The Blood

The Blood
Bagian (37)


__ADS_3

Jimin seketika tersadar. Pemuda itu seolah baru saja ditarik dari alam bawah sadarnya saat mendengar teriakkan kesakitan dari Hyuna.


Tanpa pikir panjang pemuda itu langsung membawa tubuh Hyuna yang sudah mengalami pendarahan ke rumah sakit milik Seokjin. Pemuda itu terus meminta maaf, dan memohon kepada Hyuna agar mau bertahan demi anak mereka.


“Gue mohon, bertahan.” Air mata pemuda itu tidak berhenti mengalir. Menyesali kebodohan yang ia lakukan berakibat membahayakan nyawa Hyuna dan bayi mereka. “Hyung, tolong percepat.”


Taehyung sebenarnya ingin merebut Hyuna dari gendongan Jimin, dan menghajar pemuda itu, tapi urung karena Hyuna pasti akan marah saat tau ia menghajar Jimin.


Hampir sepuluh menit berkendara akhirnya mereka semua sampai di rumah sakit. Jimin langsung meletakkan Hyuna di ranjang rumah sakit, sebelum akhirnya gadis itu dibawa ke ruang operasi.


Jimin menemui Taehyung yang berdiri tak jauh dari ruang operasi. Pemuda itu memegang tangan Taehyung dan mengarahkannya ke kepalanya sendiri. Dan berkata, “bersumpahlah! lu bakalan jaga Hyuna dan Nami. Kalau suatu saat elu lihat gue berniat menyakiti Hyuna, jangan ragu buat bunuh gue hari itu.”


Taehyung menarik paksa tangannya yang digenggam Jimin. “Lu ngomong apaan sih?”


“Jim, jangan pergi. Hyung janji bakal menceritakan semuanya sama kalian, tapi Hyung mohon jangan kembali ke rumah itu bersama eomma.” Namjoon tau adeknya tidak pernah berniat menyakiti Hyuna, apalagi setelah pemuda itu tau kalau bayi yang ada di dalam perut Hyuna adalah anaknya.


“Tuan Jimin. Uisa nim menunggu anda di dalam,” ucap salah satu suster khusus yang ada di rumah sakit tersebut.


Seokjin sengaja memperkejakan beberapa orang khusus di rumah sakit miliknya. Mereka adalah orang yang pemuda itu percaya untuk membantunya mengurus vampir yang terluka.


Jimin mengangguk dan langsung melangkah masuk ke dalam ruangan. Pemuda itu dapat melihat seorang bayi mungil yang menangis keras berada di dekapan salah satu suster di sana. Bayi berjenis kelamin perempuan itu tengah dibersihkan oleh suster sebelum akhirnya dipindahkan ke ruang khusus bayi.


Air mata pemuda itu kembali mengalir, saat melihat bayinya yang sangat cantik, mirip sekali dengan Hyuna.


“Jim, di sini.” Jimin segera mengalihkan pandangannya ke arah Seokjin yang ada di sebelahnya. Mata pemuda itu membola saat melihat Hyuna kejang-kejang dengan mata memerah.


“Hyung, apa yang terjadi?” tanya Jimin sambil memegangi tangan Hyuna. Tangis pemuda itu pecah. Ia tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri karena sudah membuat Hyuna seperti sekarang.


“Gigit dia!” perintah Seokjin.


“Hyung, kalau gue....”


“Gigit dia, atau semua berakhir.”


Tanpa berpikir lebih lama lagi Jimin langsung mendekat dan menggigit leher Hyuna. Wanita itu menjerit kesakitan, tapi detik berikutnya ia kembali tenang.

__ADS_1


Jimin berjalan keluar dari kamar Hyuna, sementara Seokjin mengatakan akan melanjutkan pekerjaannya lebih dulu, setelah itu baru menemui Jimin dan menjelaskan semuanya.


Hampir tiga puluh menit mereka menunggu, dan akhirnya Seokjin keluar dari ruang operasi. Di belakang pemuda itu beberapa suster khusus tengah membawa tubuh Hyuna yang masih belum sadarkan diri untuk dipindahkan ke ruang perawatan, yang sudah Seokjin siapkan khusus untuk Hyuna dan anaknya.


“Bagaimana keadaan Hyuna?” tanya Jimin. Pemuda itu terlihat sangat kacau. Matanya memerah, dan bengkak karena terlalu banyak menangis, penampilannya sangat berbeda dari Jimin yang biasanya. Dia terlihat begitu lusuh. Bahkan jejak darah Hyuna masih ada di baju yang ia pakai.


