memang punya salah, tapi kau harus ingat satu hal. Kau juga bukan orang suci yang tidak pernah melakukan kesalahan. Jadi, apa pun masalah kalian, Appa minta bicarakan baik-baik.”
Jimin menoleh ke arah sang ayah yang tengah menatapnya dengan tatapan sendu. Pemuda itu sedikit merasa ragu, namun akhirnya memilih untuk menanyakan sesuatu kepada sang ayah.
“Appa, bagaimana kalau aku membunuh Hyuna?” tanya Jimin.
Woo Bin hanya tersenyum sebelum kemudian pria tua itu mengatakan sesuatu yang membuat hati Jimin bimbang. “Lakukan apa pun, tapi pastikan kau tidak akan pernah menyesal setelah melakukannya.”
Menyesal? Apa mungkin Jimin akan merasa menyesal? Tapi, kenapa Jimin harus menyesal? Kan yang dia bunuh adalah anak dari orang yang sudah membunuh ibunya, jadi Jimin tidak perlu merasa menyesal. Benar, bukan? Namun, entah mengapa hati pemuda itu merasa ragu.
“Appa, boleh Jimin minta peluk?” tanya Jimin. Woo Bin mengangguk dan langsung memeluk sang anak yang tengah terlihat tidak baik-baik saja.
“Nak, Appa mungkin memang nggak tau siapa Hyuna dan sebaik apa hubungan kamu dengan anak itu. Tapi Nak, semua masalah bisa dibicarakan baik-baik dan tidak semua masalah bisa selesai dengan kekerasan atau saling membunuh.” Woo Bin mencoba menasehati sang anak, agar dia tidak salah pilih ambil tindakan dan berakhir menyesal seperti dirinya.
“Tapi kenapa raja menghukum mati eomma, kalau semua masalah bisa diselesaikan dengan cara baik-baik?” tanya Jimin. Woo Bin bisa merasakan pelukan sang anak yang langsung mengerat saat mengingat kejadian itu, dan pria tua itu tau betul jika anaknya belum bisa menerima kepergian sang eommanya yang menurutnya tidak adil.
__ADS_1
“Peperangan hari itu, semua karena ulah eommamu. Tidak hanya satu kali, namun beberapa kali dia berusaha menyakiti raja, dan keluarganya dengan alasan untuk mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan.” Jimin hanya diam sembari mendengarkan kalimat demi kalimat yang coba Appa nya rangkai agar Jimin tidak salah paham dan sakit hati. “Nak, apa yang eommamu dapatkan adalah hukuman yang terbaik.”
“Appa, eomma orang baik. Dia sayang sama Jimin dan yang lainnya, dia juga sangat menyayangi....” Jimin tidak melanjutkan kalimatnya. Entahlah, rasanya bibirnya tidak ingin menyebutkan nama seseorang yang mungkin sebentar lagi akan mati di tangannya.
Woo Bin yang paham dengan keadaan sang anak hanya mengusap kepala Jimin sembari tersenyum agar sang anak merasa sedikit tenang. “Jim, eommamu adalah orang yang membunuh Nenek dan Kakek kalian. Dia meracuni Tae-yaa kecil dan membuat gadis malang itu hampir mati, dia juga menyuruh vampir dari klan lain untuk membunuh Tae-yaa. Dan ada satu hal lagi yang eommamu lakukan tapi tidak bisa Appa katakan.” Jimin yang mendengarnya tertegun. Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah.
“Apa maksud Appa? Hal apa?”
“Tidak ada. Percayalah, Nak, Raja dan Ratu orang yang sangat baik. Kalau mereka orang jahat, dari awal mereka sudah menjatuhkan hukuman untuk Eomma mu. Tapi, mereka memilih untuk memaafkannya.”
Jimin berpamitan kepada sang Appa untuk pergi ke kamarnya. Pemuda itu butuh menenangkan pikiran sesaat.
