The Blood

The Blood
Bagian (21)


__ADS_3

“Jim, sebenarnya lu hari itu ke mana?” tanya Yoon Ki. Pemuda itu cukup kesal dengan sang adek. Pasalnya ketika di rumah Tae-hee dia pamit untuk pulang ke rumah, sementara waktu Yoon Ki dan Jungkook tiba di rumah, pemuda itu malah tidak ada. Kesal sekali rasanya Yoon Ki. Untung Jimin adek kandungnya, coba kalau dia anak tiri, udah ditenggelemin sama Yoon Ki di sumur belakang rumah author.


“Pulang lah, Hyung. Kan waktu itu gue bilang mau pulang ke rumah,” jawab Jimin.


“Masalahnya lu nggak ada di rumah pas Hyung sama Jungkook balik. Mampir ke mana lu?” tanya Yook Ki lagi.


“Nggak mampir ke mana-mana lho gue, Hyung. Hari itu gue langsung balik, trus tidur.” Pemuda itu bingung dengan apa yang dibicarakan Yoon Ki. Karena seingatnya begitu sampai di rumah, Jimin langsung masuk ke dalam kamar untuk merebahkan tubuhnya yang letih sembari menunggu makan malam. Lalu, kenapa Yoon Ki mengatakan tidak melihatnya?


“Lhah kok Hoseok bilang lu belum pulang? Pas Hyung cek ke kamar juga, lu nya nggak ada.”


Hoseok Hyung? Seingat Jimin ia pulang sendiri tidak bersama Hoseok hyungnya. Jimin menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal karena memikirkan perkataan Yoon Ki.


“Bagaimana mana bisa lu ketemu dia. Orang arah pulang kalian aja beda,” celetuk Taehyung. Yoon Ki dan Jimin yang tidak mengerti menatap Taehyung seolah tengah bertanya apa maksud dari ucapan pemuda itu. “Malam itu Jimin pulang ke rumah Appa, sementara Yoon Ki Hyung pulang ke rumah ini.”


Yoon Ki dan Jimin ber-oh ria. Pantas saja Yoon Ki tidak bisa menemukan Jimin di rumah, karena Jimin pergi ke rumah Appanya.


“Tapi, Jim. Kok lu tumben pergi ke rumah Appa?” tanya Taehyung. Jimin menjadi satu-satunya anak yang tidak pernah berkunjung ke rumah Appa mereka. Dan yang mereka ingat, terakhir kali Jimin pulang ke rumah Appanya sekitar empat tahun lalu. Itupun karena sang Appa jatuh sakit dan ingin bertemu Jimin.


“Gue kangen Eomma. Makanya gue pulang,” ucap Jimin. Pemuda itu tidak bohong, tapi juga tidak bicara fakta. Mengenai kangen dengan ibunya, memang benar tapi tujuan utamanya ke sana bukan karena rindu dengan sang ibu.


***


“Jim, sebenarnya ada yang ingin Hyung tanyakan padamu.” Namjoon duduk di sebelah Jimin, dan merangkul pundak sang adik. Jimin yang tengah duduk di depan televisi sambil bermain ponsel sedikit bingung dengan sikap Namjoon, ada sedikit curiga juga sebenarnya. Karena, biasanya Namjoon bersikap begitu kalau ada yang pemuda itu inginkan.

__ADS_1


“Tumben-tumbenan Hyung kayak gini. Ada apa?” tanya Jimin yang sedikit curiga dengan sikap Namjoon yang menurutnya aneh.


“Hyung boleh ambil Hyuna?” tanya Namjoon yang membuat Jimin mengerutkan keningnya. “Hyung lihat kalian berdua tidak saling suka, jadi Hyung pikir tidak ada salahnya Hyung maju untuk merebut Hyuna.”


“Tidak! bahkan dalam mimpimu sekalipun, Bangsat!” seru Jimin. Pemuda itu langsung mendorong tubuh besar Namjoon, membuat pemuda itu jatuh dari sofa.


“Calm down, Dude. Hyung hanya bercanda soal itu, nggak perlu ambil serius.” Namjoon bangun dari posisi jatuhnya tadi. Melihat reaksi Jimin, entah kenapa Namjoon senang. “Hyung, ingin bertanya padamu soal beberapa orang yang ditemukan tewas dengan tubuh mengering. Apa lu ada petunjuk? Atau orang yang lu curigai sebagai pelaku?” tanya Namjoon.