Seokjin menepuk pelan pundak saudaranya. “Dia baik-baik saja, hanya saja dia butuh waktu untuk bangun dari tidurnya.”


“Maksud Hyung, dia....”


“Tenanglah, Taehyung. Dia baik-baik saja, begitu juga dengan bayinya.” Seokjin menatap saudara bungsunya yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya. Bisa Seokjin lihat, sesekali adeknya itu meneteskan air mata. “Jim, bisa kita bicara?”


Jimin menatap hyungnya sejenak, kemudian mengangguk. Keduanya berjalan ke ruangan Seokjin, sementara Taehyung dan yang lainnya menuju kamar perawatan Hyuna.


“Jim, lu ke mana aja selama ini?” tanya Seokjin begitu keduanya sudah sampai di ruangan pemuda itu.


Sebuah ruangan berukuran tiga kali tiga meter, dengan cat berwarna putih, dan terdapat beberapa foto keluarga langsung menyambut kedatangan Jimin.


Fokus pemuda itu tertuju pada satu foto, di mana terdapat dirinya dan ke lima saudaranya bersama dengan ayah dan ibu mereka. Mereka terlihat sangat bahagia di dalam foto itu.


“Jim,” panggil Seokjin saat sang adek tidak juga menjawab pertanyaan yang ia ajukan.


“Menjauh dari dia, Jim. Eomma yang sekarang bukan lagi eomma yang dulu,” ucap Seokjin. Jimin yang sejak tadi fokus dengan foto-foto keluarga mereka pun akhirnya memfokuskan atensinya pada saudara tertuanya. “Hari itu adalah hari yang paling menyedihkan bagi kita semua, khususnya lu. Kami semua nggak tega lihat elu sedih setiap hari karena merindukan eomma, jadi Hyung dan Namjoon memutuskan untuk membawa tubuh dan dan kepala eomma ke salah satu iblis. Dia menyetujui permintaan kami dengan syarat eomma harus tinggal bersama dia dan menjadi budaknya.”


Jimin hanya diam. Pemuda itu tengah fokus mendengarkan cerita yang disampaikan oleh Seokjin.


“Awalnya kami berdua ragu, tapi pada akhirnya kami mengiyakannya. Kami pikir dia hanya akan mengambil eomma, dan menjadikannya budak bukan sesuatu yang besar. Tapi ternyata, sesuatu yang tidak pernah kami pikirkan terjadi. Setelah iblis itu berhasil menghidupkan eomma kembali, eomma meminta iblis itu untuk membantunya membalaskan dendam kepada keluarga kerajaan. Eomma mengatakan akan melakukan apa pun yang diinginkan oleh iblis itu, asal dia mau membantu eomma. Tidak pernah terbesit diotak jahat kami sekalipun bahwa eomma akan menjadikanmu pion untuk menghancurkan Hyuna dan keluarganya.


Jimin tidak memberikan reaksi apa pun. Bukannya dia tidak percaya dengan apa yang Seokjin katakan, tapi dia hanya ingin membuktikan semuanya sendiri. Walaupun sudut hatinya menginginkan dirinya untuk menjauh dari eommanya, tapi sisi hatinya yang lain ingin dia tetap bersama wanita yang sudah melahirkannya.


Jimin menatap Seokjin dalam. Pemuda itu seolah sedang mencari titik kebohongan dari kata kakaknya, tapi ia tidak bisa menemukannya. Kakaknya berbicara jujur soal eomma mereka.


“Hyung mohon, jangan temui dia lagi.”


“Hyung, bisa Hyung jawab kenapa Hyuna butuh racun gue?” tanya Jimin. Pemuda itu memilih untuk tidak mengomentari ucapan Seokjin.

__ADS_1


“Lu pernah gigit dia.”


Jimin terkejut bukan main. Seingatnya ia hanya memperkosa Hyuna, tidak untuk menggigit, apa lagi menghisap darah wanita itu. Jimin nggak sekejam itu.


