The Blood

The Blood
Bagian (24)


__ADS_3

“Namjoon, balik sekarang!” Seru Seokjin. Pemuda itu langsung menghubungi sang adek yang tengah bertugas di luar kota, dan memintanya segera pulang detik itu juga. Seokjin tidak peduli bagaimana cara Namjoon pulang, yang penting adeknya harus sudah ada di rumah saat Seokjin menutup telfon.


“Ada apa, Hyung?” tanya Namjoon. Adek kedua dari enam bersaudara itu sudah beberapa kali bertanya pada sang kakak, alasan dia diminta untuk pulang secepatnya. Namun, pemuda itu tidak juga menjawab. Dia hanya meminta Namjoon untuk pulang, tak lupa Seokjin juga berpesan agar Namjoon memakai barang yang Seokjin berikan padanya beberapa hari yang lalu sebagai oleh-oleh di tangan kirinya sebagai tanda. Tanda apa yang dimaksud Seokjin, Namjoon pun tidak tau.


“Cepat lu balik sekarang, dan jangan lupa pesan Hyung.” Seokjin menutup sambungan telepon. Pemuda itu berjalan ke arah pintu ruang utama dan terkejut saat melihat Namjoon sudah ada di sofa ruang tamu.


Seokjin sejenak menghentikan langkahnya. Memang benar Seokjin meminta Namjoon untuk pulang secepatnya setelah ia menutup telepon, tapi jarak dari tempat Namjoon ke rumahnya butuh waktu sekitar satu jam dengan menaiki mobil. Sementara kalau Namjoon memilih untuk melesat, pemuda itu butuh waktu antara lima sampai sepuluh menit. Lalu, siapa yang ada di ruang tamu?


“Udah nyampek aja, Joon?” tanya Seokjin. Pemuda itu memilih untuk menyapa sang adek yang tengah duduk sembari bermain ponsel di ruang tamu.


“Kan Hyung yang minta supaya gue balik cepet,” ucap Namjoon tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


Seokjin meneliti tangan kiri Namjoon, dan pemuda itu terkejut saat tidak melihat gelang hitam yang ia berikan kepada Namjoon beberapa hari yang lalu. Melainkan sebuah jam dari salah satu merk ternama.


“Ada apa Hyung menyuruhku pulang cepat?” tanya Namjoon.


“Nggak ada apa-apa. Hyung hanya ingin berbincang santai denganmu. Kenapa? Ada yang salah?” tanya Seokjin. Tapi sosok Namjoon itu hanya menggeleng dan memilih memfokuskan diri pada ponselnya. “Joon, di mana Eomma?” tanya Seokjin tiba-tiba. Sosok Namjoon yang mendengar pertanyaan Seokjin seketika menghentikan acaranya bermain ponsel, dan memilih duduk tegap sembari menghadap Seokjin.


“Eomma sudah meninggal. Kan kita yang menguburkannya, masa Hyung lupa.”


Dengan cepat Seokjin langsung mencekik leher sosok Namjoon itu, dan membantingnya ke lantai.


“Lu, mungkin bisa mengelabuhi saudara gue yang lain. Tapi, jangan harap elu bisa mengelabuhi gue.” Seokjin langsung menyerang sosok itu dan mematahkan lehernya, membuat sosok itu terkapar di lantai yang dingin.


Namjoon yang baru saja tiba di rumah terkejut saat melihat Seokjin sedang menginjak wajah seseorang yang mirip, bahkan sangat mirip dengannya.


“Dia siapa, Hyung?” tanya Namjoon. Hal pertama yang Seokjin lihat adalah pergelangan tangan Namjoon sebelah kiri, di mana terdapat gelang berwarna hitam dengan liontin berbentuk bulan sabit.


“Hyung nggak yakin dia siapa, dan apa tujuannya. Tapi, sepertinya dia salah satu dari seseorang yang mendatangi Hyuna malam itu dan mengatakan jika Jimin dan Taehyung sedang bertengkar hebat.”

__ADS_1


“Maksud Hyung, dia yang menyamar sebagai Yoon Ki?” tanya Namjoon. Seokjin hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sebenarnya pemuda itu sudah curiga sejak kedatangan Hyuna beberapa hari yang lalu, tapi ia tidak bisa mengambil tindakan karena ia tidak tau siapa pelakunya. Makanya tadi dia sengaja menghubungi Namjoon dan memintanya pulang cepat dengan alasan ada hal penting yang ingin dia bicarakan, untuk memancing seseorang yang dia yakini punya niat buruk dengan seluruh saudaranya dan juga Hyuna.


“Hyung, jangan-jangan....”


Seokjin langsung memperingatkan sang adek untuk diam. Karena, tidak ada yang tahu tentang masalah ini kecuali mereka berdua, dan dari awal mereka sudah memutuskan untuk tidak menceritakan hal itu kepada siapapun.


“Sebaiknya kita juga berburu.” Setelah kejadian itu, Namjoon dan Seokjin pergi menyusul para saudaranya yang sedang berburu. Namjoon tidak kembali ke kantor, dengan alasan dia lelah dan sedang tidak mood bekerja.


