
Hyuna tengah duduk bersama dengan para sahabatnya dan Taehyung di sebuah kursi yang ada di kantin kampus. Setelah lebih dari sebulan mereka nggak saling bertemu karena kesibukan masing-masing, akhirnya kini mereka bisa kembali duduk bersama.
“Na, lu laper apa kelaperan?” tanya Jimin saat melihat cara Hyuna menyantap makanannya, mirip seperti orang yang belum makan selama satu tahun.
“Diem, lu! Gue laper.” Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Hyuna, selebihnya gadis itu memilih kembali fokus menyantap makanannya.
“Hati-hati, By. Lu bisa kesedak kalau begitu,” peringkat Taehyung. Namun bukan Hyuna namanya jika langsung mengiyakan omongan orang.
“Tae, menurut lu kematian Jaehyun sebulan lalu ada hubungannya dengan Tae-hee atau cuma kebetulan?” tanya Jimin tiba-tiba. Pemuda itu memilih bertanya karena ia merasa ada yang aneh dengan kematian pemuda itu.
“Jelas ada.” Hyuna yang sedang menikmati makanannya seketika terbatuk saat mendengar ucapan Taehyung. “Astaga, Baby. Kan gue udah bilang hati-hati.” Taehyung menyodorkan satu gelas minuman dingin untuk meredakan batuk kekasihnya
“Sorry, tadi gue laper banget.”
“Hari kematian Jaehyun dan Tae-hee nggak beda jauh. Ditambah luka yang ada di tubuh Jaehyun. Sekarang coba lu pikir, kalau sosok yang membunuh Jaehyun itu tidak memiliki dendam padanya, mana mungkin dia sampai membuat tubuhnya hancur?” tanya Taehyung yang membuat Hyuna dan Jimin diam.
“Tapi kan tubuh Jaehyun ditemukan di bawah tebing, bisa aja kan wajah hancurnya itu karena ia sempat terkena batu tajam atau ranting pohon sebelum akhirnya jatuh.”
“Hal itu bisa saja terjadi, By. Tapi, dari sumber terpercaya yang gue nggak bisa sebutin siapa, dia meyakini bahwa Jaehyun tewas terbunuh. Karena banyak luka lebam, luka sayatan dan ada satu luka yang diakibatkan oleh sebuah benda yang sengaja dilempar ke wajah Jaehyun.” Taehyung menjelaskan semua yang ia ketahui kepada Jimin dan Hyuna. Pemuda itu tidak menutupi apa pun, karena memang pada dasarnya ia tidak berniat menutupi.
“Gila juga di pembunuh Jaehyun,” ucap Jimin.
“Biarin aja kali. Toh, dia emang pantas kan dapetin itu. Tae-hee pergi gara-gara dia, kalau ada orang baik yang mau balasin dendam Tae-hee, emang apa salahnya?” tanya Hyuna. Jimin dan Taehyung hanya mengerutkan keningnya, karena dari nada bicara gadis itu terlihat jelas, kalau gadis itu menyimpan dendam yang sangat besar pada Jaehyun.
“Iya juga, sih. Tapi gue penasaran siapa yang ngebunuh Jaehyun,” ucap Jimin. Pemuda itu menatap wajah Taehyung dan Hyuna secara bergantian seolah tengah meminta jawaban.
__ADS_1
“Tae-yaa.” Hyuna yang sedang menikmati minuman dinginnya seketika menyemburkan minuman tersebut saat mendengar ucapan Jungkook. Padahal pemuda itu sejak tadi diam, dan tidak terlihat tertarik dengan apa yang sedang Jimin bahas bersama dengan Hyuna dan Taehyung.
“Sumpah!” seru Jimin.
Jungkook hanya mengangguk. Pemuda itu kembali fokus dengan ponsel miliknya, dan mengabaikan sekitar. Jimin yang mencoba bertanya siapa sosok Tae-yaa yang di maksud Jungkook pun tidak mendapat jawaban. Sementara Hyuna hanya tertunduk, dalam hati gadis itu ketakutan kalau sampai Jungkook atau bahkan yang lainnya tau kebenarannya.
“Na, lu kenapa?” tanya Taehyung saat melihat kekasih hatinya hanya diam sejak beberapa menit yang lalu.
“Lu sawan ya,” celetuk Jungkook. Hyuna menatap Jungkook dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan dengan sebuah kalimat. Namun, tersirat banyak rahasia di sana.
“Gue nggak apa-apa. Dada gue agak sakit habis kesedak tadi,” ucap Hyuna sembari mengusap dadanya yang memang sedikit sakit.