“Hyung nggak tau apa sebelumnya elu pernah bertemu eomma atau nggak. Tapi yang pasti saat ini elu sudah ada dalam kendali dia sepenuhnya,” jelas Seokjin. Jimin hanya mengerutkan keningnya sembari menatap hyungnya seolah meminta penjelasan lebih tentang ucapannya. “Alasan eomma dihukum mati selain karena eomma sudah memberitahukan tempat kita pada manusia, eomma juga sudah mempelajari ilmu terlarang. Dia bisa mengendalikan orang yang pernah meminum darahnya dengan sesuka hati. Ia juga bisa merubah wajahnya menjadi siapa pun yang ia kehendaki.”


“Tapi, kenapa harus gue?”


“Besar kemungkinan karena eomma tau, dari kita berenam elu yang paling sayang sama dia. Bisa dibilang, elu yang selalu ada dipihak dia, dan yang pasti karena elu nggak akan pernah ragu untuk menghabisi mereka.”


Jimin diam mendengar ucapan Seokjin. Pemuda itu masih tidak menyangka, kasih sayangnya pada ibunya malah membawa malapetaka untuk dirinya, dan orang-orang yang ia sayangi.


“Jim, coba lu ingat-ingat. Apa sebelumnya elu pernah bertemu eomma? Atau elu bertemu dengan seseorang yang aneh?”


“Hari pertama gue ketemu eomma, saat Hyuna mengakui identitasnya yang asli.” Seokjin diam. Berpikir keras, bagaimana ibunya bisa mengendalikan Jimin kalau mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.“Tapi...” Seokjin menoleh ke arah sang adek saat mendengar ucapan pemuda itu yang terpotong. “Appa pernah menghubungi gue dan meminta untuk bertemu. Dia mau gue buat datang ke sebuah tempat yang menurut gue sedikit aneh. Di sana dia ngasih gue darah, yang katanya itu darah leluhur.”


Seokjin yakin dengan amat sangat, bahwa itu bukanlah Appa mereka. Dia adalah sang eomma yang sengaja menyamar jadi Appa mereka, dan menghasut Jimin.


“Hyung, gue keluar sebentar.”


Seokjin mengangguk. Pemuda itu cukup paham, adeknya butuh waktu untuk mencerna semuanya.


Jimin berjalan ke arah kamar Hyuna. Dengan sangat jelas pemuda itu melihat bagaimana pucatnya wajah gadis yang selama ia cintai dalam diam. Air mata yang sudah mengering kini kembali mengalir. Menyesali keputusan bodoh yang sudah ia ambil, dan berakhir menyakiti orang-orang yang dia sayangi. “Gue minta maaf,” sesal Jimin.


Pemuda itu menoleh ke sebuah ranjang kecil yang ada di samping ranjang Hyuna. Nami tengah tertidur pulas di sana. Pipinya merah, bibirnya semerah ceri, dengan bulu matanya yang lentik. Jimin menyukai semua yang ada pada anaknya. “Nami yaa, maafkan Appa.” Jimin mengusap wajah anaknya dengan lembut, takut membangunkan putri tercintanya dari mimpi indah yang tengah ia arungi.


“Jim,” sapa Taehyung yang baru saja kembali dari toilet. Jimin langsung menghapus air matanya yang kembali mengalir membasahi pipinya.


“Sampaikan salam gue ke yang lainnya, khususnya buat Nami. Jaga mereka berdua dengan baik, karena mereka harta gue.” Jimin memutuskan untuk pergi. Pemuda itu tidak mengatakan akan pergi ke mana, dia hanya berpesan agar semua saudaranya mau menjaga Nami seperti mereka menjaga anak mereka sendiri.


***


“Eomma, kenapa Eomma melakukan ini?” tanya Jimin begitu ia sampai di rumah yang sudah hampir satu tahun ia tempati.


“Itu karena kamu terlalu bodoh, Jim. Harusnya kamu membunuh dia dan anaknya, bukan malah membiarkan anak itu lahir.” Sho-hyun murka. Wanita itu terus mengatakan jika Jimin sudah berubah, dan pemuda itu tidak lagi menyayanginya karena tidak mendengarkan perintah Sho-hyun. “Harusnya anak itu mati, Jim.”

__ADS_1


“Eomma, dia anak Jimin. Jimin nggak mungkin membunuhnya,” bela Jimin. Mendengar hal itu, Sho-hyun semakin murka dan melayangkan tamparan keras di wajah putranya. “Eomma, Jimin sayang sama Eomma.”


Jimin pergi meninggalkan Sho-hyun yang terus berteriak sembari memaki dirinya, wanita itu bahkan menjambak rambutnya sendiri sembari terus memaki Jimin yang sudah pergi dari rumah itu.


__ADS_2