
Woo Bin yang baru saja selesai dengan kegiatannya di kebun terkejut saat mendapati sang anak tengah duduk di kursi yang ada di teras rumahnya. Kepalanya tertunduk, samar isakan tangis terdengar di telinga pria tua itu, tubuhnya bergetar hebat seolah sedang menahan emosi yang cukup besar.
Woo Bin menghampiri anaknya. Pria itu menepuk pundak anak bungsunya. Menatap lekat pemuda yang terlihat sangat kacau. “Ada apa, Nak?” Pemuda itu tidak menjawab. Dia hanya memeluk tubuh pria yang sudah menjadi panutan nya selama dia hidup.
“Maafkan Jimin, Appa.” Woo Bin tidak lagi bertanya. Pria tua itu cukup tau apa yang sudah dialami oleh anaknya. Woo Bin hanya mengangguk sambil mengusap punggung anaknya, memberi kenyamanan agar anaknya bisa sedikit lebih tenang.
Lebih dari sepuluh menit Jimin menangis di pelukan appanya. Kini kedua pria itu tengah duduk di sofa ruang tamu rumah, agar bisa berbicara dengan nyaman.
“Nak, tidak ada yang benar-benar suci di dunia ini. Semua pasti pernah melakukan kesalahan, yang terpenting dari semua itu adalah tidak mengulangi kesalahan yang sama.”
Jimin masih menundukkan kepalanya. Pemuda itu ingin bercerita kepada sang appa, tapi bingung harus memulainya dari mana. Woo Bin mengambil segelas darah untuk sang anak.
“Appa. Apa Appa ingat pernah mengajak Jimin bertemu di gubuk tua yang ada di dekat danau?” tanya Jimin. Woo Bin yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala. Pria tua itu tidak pernah menghubungi anaknya, apalagi meminta bertemu di tempat kumuh seperti itu. Kalau memang pria itu ingin bertemu, biasanya ia memberi perintah kepada salah satu bawahannya, tapi sayangnya Jimin selalu menolak. Awal kepulangan Jimin hari itu saja membuat Woo Bin terkejut setengah mati. “Di sana Appa memberiku segelas darah. Appa bilang itu darah leluhur,” ucap Jimin.
“Nak, Appa memintamu datang ke rumah ini saja kau menolak. Dan lagi, bagaimana mungkin Appa meminta bertemu di tempat kumuh, sementara Appa tau dengan jelas kau benci tempat seperti itu.”
Jimin terdiam mendengar penuturan appanya. Tidak tau lagi harus mengatakan apa, karena jika berdasarkan jawaban Woo Bin itu artinya apa yang Seokjin katakan benar adanya. Tapi bagaimana mungkin? Sho-hyun selama ini dikenal baik.
“Nak, ada apa sebenarnya?”
“Jimin nggak tau harus memulai dari mana, tapi hari itu Appa menghubungi Jimin dan meminta bertemu. Appa bilang itu mendesak, dan kita harus segera bertemu. Makanya, Appa meminta bertemu di sana, bukan di rumah.”
Dari penjelasan awal anaknya, Woo Bin sudah bisa memastikan bahwa semua itu adalah perbuatan istrinya. Tapi, pria tua itu memilih diam. Ia ingin mendengar apa yang sudah terjadi, sampai membuat si bungsu yang terkenal dingin, bisa meneteskan air mata.
“Sejak hari itu Jimin merasa kesulitan mengendalikan diri Jimin, seolah ada sesuatu yang lain yang menggerakkan badan Jimin. Puncaknya hampir satu tahun yang lalu, Jimin dengan begitu keji memperkosa Tae-yaa.” Jimin kembali menangis saat mengingat bagaimana kejamnya ia memperkosa gadis yang ia cintai. Bagaimana teriakan kesakitan gadis itu, saat ia menghujam dan merenggut sesuatu yang sangat berharga bagi Tae-yaa.
__ADS_1
“Nak....”
“Tae-yaa baru saja melahirkan anak Jimin, Pa.” Jimin mengatur napasnya sejenak sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. “Dan dia koma sekarang.”
Woo Bin langsung memeluk tubuh anaknya. Pria tua itu tau betul bagaimana perasaan Jimin saat ini, tapi ia tidak bisa melakukan apa pun selain memeluk dan memberi kalimat penenang.
“Jimin bodoh, Pa. Jimin nggak pantas mendapatkan ampunan dari Tae-yaa maupun dari raja dan ratu. Jimin....”
“Setiap yang hidup berhak mendapatkan ampunan, Nak.” Jimin dan Woo Bin menoleh ke arah pintu. Di mana terdapat seorang pria tua yang sangat tampam dengan pakaian kebesaran miliknya, dan di belakangnya ada wanita tua yang masih terlihat sangat cantik tengah menatap Jimin dengan raut kesedihan.