Jimin terus saja diam. Sejak Jungkook mengucapkan nama itu, Jimin terus saja diam. Hyuna sudah mencoba menghiburnya tapi tidak berhasil.
“Ji, lu nggak balik ke kelas?” tanya Hyuna. Taehyung dan Jungkook sudah kembali ke kelas karena dosen pembimbing mereka sudah datang. Tapi, bukannya ikut masuk ke dalam kelas, Jimin malah terdiam di tempatnya.
“Tae-yaa.” Hyuna tertegun saat mendengar Jimin memanggil nama itu. Nama yang sudah sangat lama dilupakan karena dianggap sebagai nama sial. “Kim Tae-yaa.” Lagi dan lagi Jimin menyebutkan nama seseorang yang membuat Hyuna ingin menangis.
“Kita pergi dari sini,” ajak Hyuna. Gadis itu membawa sahabatnya masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil tersebut ke arah rumahnya.
***
“Tae-yaa.” Mata Jimin mengeluarkan air mata sangat banyak. Pemuda itu terus memanggil nama seseorang yang pernah ada di masa lalunya. “Tae-yaa!” seru Jimin.
“Jim, sadarlah. Nggak ada Tae-yaa di sini,” ucap Hyuna. Gadis itu mencoba untuk menyadarkan sahabatnya dari pikiran gilanya yang terus memanggil nama Tae-yaa.
__ADS_1
Melihat Jimin yang menangis tersedu, Hyuna pun ikut menangis juga. Gadis itu ingin mengatakan kalau Tae-yaa ada di hadapannya, tapi ia tidak bisa. Gadis itu terlalu egois dan takut kehilangan semuanya kalau sampai ia berkata jujur.
“Na, gue mau ketemu Tae-yaa. Gue harus bunuh dia, Na. Biar dia nggak gangguin hidup gue,” ucap Jimin. Pemuda itu memeluk tubuh Hyuna sembari terus berucap kalau ia ingin segera melenyapkan Tae-yaa.
“Elu boleh melenyapkan Tae-yaa, tapi elu harus mencari keberadaan dia lebih dulu.”
“Na, lu mau kan bantuin gue nyari dia. Gue mohon, Na.” Dengan air mata yang mengalir deras, Jimin memohon kepada satu-satunya orang untuk membantu dirinya mendapatkan apa yang dia cari.
“Jim, gimana caranya gue bantuin elu nyari dia?” tanya Hyuna.
Benar kata gadis itu, bagaimana caranya dia mencari seseorang yang ternyata adalah dirinya sendiri. Hyuna ingin sekali berteriak di depan wajah Jimin dan mengatakan bahwa dirinya adalah Tae-yaa dan dirinya jugalah orang, maksudnya vampir yang Jimin cari bersama saudaranya selama ini.
Tapi, gadis itu memilih untuk tetap diam. Dia tidak ingin mengatakan identitas aslinya pada Jimin, karena alasan takut. Kan nggak lucu kalau Hyuna habis ngaku, trus Jimin bunuh dia.
“Kita ke kerajaan,” ucap Jimin.
“No! Jangan gila, Jim.” Jimin diam mendengar bentakan Hyuna. Gadis itu segera mencari alasan yang tepat agar Jimin tidak membawanya ke kerajaan tempat mereka tinggal. “Jim, gue manusia biasa kalau lu lupa. Gue mungkin memang bisa berteman, bersahabat bahkan menjalin hubungan dengan salah satu dari kalian. Tapi, Jim, kalau kalian bisa menerima gue, belum tentu klan kalian bakalan nerima gue juga. Di sana terlalu berbahaya, di sana banyak makhluk seperti kalian yang mungkin lebih buas lagi dan siap menyantap gue kapan pun.”
“Gue tau, Na. Gue minta maaf,” sesal Jimin. Pemuda itu hanya ingin tau di mana keberadaan Tae-yaa agar bisa langsung membunuh gadis itu dan kehidupannya kembali normal lagi.
“Nggak apa-apa, Jim. Kalau lu butuh yang lain, gue bakalan berusaha buat bantuin.” Dalam hati Hyuna bernapas lega. Untung saja ia sempat ingat kalimat yang Jungkook ucapkan waktu dirinya minta dibawa ke kerajaan. “Terima kasih Jungkook,” Batin Hyuna.
“Gue ada satu permintaan lagi, bisa lu kabulin?” tanya Jimin.
“Apa itu?”
__ADS_1
“Akhiri hubungan lu dengan Taehyung.”