“Gue nggak tau, Hyung. Tapi menurut cerita yang gue denger, ada salah satu korban yang selamat. Dia mengatakan kalau ada seorang pria tua namun sangat tampan menemuinya dengan dalih meminta bantuan, setelah itu pria itu membawa gadis itu ke sebuah rumah kecil yang ada di dekat hutan. Di sana terdapat seorang wanita tua yang masih sangat cantik tengah duduk di sebuah kursi yang di kelilingi oleh beberapa pemuda tampan yang tidak memakai baju. Sudah, cuma itu yang gue tau.” Jimin mengakhiri ceritanya dengan sebuah gerakan penutup.


“Gantung banget cerita lu, Sat!” seru Seokjin. Pemuda itu juga tengah fokus mendengarkan cerita Jimin, tapi sialnya cerita itu malah berakhir begitu saja.


“Ya emang begitu ceritanya. Emang Hyung mau gue nambahin apa ke ceritanya biar seru,” timpal Jimin. Seokjin menggosokkan kedua telapak tangannya, rasanya tangan pemuda itu gatal sekali ingin rasanya ia mencekik leher adeknya sampai tewas.


“Kalau itu, dia bisa balik karena gue.”


“Kok bisa karena elu? Lu ngapain di sana?” tanya Namjoon.


“Jadi, hari itu adek Hyung yang tampan, penuh pesona dan dikagumi banyak wanita ini tengah patah hati karena ulah si anu. Nah, waktu itu gue pergi ke hutan buat refreshing sekalian nyari makan. Tapi, entah sial atau beruntung malam itu gue dapet serigala yang cukup besar. Kami bertarung cukup lama dan gue akhirnya gue menang, Yeay.”


“Gue nanya serius, Jim. Jangan sampai badan lu kepisah jadi dua gara-gara ini pedang,” ancam Namjoon.


Jimin yang melihat Namjoon membawa sebuah pedang berukuran besar langsung terdiam beberapa saat. “Sialan, dari mana dia dapet itu pedang sih?” batin Jimin.

__ADS_1


“Lanjutin nggak,” ancam Namjoon.


“Ya Tuhan, tolong selamatkan Jimin dari Hyung yang durhaka, durjana dan tidak berhati seperti mereka.” Batin Jimin. Meski dirinya susah mati dan menua tapi melihat pedang sebesar itu cukup membuat nyali Jimin menciut seketika.


Setelah menahan napas beberapa saat Jimin memilih untuk melanjutkan cerita, namun kali ini tidak diselingi dengan candaan. Takut juga dia kalau tiba-tiba Namjoon khilaf terus menggorok leher Jimin sampai putus.


“Malam itu terjadi pertarungan yang lumayan sengit antara gue sama itu serigala. Nah, itu serigala sempat mau gigit leher tapi gue pegang kepalanya trus gue lempar dia sampai jatuh menimpa kek gubuk gitu. Nah, di saat itu mereka tiba-tiba bubar dan gadis itupun selamat. Sekian, terima kasih sudah berkenan mendengarkan cerita Jimin.”


“Lu nggak bohong kan?” tanya Seokjin. Pemuda itu sudah benar-benar gemas dengan sang adek.


“Astaga, Hyung. Kejam kali Hyung nuduh adeknya bohong. Cerita itu nyata, Hyung. Real.”


“Lu sempet nggak lihat perempuan itu?” tanya Namjoon. Mendengar sang kakak menanyakan soal wanita itu entah kenapa Jimin seketika terdiam, membuat Namjoon mengulangi pertanyaannya.


“Nggak jelas juga. Orang pas tu gubuk hancur, mereka langsung pergi. Nasib baik gadis itu nggak penyet ketimpa serigala,” tutur Jimin.


“Ok, kalau gitu terima kasih ya Adek gue yang paling paling paling. Hyung mau kerja dulu,” pamit Namjoon. Pemuda itu sudah bersiap pergi, namun kalimat Jimin menghentikan langkahnya.


“Wanita itu seperti Eomma.” Jimin mendongakkan kepalanya ke arah Namjoon seolah tengah meminta sang kakak mengatakan kalau dirinya salah mengenali orang.


“Jangan terlalu dipikirkan. Wanita itu terlihat seperti Eomma, karena elu lagi. Lagi pula kan Eomma sudah meninggal, jadi mana mungkin itu Eomma.” Jimin mengangguk. Seokjin yang mendengar ucapan terakhir Jimin hanya bisa diam dan bersembunyi di balik tembok dapur.


Tadi, ia berpikir untuk membuat minuman segar karena yakin Jimin akan kehausan setelah bercerita. Namun saat ia hendak kembali ke meja, kalimat Jimin yang mengatakan jika sosok itu mirip ibu mereka, entah kenapa hati Seokjin jadi was-was.

__ADS_1


__ADS_2