Dari ketujuh bersaudara itu, hanya Yoon Ki yang punya budak darah. Seorang gadis bernama Shon-hye menjadi pilihannya sejak pertama mereka bertemu, dan alasan Yoon Ki menjadikan gadis itu sebagai budak darahnya karena Shon-hye berasal dari keluarga kaya yang tidak kekurangan sesuatu apa pun. Dan yang pasti, karena Shon-hye sudah jatuh hati pada Yoon Ki.


Yoon Ki memilih untuk mempunyai budak darah sekedar untuk berjaga-jaga saat dirinya tengah difase 5-L. Dan sebenarnya pemuda itu masih sering berburu dengan saudaranya yang lain.


Lalu, apakah Jimin dan yang lainnya tidak memiliki budak darah? Jawabannya tidak. Kenapa? Simpel saja, mereka lebih suka berburu dan bagi mereka melihat mangsa yang berlari ketakutan untuk menghindari mereka adalah sesuatu yang sangat menegangkan. Meski begitu mereka tidak pernah membunuh manusia, mereka hanya menghisap sedikit darah manusia kemudian menghilangkan ingatan mereka tentang apa yang baru saja mereka alami.


***


“Gimana?” tanya Hyuna. Gadis itu sudah lama tidak masak, jadi dia merasa sedikit ragu dengan hasil masakannya kali ini.


Yeonjun mengacungkan jempolnya dan berkata, “seperti biasa, masakan lu yang terbaik.”


Hyuna yang mendengar jawaban Yeonjun menjadi lega. Walaupun dia sudah lama tidak memasak, setidaknya skill yang diturunkan padanya tidak hilang.


“Na,” panggil Yeonjun. Gadis itu hanya bergumam sebagai jawaban. “Masakan lu kan enak, nih. Lu nggak ada niatan buat ngembangin skill lu atau gimana gitu?” tanya Yeonjun.


“Caranya?” tanya Hyuna.


“Jadi pembantu kek, atau apa gitu.” Yeonjun tetap melanjutkan makannya, pemuda itu seolah tidak peduli dengan perubahan wajah Hyuna.

__ADS_1


“Dari pada gue jadi pembantu, mending gue jadi istri lu aja, Jun. Gimana?” tawar Hyuna.


“Gue sih mau-mau aja, seneng banget malahan gue kalau elu mau sama gue. Tapi sayangnya, gue bukan Jimin, Na. Yang bisa ngasih apa pun yang lu mau dalam sekali kedip,” celetuk Yeonjun. “Oiya, Na. Ngomong-ngomong soal si Jimin, lu kapan kasih tau dia soal identitas lu yang asli?”


Suasana berubah menjadi hening. Hyuna tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Yeonjun, dan pemuda itu sendiri sudah cukup paham apa yang akan diucapkan oleh Hyuna.


Saat keduanya tengah diam. Tiba-tiba terdengar suara seperti barang jatuh dari teras rumah Hyuna. Mereka berdua langsung berlari, dan terkejut saat mendapati Jimin tengah terkapar di lantai.


“Jimin!” seru keduanya. Pemuda itu sudah terkapar di lantai dengan wajah yang penuh luka lebam, serta terdapat cakaran di lengan dan bagian tubuh yang lain.


“Apa yang terjadi padanya?” tanya Yeonjun. Hyuna hanya menggeleng, dan memutuskan untuk membawa Jimin masuk ke dalam rumahnya dengan bantuan Yeonjun.


Hyuna mengamati setiap luka Jimin, dan terkejut saat melihat ada luka tusukan di pinggangnya. Hyuna dan Yeonjun berasumsi kalau itu perbuatan vampir dari klan lain yang ingin berbuat jahat pada pemuda itu. Motifnya apa? Entahlah. Baik Hyuna maupun Yeonjun belum tau pasti apa motif dibalik penyerangan ini.


“Na, sebaiknya lu hubungi Jungkook atau saudaranya Jimin yang lain.” Yeonjun memberi saran untuk menghubungi saudara Jimin yang lain, karena pemuda itu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan bangun.


“Trus, gue ngomong apa?” tanya Hyuna. Gadis itu sudah kepalang panik, jadi otak pintarnya sedikit tidak berfungsi.


“Ya lu bilang kalau Jimin terluka, dan dia ada di rumah lu sekarang.”


Hyuna mengambil ponselnya berniat menghubungi Seokjin, atau Taehyung, atau siapapun yang bisa membantunya saat ini. Namun, gadis itu kembali memasukkan ponselnya saat pandangannya tertuju pada Yeonjun.


“Ada apa lagi?” tanya Yeonjun.


“Trus kalau mereka nanya lu ngapain di sini. Gue jawab apa?”


Yeonjun dan Hyuna terdiam. Tidak tau lagi harus mencari alasan seperti apa agar vampir-vampir itu tidak curiga karena Yeonjun ada di rumah Hyuna di tengah malam seperti saat ini. Selain itu, Hyuna juga mengatakan jika Seokjin bersama yang lainnya tengah berburu, jadi kecil kemungkinan mereka membawa ponsel.


“Lu pergi nyari Taehyung atau siapa pun, biar nanti gue yang jaga Jimin di sini. Urusan pertanyaan mereka tentang kenapa gue di sini, ntar aja kita pikirin.”

__ADS_1


Hyuna mengangguk setuju. Gadis itu langsung melesat pergi ke dalam hutan untuk mencari keberadaan Jungkook atau saudara Jimin yang lain, agar mereka bisa segera mengobati pemuda itu.


__ADS_2