The Blood

The Blood
Bagian (25)


__ADS_3

Sudah setengah jam lebih Hyuna berkeliling hutan mencari keberadaan Jungkook dan yang lainnya, namun gadis itu belum juga menemukan mereka.


“Hutan sebelah mana sebenarnya tempat mereka berburu,” gerutu Hyuna. Gadis itu sudah lelah berkeliling hutan, tapi tidak ada satu pun dari saudara Jimin ditemuinya. Akhirnya dengan berat hati gadis itu memutuskan untuk pulang dan merawat Jimin.


Sesampainya di rumah, Hyuna langsung dihadang Yeonjun yang menanyakan keberadaan saudara Jimin, dan alasan kenapa Hyuna kembalian seorang diri.


“Gue nggak bisa nemuin mereka, Jun.” Hyuna berjalan ke arah kamarnya dan merasa sedih saat melihat Jimin yang tertidur dengan wajah pucat.


Tidak sampai di situ, beberapa saat kemudian tiba-tiba badan Jimin kejang-kejang. “Jim, lu kenapa?” tanya Hyuna. Gadis itu terus mondar mandir di dekat Jimin yang tengah kejang tanpa melakukan apa pun. Yeonjun sedang di dapur untuk mengambil air entah untuk apa, dan pemuda itu meminta Hyuna untuk menjaga Jimin. Jaga-jaga kalau tiba-tiba pemuda itu sadar.


“Astaga, ini gue harus apa?” tanya Hyuna. Gadis itu ingin pergi ke dapur untuk bertanya pada Yeonjun apa yang harus dilakukan, namun langkahnya terhenti saat melihat Jimin yang terduduk dengan mata memerah dan taringnya yang memanjang. Pemuda itu langsung meraih tangan Hyuna, dan menancapkan taringnya yang tajam ke tangan gadis itu.


Hyuna menjerit dengan sangat keras karena rasa sakit di tubuhnya. Rasanya seperti seseorang tengah mencabut kulitnya dengan sangat kasar, dalam posisi dirinya yang masih sadar.


Yeonjun yang mendengar teriakan Hyuna langsung berlari ke arah kamar gadis itu, dan terkejut saat melihat Jimin tengah menggigit tangan Hyuna dan menghisap darah gadis itu.


“Na, lu udah gila!” teriak Yeonjun saat melihat Hyuna membiarkan Jimin menghisap darahnya. Pemuda itu langsung berlari ke arah Hyuna dan menjauhkan secara paksa kepala Jimin dari tangan Hyuna.


Yeonjun marah pada Hyuna karena ia pikir gadis itu sudah seenaknya memberikan darahnya pada vampir lain. Meski Jimin adalah teman masa kecilnya, namun di masa sekarang mereka berdua hanyalah orang asing yang kebetulan menjadi sahabat. Pemuda itu memeriksa tangan Hyuna dan mengumpat dengan keras saat melihat tangan gadis itu yang berlubang, akibat gigitan taring Jimin.


“Lu tenang aja, Jun. Tidak ada fakta yang menyebutkan vampir origin tidak boleh menghisap darah vampir origin lain, semua itu hanya mitos. Lihat, gue baik-baik aja kan.”


“Na, minum darah gue sekarang!” pinta Yeonjun dengan sedikit memaksa. Bukan apa-apa, pemuda itu hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan Hyuna. Meski darahnya tidak memiliki racun seperti darah Hyuna, Jimin dan para vampir, tapi Yeonjun harap darahnya bisa membantu memulihkan keadaan Hyuna yang saat ini terlihat pucat.


Matahari sudah mulai terbit, namun Jimin belum juga bangun dari tidurnya. Entah apa yang sedang dilakukan pemuda itu dalam mimpi, sampai ia terkena dan tidak juga kembali ke dunia nyata.


Yeonjun semalam memutuskan untuk tidak kembali ke rumahnya, dengan alasan ingin membantu Hyuna menjaga Jimin. Padahal sejak pertengkaran keduanya mengenai darah Hyuna, mereka berdua sudah tidak saling tegur sapa.


“Makan dulu, Jun.”

__ADS_1


Yeonjun tidak menjawab. Namun pemuda itu bangkit dari sofa panjang yang ada di depan televisi dan berjalan ke arah ruang makan untuk menikmati makanan yang sudah Hyuna siapkan dengan susah payah.


Hyuna sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Yeonjun berupa nasi goreng kimchi, ayam goreng serta segelas soda. Menu sarapan yang cukup sederhana dari biasanya.


Keduanya memakan sarapannya dalam diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan, sampai mereka dengar Jimin yang berteriak dari dalam kamarnya memanggil nama Tae-yaa.


Dengan secepat kilat Hyuna berlari ke arah kamar yang ditempati Jimin, disusul oleh Yeonjun yang juga ikut berlari ke arah yang sama.


“Jim, lu kenapa?” tanya Hyuna.