***
Sudah hari ketiga sejak mereka tau tentang Tae-yaa dan tragedi penyerangan yang dilakukan Jimin pada gadis itu.
Beberapa kali pemuda itu mencoba mengecek obat yang ia berikan pada Hyuna, takut kalau ternyata obat yang dia berikan salah, makanya luka gadis itu tidak juga membaik.
“Oppa,” panggil Hyuna dengan suara lirih.
“Ne, Nona. Ada yang bisa saya....”
“Apa Oppa sebenci itu sama Tae-yaa? Maaf karena Tae-yaa menyembunyikan semuanya, tapi tolong jangan benci Tae-yaa.” Tae-yaa tidak tahan lagi dengan sikap Seokjin dan saudaranya. Gadis itu ingin hubungan mereka kembali baik seperti dulu, dia rindu Seokjin yang sayang padanya bukan Seokjin yang hormat.
“Nona jangan terlalu banyak bicara.”
__ADS_1
Tae-yaa memaksa dirinya sendiri untuk bangun dari ranjang dan hal itu sukses membuat Seokjin khawatir. Gadis itu belum sehat sepenuhnya, tapi sudah memaksa dirinya sendiri untuk bangun.
“Oppa bisa pulang. Aku sudah baik-baik saja,” ucap Tae-yaa. Seluruh tubuh gadis itu merasakan sakit yang luar biasa, namun coba ia tahan. Gadis itu hanya ingin tau apakah Seokjin akan memilih memarahinya atau membiarkannya dan pergi meninggalkan Tae-yaa di dalam kamarnya.
“Baiklah kalau memang Nona sudah merasa lebih baik. Saya pamit undur diri,” ucap Seokjin. Hyuna yang mendengarnya hanya mengangguk dan menangis dalam diam. Dia sudah kehilangan semuanya, jadi tidak ada alasan lagi untuk Tae-yaa tetap ada di dunia manusia yang menurutnya kejam.
Seokjin kembali ke rumah yang ia tinggali bersama saudaranya. Semua menanyakan tentang keadaan Tae-yaa, dan kenapa pemuda itu tiba-tiba pulang ke rumah. Padahal seingat mereka, hari itu Seokjin mengatakan akan tetap tinggal di sana sampai Tae-yaa kembali sehat.
“Hyung, bagaimana keadaan Hyuna?” tanya Taehyung.
Sebenarnya hari itu Taehyung ingin tinggal di sana juga, namun hari itu Seokjin melarang semua saudaranya tinggal.
“Dia baik,” ucap Seokjin sembari berjalan menuju kamar yang sudah lama ia tinggal.
Seokjin berniat membersihkan tubuhnya dengan mandi, namun langkahnya terhenti saat ia mendengar suara gedoran di pintu utama.
Taehyung yang kebetulan ada di ruang tamu langsung membuka pintu. Lukas bersama Jaemin dan Jeno tengah berdiri di depan pintu rumah mereka dengan air mata yang sudah mengalir deras.
“Kenapa kalian ke sini?” tanya Taehyung.
“Tolong katakan di mana Tuan Muda Seokjin, Tuan.” Lukas memohon sambil bersujud di kaki Taehyung. “Tolong pertemukan kami dengan Tuan Seokjin.”
Seokjin yang mendengar keributan berjalan kembali ke arah ruang tamu. “Ada apa?” tanya Seokjin.
“Tuan tolong Nona kami,” mohon Lukas.
__ADS_1
“Nona kalian tidak ingin aku ada di sana. Katakan pada Yeonjun untuk rutin memberikan darahnya pada Nona kalian, dia akan....”
“Yeonjun sudah mati. Tubuhnya di temukan mengering di dalam kamarnya dan sekarang Nona kami terus merintih kesakitan.” Semua yang mendengar ucapan Jaemin langsung berdiri dan segera pergi ke rumah Tae-yaa untuk melihat keadaan temannya.