“”Raja, Ratu.” Jimin bersujud di kaki keduanya sebagai tanda hormat, dan juga permintaan maaf karena ia sudah merusak putri tunggal mereka. Woo Bin membungkukkan badannya menyambut kedatangan sang adik bersama istrinya.
Ratu membantu Jimin berdiri, dan membersihkan tubuh pemuda itu. “Nak, Lukas sudah menceritakan semuanya pada kami. Kamu tidak perlu merasa menyesal, karena ini bukan kesalahanmu.”
“Panggil kami Abonim dan Eommanim, sama seperti dulu.”
Tae-ri memeluk tubuh Jimin. Bohong jika ia tidak marah pada pemuda itu, mengingat bagaimana kejamnya pemuda itu pada anaknya. Namun, ia memilih untuk memaafkannya karena ia tau pasti, Jimin melakukan itu di luar kendalinya.
“Terima kasih, Ra....”
“Hyung, jangan bersikap formal jika tidak dalam pertemuan.” Raja memeluk Hyung yang sangat ia sayangi. Satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki saat ini, karena orang tua mereka sudah meninggal di hari Jae Wook diangkat menjadi seorang Raja.
“Jae Wook benar, Oppa. Di luar pertemuan kamu tetap saudara suamiku,” ucap Tae-ri. Wanita itu masih setia memeluk tubuh Jimin, agar pemuda itu bisa kembali merasa tenang.
Mereka semua tersenyum bahagia saat mendengar Tae-yaa kesayangan mereka sudah melahirkan seorang bayi yang sangat cantik, tapi di sisi lain mereka sedih karena gadis itu tidak sadarkan diri. Jae Wook meminta Jimin untuk menjaga Tae-yaa dan Nami dengan baik, tapi pemuda itu menolak. Ia mengatakan kalau ia tidak pantas untuk kedua bidadari itu. Ia sudah berbuat hal yang sangat buruk dan kejam pada Tae-yaa, dan karena itu pula ia tidak pantas bersanding dengan Tae-yaa.
__ADS_1
Tiga orang tua yang ada di sana mencoba untuk meyakinkan Jimin, kalau ia tidak bersalah. Pemuda itu tidak sejahat itu. Semua terjadi karena ia berada dalam pengaruh Sho-hyun.
Saat mereka sedang sibuk berbincang tiba-tiba Jimin diam sembari menundukkan kepalanya. Woo Bin yang menyadari itu mencoba bertanya pada sang anak, tapi bukan jawaban yang ia dapatkan.
Jimin langsung mengarahkan tangannya ke leher Woo Bin. Pemuda itu mencekik leher sang appa dengan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya. Raja yang menyadari itu langsung menendang Jimin, agar pemuda itu menjauh dari kakaknya.
“Jimin!” seru Jae Wook.
“Oppa, apa kau baik-baik saja?” tanya Tae-ri sembari membantu Woo Bin menjauh dari Jimin.
“Pergilah,” pinta Jimin. Pemuda itu terus menerus menyerang Jae Wook dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Pemuda itu tidak berhenti mengucap maaf, dan meminta mereka pergi dari sana.
“Jimin, kendalikan dirimu.” Jimin berusaha sekuat tenaga menjauhkan tangannya dari orang-orang yang ada di sana, dan mengarahkannya pada lehernya sendiri.
“Jimin!” seru Hyuna yang baru saja datang bersama dengan saudara-saudara Jimin yang lain, dan juga Nami yang berada di gendongan gadis itu.
“Hyuna,” lirih Jimin. Air mata bahagia terpancar dengan sangat jelas di wajah keduanya. Namun, detik berikutnya Jimin melesat ke arah Hyuna dan ingin membunuh gadis itu dan Nami, tapi berhasil dihentikan oleh Taehyung. “Pergi dari sini, Na. Kalian....”
“Appa, tidak ada cara yang bisa kita pakai untuk menghentikan Jimin, kah?” tanya Seokjin.
“Cari Sho-hyun. Appa yakin dia ada di sekitar sini, karena sihirnya tidak akan bekerja jika ia tidak berada di dekat bonekanya.”
Hoseok mulai menyusun strategi. Ia memerintahkan Jungkook, Taehyug dan juga dirinya sendiri untuk menghentikan Jimin dengan mengikat pemuda itu untuk sementara waktu. Sementara Seokjin, Namjoon dan Yoon Ki akan pergi mencari Sho-hyun dan mencoba untuk berbicara baik-baik dengan wanita itu.
Setelah mengerti dengan tugas masing-masing, mereka mulai bergerak. Jungkook dan Taehyung memegangi tubuh Jimin yang masih terus menyakiti dirinya sendiri, sementara Yoon Ki langsung mengambil tali untuk mengikat adeknya.
__ADS_1