Jimin masih tertidur namun seluruh tubuh pemuda itu sudah basah karena keringat. Pemuda itu terus menggelengkan kepalanya sembari terus memanggil nama Tae-yaa.


“Coba bangunkan dia,” ucap Yeonjun. Hyuna mengangguk dan mencoba membangunkan Jimin, namun sayangnya pemuda itu tetap tidak bangun.


Jimin terus berteriak memanggil nama Tae-yaa, seolah seseorang bernama Tae-yaa yang ada di dalam mimpinya hilang.


Hyuna dan Yeonjun yang melihatnya hanya bisa diam. Tidak tau harus berbuat apa, karena Jimin seolah tidak mau bangun dari tidurnya.


“Coba lu susul salah satu saudaranya, biar gue yang jaga dia di sini.” Hyuna mengangguk dan melesat pergi dari rumahnya menuju rumah Jimin yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya.


Namun, baru setengah perjalanan gadis itu menghentikan langkahnya. “Kalau mereka nanya gue ke sana naik apa? Gimana?” tanya Hyuna pada dirinya sendiri. Tapi untungnya, gadis itu memilih melanjutkan perjalanan, dan tidak kembali ke rumah. Bisa habis dia dimaki-maki sama Yeonjun kalau balik gara-gara hal sepele.


***


“Op... Wah, gantengnya.” Hyuna yang baru saja tiba di rumah Seokjin terpukau dengan ketampanan Taehyung yang mampu membuat siapapun yang melihat pasti bersyukur.


Taehyung tengah membaca buku di salah satu kursi yang ada di taman rumahnya. Pemuda itu hanya membaca, tapi entah kenapa di mata Hyuna, dia terlihat seperti sedang melakukan pemotretan untuk iklan.


“Samperin aja kali,” celetuk Jungkook yang membuat Hyuna segera kembali ke dunia nyata.

__ADS_1


Taehyung yang mendengar suara Jungkook pun menoleh, dan tersenyum saat mendapati kekasih hatinya ada di depan rumahnya. Pemuda itu buru-buru turun dari kursi untuk menyambut Hyuna.


“Hai, By.”


“Hai juga.” Hyuna menyambut sapaan Taehyung dengan senyum merekah. Taehyung menggandeng tangan Hyuna dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumah yang terlihat lebih sepi dari biasanya.


“Hai, Na.” Seokjin yang baru keluar dari dapur menyapa Hyuna. Pemuda itu tengah menyiapkan sarapan pagi untuk para adek-adeknya, tak lupa pemuda itu juga mengajak Hyuna untuk makan bersama.


Mereka makan bersama. Namun entah kenapa sejak tadi perasaan Hyuna tidak tenang, rasanya seperti ia sudah melupakan sesuatu yang sangat penting. Tapi apa?


“Oiya, Na. Kok lu tumben banget ke sini pagi-pagi?” tanya Namjoon. Pemuda itu seolah sadar kalau ada yang tidak beres dengan Hyuna, makanya dia bertanya.


“Ada hal penting yang harus kalian tau, tapi masalahnya gue lupa hal penting apa yang mau gue sampaiin ke kalian.” Hyuna memilih kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Masakan Seokjin memang yang terbaik, bahkan jika dibandingkan dengan makanan yang dibuat Hyuna, masakan Seokjin tetap yang terbaik.


“Ya udah lu di sini dulu. Ntar kalau udah inget lu bisa langsung bilang ke kita,” ucap Taehyung sembari mengusap pucuk kepala Hyuna dengan penuh kasih sayang.


Semuanya hening untuk beberapa saat, sampai Jungkook menanyakan keberadaan salah satu kakaknya.


“Di mana Jimin Hyung?” tanya Jungkook.


Seokjin mengatakan jika Jimin berpamitan untuk pulang ke rumah Appa mereka.


“Jimin,” ucap Hyuna tiba-tiba. Gadis itu masih mencoba untuk mengingat hal apa yang terjadi dan berkaitan dengan Jimin.


“Kenapa, By?” tanya Taehyung.


Hyuna menahan diri untuk tidak menatap Taehyung. Gadis itu ingin fokus mengingat apa yang harus dia sampaikan, kalau sampai ia menoleh ke arah Taehyung bisa-bisa ia terpana dengan ketampanan Taehyung, dan membuatnya lupa akan tujuan awal.


“Ya Tuhan!” seru Hyuna. Semua yang mendengar seruan Hyuna langsung menoleh ke arah gadis itu. “Gue ingat, tujuan gue ke sini.”

__ADS_1


“Apa?” tanya Hoseok.


“Jimin ada di rumah gue dari tadi malem. Dia terluka,” ucap Hyuna. Seokjin bersama yang lain mendengar ucapan Hyuna langsung bergegas menuju rumah gadis itu dengan mengendarai mobil milik Namjoon. Untung saja mereka tidak menanyakan bagaimana Hyuna bisa sampai di rumah mereka, karena mereka tidak melihat kendaraan yang Hyuna naiki.


__ADS_2